Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

HMS Illustrious (87)


Foto: fleetairarmarchive.net



Nama: HMS Illustrious (Illustrious Class fleet carrier) 
Dibangu Oleh: Vickers-Armstrong, di Barrow-in-Furness 
Laid down: 27 April 1937 
Diluncurkan: 5 April 1939 
Mulai Bertugas: 25 May 1940 
Status: Dibongkar pada 1956 


HMS Illustrious dibangun oleh Vickers-Armstrongs di Barrow-in-Furness dan mulai ditugaskan pada Mei 1940, kurang dari sebulan sebelum tenggelamnya HMS Glorious. Kapal induk ini merupakan kapal pertama dari empat kapal induk armada kelas Illustrious, yang kesemuanya memiliki hangar dan dek penerbangan berlapis baja. Lapis baja ini membuat kapasitas hangar berkurang tetapi memberinya kelebihan dalam hal proteksi menghadapi serangan bomber-tukik maupun kamikaze.

Pada Agustus 1940. “Lusty” bergabung dengan Armada Mediterania, dan skuadronnya dengan cepat memperoleh reputasi dalam hal efisiensi. Kejayaan kapal induk ini diperoleh pada malam hari 10-11 November 1940, ketika pesawat bomber-torpedo Swordfish menyerang armada Italia di Taranto, menenggelamkan satu battleship dan melumpuhkan dua lainnya. Pada Juni 1941, HMS Illustrious diserang oleh pesawat Axis ketika beroperasi di Sisilia. Kapal ini terhantam delapan kali, dengan sebuah bomb seberat 500kg menembus lapis bajanya dan meledak di dalam hangar. Kapal induk ini kemudian diperbaiki di Norfolk, Virginia, dan kembali ke Mediterania melalui Samudera India, di mana dia mendukung operasi pendaratan di Madagaskar. Setelah kembali ke Mediterania, kapal induk ini ikut ambil bagian dalam Operasi Husky (Invasi Sisilia), dan menerbangkan pesawat patrol di atas pantai Salerno.

Kapal induk ini menyelesaikan perang sebagai bagian dari Armada Pasifik Inggris yang baru dibentuk. Di kepulauan Okinawa, dek penerbangan berlapis bajanya membuktikan kelebihannya ketika serangan kamikaze gagal membuat kapal induk lumpuh. “Lusty” pada akhirnya dipensiunkan dan dibuang pada 1956.




SEJARAH 


Latar Belakang

Pada awal 1930an, menjadi jelas bahwa hanya ada sedikit dukungan internasional untuk perjanjian AL selanjutnya. Sebuah indikasi dari meningkatnya ketegangan internasional adalah dengan adanya pembatalan “Ten-Year Rule” oleh Inggris pada 1932. London Naval Treaty (1930) dianggap tidak berhasil dan London Naval Treaty Kedua (1936) yang telah ditandatangani, diabaikan oleh Jepang dan Italia.

Perjanjian baru dibuat dan membatasi kapal induk baru pada bobot maksimal 23.000 ton, dan perencana AL Inggris segera mulai membuat desain untuk kelas kapal induk baru berdasarkan desain dari Ark Royal yang pada saat itu sedang dalam pembangunan.

Pada 1936, Departemen AL Inggris memperkenalkan sebuah program pembangunan baru yang termasuk di dalamnya pembangunan dua kapal induk baru. Sea Lord Ketiga, Sir Reginald Henderson yang merupakan mantan komandan Kapal Induk Furious, menyadari bahwa ancaman terbesar dari kapal-kapal induk baru ini di perairan Eropa adalah dari pesawat dari darat. Selain itu, bagaimanapun juga, kapal induk harus cukup cepat untuk menghindar dari kapal permukaan musuh, sementara para kapal pengawalnya diharapkan mampu melindungi mereka dari kapal selam. Henderson mengharapkan, untuk mengatasi ancaman udara tersebut kapal induk harus dilindungi dengan baik melalui lapis baja yang dapat bertahan dari hantaman langsung bom seberat 500lb. Hasilnya adalah lahirnya kapal induk armada pertama di dunia yang berlapis baja. Pekerjaan untuk mendesain kapal baru ini diserahkan pada William Forbes, kepala desainer kapal induk AL.

Segala bentuk konstruksi AL selalu membutuhkan kompromi. Desain harus seimbang antara kecepatan, proteksi dan kapasitas pesawat. Level proteksi ekstra kapal induk baru ini, berarti mengorbankan salah satu dari dua elemen lainnya. Telah diputuskan bahwa lapis baja ekstra ini membuat kapal menjadi sangat berat, sehingga tidak seperti Ark Royal yang memiliki dua dek hangar, kapal induk ini hanya memiliki satu. Hal ini memperendah pusat gravitasi, tetapi juga mengurangi separuh kapasitas hangar, yang berarti kapal induk hanya mampu membawa pesawat dalam jumlah yang lebih sedikit. Ark Royal memiliki kapasitas 60 pesawat, sementara kapal induk baru ini terbatas pada 36 pesawat.

Fitur kunci dari kapal induk baru ini adalah ‘armoured box’ mereka. Dek penerbangannya dilindungi dengan 3in (75mm) lapis baja dan ‘box’ ini di sepanjang kapal, mencakup seluruh hangar. Bagian sisi kapal dilindungi oleh 4½in (112.5mm) lapis baja, serta bulkhead dengan ketebalan yang sama di depan dan di belakang. ‘Box’ ini kemudian bergabung dengan sabuk lapis baja yang melundungi bagian vital kapal induk, sistem propulsi, tangki bahan bakar dan magazine. Hangarnya sendiri memiliki panjang 458 kaki, lebar 62 kaki dan tinggi 16 kaki, dan dalam keadaan mendesak dapat memuat 30 pesawat bomber-torpedo Fairey Swordfish dan enam pesawat fighter atau bomber-tukik.

Titik kelemahan dari struktur kapal induk ini adalah pada elevator yang terletak padamasing-masing ujung dek penerbangan. Keduanya harus tetap tanpa lapis baja karena harus tetap ringan agar dapat beroperasi. Akan tetapi, dua layar lapis baja yang dapat bergerak dapat digeser selama diperlukan untuk melindungi hangar jika bomb menghantam lift. Cara cerdik digunakan di Pasifik dengan membuat gambar lift tiruan dengan cat di dek penerbangan untuk menipu pilot dan pembidik bom musuh.

Program 1936 menyebut kebutuhan dua kapal induk, tetapi konstruksinya tertunda, sementara Forbes tetap membuat spesifikasi untuk ‘armoured box’. Desain Forbes akhirnya disetujui pada Desember, dan dua kapal pertama dari kelas Illustrious –Illustrious dan Victorious- mulai dibangun pada musim semi 1937.



Konstruksi

Illustrious dibangun oleh Vickers-Armstrongs at Barrow-in-Furness, diluncurkan pada 1939, dan mulai dioperasikan pada 16 April 1940. Kapal induk ini memiliki bobot 28.000 ton dan mampu mengangkut 57 pesawat, termasuk sekitar 33 hingga 36 pesawat (tergantung tipe) di dalam hangar berlapis baja. Illustrious mengangkut lebih sedikit pesawat dibandingkan pendahulunya, Ark Royal dan kapal induk kelas Indomitable dan Implacable. Hangar berlapis baja berat membuat kapasitasnya menjadi lebih kecil dibandingkan Ark Royal, tetapi setelah round-down dek penerbangan dihilangkan selama refit dan mulai dipakainya deck park permanen, kapasitas angkut pesawatnya meningkat drastis.

Kapal induk ini memiliki nama panggilan “Lusty” yang diberi oleh para awak yang berdinas di dalamnya. Pada 24 Mei 1940, Illustrious menjalani uji coba tenaga penuh dan mencatatkan 113,700 shp pada 234.2 rpm. Kecepatan persisnya tidak tercatat tetapi diperkirakan kapal induk ini mampu mencapai 31 knots (57 km/j; 36 mpj) dengan kekuatan penuh.

Biaya pembangunan Illustrious adalah £3,800,000. Peralatan elektronik yang dipasang padanya bernilai £13,500, dan pesawat terbang yang dioperasikan pada 1939 bernilai £600,000.


Foto: fleetairarmarchive.net

Masa Dinas

Illustrious bergabung dengan armada pada Agustus 1940. Penugasan pertamanya di Laut Mediterania, di mana dia bertugas untuk memberikan payung udara, menyerang kapal-kapal Axis, dan menyerang posisi di Afrika Utara.

Pada 31 Agustus, Illustrious meluncurkan serangan pada lapangan udara di Maritza. Pada 11 November 1940, kapal induk ini menjadi kapal induk pertama di dunia yang melancarkan serangan besar kepada armada musuh dalam sebuah serangan berani terhadap armada Italia di Taranto. Dua puluh satu pesawat milik Skuadron Nomor 813, 815, 819 dan 824 dari kapal induk Illustrious menyerang armada Italia pada malam hari. Armada Italia lengah dan satu battleship tenggelam dan dua lainnya rusak parah.

Pada 10 Januari 1941, ketika sedang mengawal konvoi Operation Excess di timur Sisilia, Illustrious diserang oleh bomber Axis Savoia-Marchetti SM.79 dan Junker Ju 87. Kapal induk ini terhantam enam bom dan menderita kerusakan besar: ruang perawatan kesehatan dan bangsalnya hancur, dan di antara mereka yang gugur adalah pemain rugby W.G.E Luddington. Ketika dalam masa perbaikan di Malta, kapal induk ini kembali dibomb pada 16 dan 19 Januari, yang mengakibatkan kebocoran pada kompartemen hull luar dan beberapa kerusakan kecil lainnya, tetapi ruangan mesinnya tetap utuh. Pada 23 Januari, Illustrious berlayar ke Aleksandria, Mesir untuk perbaikan sementara dan tiba pada siang 25 Januari.

Illustrious diperbaiki di Aleksandria hingga 19 Maret 1941, kemudian berlayar ke Durban, Afrika selatan untuk masuk dok kering dalam rangka pemeriksaan kerusakan bawah air. Dia kemudian berlayar ke Virginia untuk perbaikan permanen dan refit substansial di Norfolk Navy Yard, tiba pada 12 Mei.

Di Norfolk, kerusakan diperbaiki, serta beberapa modifikasi dibuat. Modifikasi ini termasuk pemasangan elevator pesawat yang lebih baik, penambahan ruang dek penerbangan sepanjang 50 kaki (15m), penambahan sepuluh senapan anti-pesawat 20mm, dan modifikasi ketapel untuk pengoperasian pesawat buatan AS. Pengerjaan tersebut selesai pada Oktober. Illustrious kemudian menjalani ujicoba, yang berhasil diselesaikan pada Desember. Dia kemudian berlayar ke Inggris bersama dengan kapal induk sekelasnya, Formidable. Pada 16 Desember, dikarenakan kondisi cuaca yang ekstrim, kedua kapal tersebut bertabrakan yang mengakibatkan kerusakan serius pada keduanya.

Illustrious diperbaiki di Greenock hingga akhir Februari 1942. Pada 23 Maret, dia berlayar menuju Samudera Hindia.

Pada Mei 1942, Illustrious dan sister ship-nya, Indomitable memberikan payung udara untuk Operation Ironclad, pendaratan di Madagaskar. Dia kemudian ditugaskan ke Armada Timur Jauh. Dari Juni hingga Agustus 1942, Illustrious bersama Armada Timur Jauh bertempur menghadapi pasukan Jepang, termasuk dalam Operasi Stab pada Agustus.

Pada September 1942, Illustrious kembali ke Madagaskar untuk Operasi Stream, yang menuntaskan pendudukan Sekutu. Dia kemudian berlayar ke Durban untuk refit singkat dan kembali bergabung dengan Armada Timur Jauh pada Desember.

Akan tetapi tak lama kemudian, dia ditarik ke Inggris pada 5 Januari 1943. Dari Maret hingga Mei 1943, Illustrious menjalani refit di Birkenhead. Dek penerbangan diperpanjang lebih lanjut, radar baru dipasang, senapan anti-pesawat 20mm tunggal diganti dengan ganda, dan dua kabel penangkap pesawat baru dipasang.

Setelah uji coba, Illustrious bergabung dengan Force A yang merupakan bagian dari Home Fleet pada Juli 1943 untuk Operation Governor. Operation Governor bertujuan untuk memancing battlesip Jerman, Tirpitz, dan heavy cruiser lain keluar untuk bertempur, dengan melakukan serangan lemah di Pantai Norwegia Selatan. Pada September, Illustrious dipindahkan ke Forde H di Mediterania, untuk memberikan payung udara bagi pendaratan di Salerno (Operation Avalanche).

Illustrious kemudian kembali ke Inggris untuk refit singkat, termasuk penambahan senapan anti-pesawat 20 mm ganda dan upgrade ketapel. Illustrious ditugaskan untuk kembali bergabung dengan Armada Timur Jauh; dia meninggalkan Inggris pada 30 Desember 1943, dan tiba di Trincomalee, Ceylon pada 31 Januari.

Dari Februari hingga Agustus 1944, dia beroperasi dengan Armada Timur Jauh, dan berpartisipasi dalam berbagai penyerangan, termasuk penyerangan ke kepulauan Indonesia. Sabang pada 19 April 1944 dan 22 Juli 1944, dan Surabaya pada 17 Mei 1944. Dia juga menyerang Port Blaid di kepulauan Andaman pada 22 Juni 1944 dan membawa 57 pesawat pada operasi ini. Pada suatu saat, dia menerbangkan 51 dari 57 pesawatnya, termasuk 15 Barracuda dan 23 Corsair selama penyerangan Port Blair.

Serangan Air-Arm Illustrious di Palembang  (Foto: fleetairarmarchive.net)

  

Pada September dan Oktober 1944, Illustrious menjalani refit di Simon’s Town, Afrika Selatan. Dia kembali bergabung dengan Armada Timur Jauh pada November dan melakukan beberapa serangan. Pada 16 Desember Illustrious ditugaskan untuk bergabung dengan Armada Pasifik Inggris yang baru dibentuk, dan berlayar ke Australia. Dalam perjalanan, dia menyerang Palembang pada 24 dan 29 Januari 1945. Dia tiba di Sydney pada 9 Februari. Di Sydney, batang baling-baling tengahnya dilepas karena rusak, yang mengakibatkan kecepatan maksmumnya turun menjadi 24 knots (44km/j; 28mpj).

Pada 4 Maret, dia berlayar bersama Armada Pasifik lainnya ke Kepulauan Manus, dan pada 19 Maret ke Ulithi. Illustrious dan sister ship-nya, Indomitable dan Victorious, bersama Indefatigable bergabung dengan Armada pasifik AS, dengan nama Task Force 57 (TF 57).

Dari 26 Maret hingga 9 April, TF 57 memberikan dukungan udara bagi invasi Okinawa (Operation Iceberg), memenangkan battle honour terakhir. Pada 6 April, Illustrious mengalami kerusakan bawah air serius akibat serangan kamikaze. Pada 9 April, Illustrious berpencar untuk melakukan penyerangan terhadap Formosa, tetapi pada 14 April dia digantikan oleh Formidable, dan dikirim ke Filipina untuk inspeksi.

Kerusakannya ternyata lebih serius daripada yang diperkirakan, dan dia kembali ke Sydney dan kemudian ke Rosyth untuk perbaikan dan refit, yang selesai pada Juni 1946.

Setelah perang, dia mendapatkan peran sebagai kapal latih dan ujicoba, dan dia terus mengalami masalah pada getaran yang sebagian diatasi dengan adanya desain propeller baru. Pada 1946, dia dipasangi dengan propeller lima-bilah pada batang tengahnya.

Dia menjalani refit dan modernisasi pada Januari hingga Agustus 1948, dan berhasil mencapai kecepatan 29 knots (54 km/j; 33 mpj) pada ujicoba dengan 110.600 shp pada 227,5 rpm. Pada 1950, dalam ujicoba kekuatan penuh, dia mencapai kecepatan 29,2 knots (54.1 km/j; 33,6 mpj) dengan 111.480 shp pada 225,1 rpm. Pada 1953 she dia menjadi bagian dari Fleet Review untuk merayakan Pemahkotaan Queen Elizabeth II. Illustrious dipensiunkan pada akhir 1954, dijual pada 3 Desember 1956, dan pada akhirnya dibongkar di Faslane. 




DESAIN

Gambar: New Vanguard 168, British Aircraft Carriers 1939-1945

Keterangan:
1. Quarterdeck
2. Safety net
3. Aircraft lift
4. Balance weight trunks
5. 4.5in HA/LA twin mountings (8)
6. Flight deck
7. Arresting wires
8. Transmitting masts (raised)
9. 7 ton seaplane and boat crane
10. Deck for 32ft cutter (not shown)
11. Wardroom
12. Pom-pom directors
13. Hanger deck
14. Aircraft stowed positions
15. Stores
16. Engine room supply vents (4)
17. Type 27 IFF interrogator aerial
18. Type 79 air warning radar (replaced by Type 281 in December 1940)
19. Thermograph
20. Type 72 DM apparatus screen
21. D deck
22. C deck
23. B deck
24. Signal house top
25. A deck
26. Assisted take-off gear
27. Aircraft lift
28. Direction lights
29. Windscreen
30. PO recreation space
31. Crew recreation space
32. CPO recreation space
33. Mess
34. 44in searchlight projector
35. Upper gallery deck
36. Lower gallery deck
37. Upper deck
38. Main deck
39. Lower deck
40. Platform deck
41. Hold
42. Multiple Mk VI 2pdr pom-pom mountings (6)
43. Bomb lift
44. Mess
45. Bilge keel
46. Petrol tank
47. Boiler (6)
48. Boiler uptake
49. Boiler room vent
50. Oil fuel tanks
51. Engine room (3)
52. 27ft whaler (stowed)
53. HA direction tower
54. 32ft cutter (stowed)
55. Officers’ cabins
56. Squadron leader’s cabin
57. 44in searchlight
58. Propeller (3)
59. Single rudder




SPESIFIKASI 

Struktur
Muatan Standar: 23.000 ton
Muatan Penuh: 28.661 ton
Panjang: 743ft 9in
Beam: 95ft 9in;
Draught: 24ft

Komplemen: 1.229 awak
900 officer
250 air group

Proteksi Lapis Baja
Dek Penerbangan: 3in
Hangar dan sabuk: 4½in

Performa
Tiga turbin Parsons dan enam pendidih Admiralty, menghasilkan 111.000 steam horsepower.
Kecepatan: 30½knots
Kapasitas Bahan Bakar: 4,850 tons

Persenjataan
5 x 8 x 2pdr "pom-pom" AA
3 x 1 x 40mm Bofors AA
19 x 2 x 20mm Oerlikon AA
14 x1 x 20mm Oerlikon AA

Air Arms
1940: 33 pesawat: Fulmars dan Swordfish
September 1942: 21 Martlet, 6 Fulmar, dan 18 Swordfish
Juli 1943: 28 Martlet dan 18 Avenger
Januari 1944: 24 Corsair dan 21 Barracuda
Mei 1944: 24 Corsair dan 18 Avenger
Juni 1944: 42 Corsair dan 15 Barracuda
November 1944: 36 Corsair dan 15 Avenger




SUMBER

Konstam, Angus. 2010. New Vanguard 168: British Aircraft Carriers1939-45. Osprey Publishing.
Fontenoy, Paul. 2006. Weapon and Warfare Series, Aircraft Carriers: An Illustrated History of Their Impact. ABC-CLIO.

Selasa, 01 Mei 2012

Challenger 2

Challenger 2 (Foto: www.enemyforces.net)


Challenger 2 tank pertama AD Inggris setelah Perang Dunia II yang didesain, dikembangkan dan diproduksi oleh kontraktor utama tunggal, Vickers Defence Systems, dengan sasaran reliabilitas tertuang dalam kontrak harga tetap. Challenger 2 didesain dan diproduksi pada kedua pabrik Vickers yaitu di Barnbow Leeds dan Scottswood Newcastle.

Bagian hull dan otomotif Challenger 2 berdasarkan pendahulunya Challenger 1, tetapi Challenger 2 memiliki lebih dari 150 peningkatan yang bertujuan untuk meningkatkan reliabilitas dan maintainabilitas. Turret milik Challenger 2 merupakan desain yang benar-benar baru. Lapis bajanya merupakan versi yang lebih baik dari lapis baja Chobham milik Challenger 1. Challenger 2 adalah tank dengan perlindungan terbaik milik negara-negara NATO karena memiliki plating lapis baja Chobham generasi kedua. Sistem NBC tank ini mampu menghadapi semua jenis ancaman yang sudah diketahui. Untuk pertama kalinya, dalam sejarah tank Inggris, kompartemen awaknya memiliki sistem pendingin dan penghangat ruangan.

Persenjataan utamanya terdiri dari meriam tank rifled 120mm Royal Ordnance yang bernama L30. Tank ini juga memiliki sistem chain gun 7.62mm dari McDonnell Douglas Helicopter Systems, yang sebelumnya juga sudah dipakai oleh AD Inggris pada mechanized combat vehicle GKN Defence Warrior, dan sebuah senapan mesin anti-pesawat 7.62 mm. Sistem kontrol penembakan milik Challenger 2 merupakan teknologi komputer digital generasi terbaru dari Computing Devices Company (CDC), Kanada dan sistem ini merupakan yang ditingkatkan dari yang digunakan oleh tank M1A1 Abrams milik AS. Tank ini juga memiliki “kemampuan berkembang” untuk perkembangan masa depan seperti Battlefield Information Control System dan bantuan navigasi. Challenger 2 membawa empat awak dan memiliki bobot tempur 62.5 ton. Tank ini memiliki kecepatan jalanan 56 km/jam dengan jarak lintas alam 250 km dan 450 km di jalan raya.




SEJARAH DAN PENGEMBANGAN 


Seperti yang sudah ulas sebelumnya pada artikel [Challenger 1], pengembangan Challenger 2 dilakukan dengan adanya program penggantian Chieftain. Dalam prosesnya VDS harus bersaing dengan tiga MBT asing, M1 Abrams, Leopard 2 dan Leclerc.



Purwarupa Challenger 2

Vickers Defence Systems mulai bekerja untuk pengembangan Challenger 2 pada November 1986 sebagai sebuah private venture dan tidak lama kemudian pada Maret 1987, mereka membuat presentasu pertamanya di dpan Menteri Pertahanan Inggris. Pada Februari 1988, Vickers mengirimkan proposal resmi berhubungan dengan tank baru kepada Kementrian Pertahanan setelah mengetahui kebutuhan staff AD. Pada Desember 1988 diumumkan bahwa Vickers Defence Systems mendapatkan kontrak senilai £90 juta untuk menjalani fase demonstrasi (yang juga dikenal dengan proof of principle phase) yang berakhir pada September 1990.


Purwarupa Challenger 2 (foto: wikipedia.org)


Sembilan purwarupa dibuat di Barnbow Works, Leeds. Kesemuanya diselesaikan pada 30 September 1990, sesuai jadwal dan anggaran untuk fase kompetitif dari program penggantian Chieftain. Fase ini berjalan dari Oktober hingga akhir tahun 1990, ketika pemenangnya akan diumumkan. Selama periode ini, VDS akan menerima sebuah 'bridging contract' dari Kementrian Pertahanan Inggris untuk pengembangan dan produksi penuh pada Januari 1991 jika Challenger 2 memenangkan kompetisi. Dalam kompetisi tersebut bukanlah perbandingan antara keempat tank untuk disebut sebagai yang “terbaik”, tetapi untuk mengidentifikasi manakah yang secara keseluruhan memenuhi kebutuhan dari AD Inggris –SR(L)4026. Setiap kandidat akan diujicoba oleh tim khusus yang terpisah dari personel AD Inggris bersama dengan awak berpengalaman dari setiap perusahaan kandidat. Tidak ada team yang memiliki perbedaan untuk menjamin keadilan dan keseksamaan. Fase komparatif ini akhirnya tidak dilaksanakan pada 1990 setelah terjadinya invasi Irak ke Kuwait pada 2 Agustus 1990. Seluruh sumberdaya VDS kemudian dicurahkan untuk mendukung armada Challenger dan 7th Armoured Brigade yang diterjunkan ke Arab Saudi sebagai bagian dari Operation Granby. Operasi ini memiliki dua resimen lapis baja yang dilengkapi dengan Challenger dan satu batalyon infantri lapis baja yang dilengkapi dengan IFV Warrior. Pada 22 November, 4th Armoured Brigade mulai diterjunkan ke Teluk yang membentuk 1st (UK) Armoured Division dengan total 221 Challenger. Berbagai modifikasi dirancang untuk tank demi meningkatkan reliabilitas dan survabilitas tank. Pada 1 Oktober 1990, 160 “Challenger improvement kits” yang dikembangkan oleh VDS dikirim ke pelabuhan Al Jubail di Saudi Arabia. Setelah Challenger sampai di lokasi, mereka dimodifikasi oleh teknisi REME dan tim support engineering dari VDS, “sukarelawan Vickers”, demikian juga tim dari Barr and Stroud, David Brown, Marconi, Perkins dll. Melalui usaha tanpa henti dan dedikasi dari awak tank, 174 dari 176 Challenger mulai bertempur –Operation Desert Sabre; dua tank lainnya bertabrakan dan merusakkan meriam mereka. Tank sisanya dipertahankan di War Maintenance Reserve. Sebagai tambahan, 12 Challenger Armoured Repair and Recovery Vehicles (CRARRV) diterjunkan ke Teluk, langsung dari Armstrong Works factory di Newcastle, tujuh bulan lebih awal dari rencana pengoperasian awal dengan AD Inggris. CRARRV terbukti sangat efektif dan mencapai 100 persen tingkat availabilitas selama land offensive. Lebih dari 300 AFV musuh dihancurkan oleh Challenger tetapi tidak ada satupun Challenger yang berhasil dihancurkan musuh selama Operation Desert Sabre.

Challenger selama Perang Teluk (foto: www.deagel.com)


Dalam laporan perang, House of Commons Defence Committee menyatakan: “The tank was the decisive battle winner of the land forces campaign and the British Challenger force in the 1st (UK) Armoured Division made an important contribution to this success.” Dalam rangka merespon sebuah pertanyaan, pada 19 Maret 1991 di House of Commons, Perdana Menteri JohnMajor menyatakan: “The Challenger tank performed absolutely magnificently in the Gulf- far above the expectations that anyone could have had of it.” Akan tetapi, kendati banyaknya pujian dan dukungan terhadap Challenger, keputusan pengganti Chieftain masih harus dibuat. Situasi diperparah dengan runtuhnya Tembok Berlin dan jatuhnya otoritas Uni Soviet di antara negara-negara Eropa Timur yang membentuk Pakta Warsawa. Pengganti Chieftain masih tetap menjadi tanda tanya walaupun sukses Challenger yang tak diragukan lagi selama Perang Teluk.

Walaupun penggantian Chieftain merupakan “proyek inti” dan Treasury memiliki otoritas untuk memberikan dana penuh, ternyata masih terjadi debat dalam hal jumlah yang dibutuhkan oleh AD Inggris menyusul Strategic Defence Review.

Evaluasi komparatif dari empat kandidat dilaksanakan sesuai jadwal pada musim semi 1991. Keempatnya memiliki keunggulan masing-masing pada satu aspek dibandingkan yang lainnya, tetapi Leclerc dieliminasi karena Royal Armoured Corp tidak terlalu percaya pada sistem pengisian amunisi otomatisnya, dan juga dengan jumlah awak yang hanya tiga. Tiga kandidat lainnya memenuhi kebutuhan dari SR(L)4026.

Di dalam AD Inggris, terutama Royal Armoured Corps, terdapat faksi penting yang mendukung bahwa engineering Jerman lebih unggul dibandingkan dengan yang lain. Hal ini dianggap sebagai “Sindrom BMW” yang dapat membentuk opini untuk memfavoritkan Leopard 2 (improved). Walaupun Challenger 2 dianggap memiliki tingkat survivabilitas dan banyak atribut lain yang lebih baik, Leopard 2 (Improved) dianggap lebih hemat karena membutuhkan “whole lie costs” keseluruhan yang lebih rendah, suatu hal yang menjadi perhatian utama Treasury. Faksi lainnya, mendukung M1A2 Abrams. Oleh karena itu, Defence Procurement Agency menyerahkan hal ini kepada Pemerintah.



Pemilihan Challenger 2

Keputusan final sebagai pengganti Chieftain kemudian berada di Kabinet. Terdapat sejumlah aspek yang harus dipertimbangkan. Yang pertama dan utama adalah jumlah tank yang akan diakuisisi setelah adanya Strategic Defence Review. Hal ini diperburuk dengan adanya kekurangan finansial pada 1991 Long Term Costings milik Kementrian Pertahanan untuk pengadaan peralatan, dan hal ini menyebabkan pertimbangan untuk pengurangan jumlah tank baru yang terjangkau dalam waktu relatif singkat. Hal tersebut menghalangi penggantian armada Chieftain dan Challenger. AS dan Jerman kecewa dengan perubahan kondisi ini, walaupun kebutuhan awalnya memang untuk penggantian armada Chieftain untuk beroperasi bersama Challenger dan situasi geopolitik strategis baru setelah runtuhnya Tirai Besi adalah keadaaan yang tak terduga. Oleh karena itu, argumen untuk interoperabilitas dari persenjataan utama smoothbore dengan partner NATO milik Inggris menjadi tidak valid lagi tanpa adanya penggantian armada secara keseluruhan. Menteri Pertahanan menyimpulkan bahwa konstribusi operasional Inggris terhadap ARRC (NATO Allied Rapid Reaction Corps) akan menjadi lebih kuat dengan mempertahankan interoperabilitas antara Challenger dengan tank baru, karena tujuan awalnya memang untuk mengganti persenjataan Challenger dengan meriam tekanan-tinggi 120mm L30. Inilah yang menjadi faktor kunci keputusan akhir pemilihan tank.

Terdapat juga maksud finansial dalam pengadaan tank yang lebih sedikit, terutama jika tank asing. Dengan jumlah di bawah 500 tank, produksi bersama menjadi lebih sukar dilaksanakan. Untuk Leopard 2, Krauss-Maffei diperkirakan akan memproduksi lebih dari 60 persen tank secara lokal sebelum unit cost meningkat secara signifikan. Tetapi AD Swiss menyarankan sebaliknya. Dengan total pengadaan sebanyak 380 Leopard 2A4, 345 dibuat di bawah lisensi di Swiss, tetapi dibutuhkan waktu dua tahun untuk negoisasi kontrak terpisah dengan setiap subkontraktor sebelum produksi dimulai, yang pada akhirnya meningkatkan unit cost setidaknya 25 persen di atas harga asli, sehingga menunda waktu awal pengoperasian dengan AD Swiss. Tak pelak, hal ini akan memicu berkurangnya lapangan kerja pada industri manufacturing tank Inggris dengan banyak subkonstruktor tersebar di seluruh negeri. Pemerintahan yang Konservatif sangat khawatir dengan hilangnya puluhan ribu pekerjaan pada bidang industri manufacturing di bagian Utara terutama di Tyneside. Akhirnya, kesempatan untuk menjual tank Inggris ke pasar internasional akan hilang selamanya, walaupun faktanya tidak ada negara lain yang membeli Challenger.



Politik Pengadaan Pertahanan

Semua program pengadaan persenjataan utama memiliki dimensi politik yang signifikan; dengan anggaran lebih dari £2 miliar, tak terkecuali program penggantian Chieftain. Setelah kegagalan program pesawat Nimrod Airborne Early Warning (AEW) yang membuang miliaran pound, pemerintah Inggris berupaya untuk menghindari terulangnya kegagalan dengan cara kompetisi terbuka. Tanggung jawab utama pemerintah adalah untuk melaksanakan pengadaan peralatan militer dengan dana minimum bagi pembayar pajak. Meskipun demikian performa luar biasa Challenger selama operasi pembebasan Kuwait tidak dapat diabaikan. Apalagi, Perang Teluk dianggap sebagai pembuktian filosofi desain tank Inggris yang mana mengutamakan proteksi lapis baja berat bagi awak dan daya tembak yang sangat besar untuk manyerang dan menghancurkan AFV musuh pada jarak jauh. Meskipun demikian, pada kandidat juga menunjukkan karakteristik serupa.

Cabinet subcommittee yang bertugas untuk membuat keputusan final dibentuk. Subkomite ini beranggotakan

Perdana Menteri, John Major; Defence Secretary,Tom King; Foreign Secretary, Douglas Hurd dan Trade and Industry Secretary, Michael Heseltine. Awalnya, Perdana Menteri mempertanyakan kebutuhan MBT baru dengan pertimbangan adanya perubahan geopolitik di Eropa Timur dan tekanan masyarakat atas pengeluaran negera dengan adanya kegagalan memalukan pada pengadaan pertahanan sebelumnya yang disoroti oleh National Audit Office. Defence Secretary menganggap bahwa tidak ada alasan pertahanan signifikan untuk memberikan rekomendasi. Foreign Secretary memilih netral tetapi menyatakan bahwa jika ekspor Challenger 2 dilaksanakan ke negara Timur Tengah, maka akan memberikan keuntungan kebijakan politik luar negeri. Hanya Michael Heseltine, Trade and Industry Secretary memberikan pandangan kuat bahwa tank dalam negeri memperkuat politik dalam negeri seperti halnya pengembangan senjata nuklir. Lebih lanjut, pembelian tank asing mengindikasikan kurangnya kepercayaan Pemerintah pada kemampuan engineering nasional yang akan mengirimkan sinyal negatif kepada mitra perdagangan asing yang akan ikut meragukan kualitas engineering pertahanan maupun engineering nasional pada umumnya. Dia juga menekankan akibat jika Challenger 2 ditolak, yaitu meningkatnya jumlah pengangguran di Inggris bagian utara.

Challenger 2 (foto: uwnetwork.wordpress.com)

Setelah pertimbangan itu, Perdana Menteri memilih Challenger 2 dan didukung oleh semua anggota committee lainnya, dengan ketentuan VDS akan mendapatkan kontrak yang ketat syarat dan ketentuannya. Pada 21 Juni 1991, Defence Procurement Minister, Alan Clark, mengumumkan keputusan pemerintah untuk memilih Challenger 2 sebagai pengganti Chieftain di House of Commons. Hanya tujuh hari berselang, Jumat 28 Juni 1991, sebuah kontrak ditandatangani antara Kementrian Pertahanan dengan VDS untuk pengembangan Challenger 2 berikut produksi 127 tank untuk memenuhi kebutuhan SR(L)4026. Batch pertama dari 127 adalah untuk memperlengkapi resimen lapis baja 4th dan 7th Armoured Brigades, dengan sisa tank akan digunakan untuk pelatihan. In-Service Date (ISD) direncanakan pada akhir 1993. Sebagai tambahan, 13 Driver Training Tank dipesan dengan pengiriman pertama dijadwalkan pada 1993.

Kontrak harga tetap senilai £5,520 miliar bertujuan untuk program pengembangan. Kontrak ini menempatkan tanggung jawab kepada VDS sebagai kontraktor utama untuk semua aspek program Challenger 2 ini, termasuk peralatan pelatihan, first-line spares, dan paket pendukung logistik komprehensif termasuk fielding AD Inggris. Sebagai tambahan, dalam kontrak tersebut terdapat ketentuan-ketentuan yang sangat ketat berhubungan dengan pencapaian pada level tertentu dalam hal reliabilitas, yang untuk ini 37 persen pembayaran terikat.

127 Challenger 2 yang pertama dilengkapi dengan amunisi CHARM 1, sementara untuk tank selanjutnya dilengkapi dengan amunisi CHARM 3 yang direncanakan pada 1996 setelah ujicoba. Pemesanan selanjutnya diperkirakan berjumlah 200 Challenger 2.


Purwarupa Challenger 2 (foto: pbase.com)



Challenger 2 Trials and Tribulation

Kontrak program Challenger 2 kemudian ditandatangani antara VDS dengan lebih dari 250 subkontraktor dan suplier yang tersebar di seluruh Inggris dan negara lain, untuk meningkatkan kualitas desain Challenger 2 dan mengijinkan produksi dapat segera dimulai. Pada saat yang sama, fase ujicoba dan pengembangan purwarupa Challenger 2 juga berlanjut di Armoured Trials and Development Unit (ATDU) di Bovington Camp, Dorset, markas Royal Armoured Corps. Ujicoba ini dibagi menjadi dua, yaitu: 'reliability growth trials' dan 'user trials' dengan menggunakan kombinasi dari service personal manning yang didukung oleh teknisi VDS. Sembilan purwarupa dipesan untuk dibuat. Prototype V1 (06SP87) adalah purwarupa ujicoba umum untuk performa environmental dan aspek lainnya. Purwarupa ini kemudian diambil kembali dari Kementrian Pertahanan oleh VDS dan menjadi model dasar untuk Project Copenhagen, modifikasi dari Challenger 2 untuk Oman. Prototypes V2 (06SP88), V3 (06SP89) dan V4 (06SP90) merupakan purwarupa reliability growth and proving, dan melakukan sebagian besar mileage otomotif. Prototypes V5 (06SP91) dan V8 (06SP94) merupakan purwarupa untuk user trials. Prototypes V6 (06SP92) dan V7 (06SP93) merupakan purwarupa untuk pengujian penembakan dan sistem persenjataan.

Prototype V9 (06SP95) merupakan purwarupa untuk standar akhir. Purwarupa ini digunakan untuk tujuan penjualan dan kadang tampil dalam pameran militer. Purwarupa ini juga menjadi dasar Project. Purwarupa ini dilengkapi dengan turret produksi No. 2, sehingga turret selanjutnya dibuat setelah akhir produksi. Dua turret selanjutnya dibuat: TA1 untuk rig testing dari sistem persenjataan dan TG9 sebagai “armour-at turret”.

User Trials untuk V5 dan V8 dilaksanakan antara September 1993 dan Februari 1994. Tujuan dari ujicoba ini adalah untuk menetapkan apakah Challenger 2 benar-benar memenuhi performa yang disebutkan dalam SR(L)4026 di tangan personel RAG dan juga untuk memberikan ervis pendukung logistik, seperti Royal Electrical and Mechanical Engineers (REME), meningkatkan pengalaman MBT baru untuk membantu persiapan drills, teknik pelatihan dan publikasi yang dibutuhkan sebelum tank resmi beroperasi. Kabanyakan ujicoba dilaksanakan di Bovington dan Lulworth untuk pengujian otomotif dan uji penembakan. Suspension and handling trials dilaksanakan di Longmoss dan Hurn. Cold-weather trials dilaksanakan di climatic chamber di Chertq dan kemudian di Chtterick , Yorkshire untuk crew cold habitability testing. Challenger 2 merupakan tank Inggris pertama dengan sistem AC dan penghangat integral. Tactical asessments dilaksanakan di Salisbury Plain Training Area (SPTA) dan gunnery exercise di Warcap Training Area. Kebanyakan ujicoba ini dilaksanakan menggunakan sistem “battlefield days”, serupa dengan yang dirancang untum Reliability Growth Trials (RGT).



Reliability Growth Trials

RGT ini berhasil diselesaikan pada 1994 ketika tiga purwarupa diuji selama lebih dari 285 battlefield day. Untuk tujuan fase RGT, sebuah battlefield day terdiri dari road travel 27 km, perjalanan lintas alam 33 km, penembakan 34 kali persenjataan utama dan 1.000 persenjataan 7,62mm, dengan 16 jam operasi sistem persenjataan; dan sepuluh jam mesin utama menyala dalam kondisi stanby dan 3,5 jam mesin utama bekerja pada berbagai kecepatan. Selama pengembangan, purwarupa Challenger 2 berhasil mencapai 20.400km road travel dan lintas alam, dan menembakkan 11.600 amunisi 120mm.

AD Inggris secara resmi menerima Challenger 2 pada 16 Mei 1994. Meskipun demikian, perdebatan masih terus berlanjut dalam hal jumlah Challenger 2 yang akan diakuisisi dan langkah-langkah apa yang akan diimplementasikan untuk Chieftain/Challenger Improvement Programme (CHIP). Dalam hal ini, CHIP tidak lagi diutamakan dan diputuskan untuk mengganti armada Chieftain dan Challenger dengan total 426 Challenger 2. Karena adanya pembatasan anggaran, jumlah ini dikurangi 40, menjadi 386 tank. Pesanan untuk sisa 259 tank dan juga sembilan DTT diumumkan pada Juli 1994.

Tank produksi pertama selesai pada 1 Agustus 1994. Meskipun demikian, Kementrian Pertahanan Inggris berusaha keras memastikan model produksi Challenger 2 memenuhi kebutuhan dari sepesifikasi asli. Pada September 1994, sebuah 'first off production trial' bagi tiga dari enam tank pertama dilakukan, dan menunjukkan bahwa VDS tidak sukses dalam mentransfer level kualitas dan reliabilitas tank dari model purwarupa ke tank produksi. Oleh karena itu, batch pertama Challenger 2 tidak diterima oleh Kementrian Pertahanan Inggris dan tank-tank ini disimpan hingga kekurangan-kekurangannya diperbaiki. Dampaknya, In-Service Date Challenger 2 meleset dari perkiraan awal, Banyak kalangan di AD menyarankan agar Challenger 2 segera beroperasi dan untuk masalah-maslaah yang ada diperbaiki setelahnya. Tetapi Kementrian Pertahanan menolak dan tetap memberlakukan kontrak ketat kepada VDS untuk kontrol kualitas.

Padawaktunya, masalah-masalah dapat diselesaikan dan modifikasi dilakukan pada semua tank yang berada dalam penyimpanan. Untuk mencapai ini, Kementrian Pertahanan memaksa dilaksanakannya serangkaian Production Reliability Growth Trials (PRGT), masing-masing dengan target reliabilitas yang semakin sulit secara bertahap. PRGT 1 diselesaikan pada November 1997, dengan PRGT 2,3 dan 4 dijadwalkan akan dilaksanakan pada Maret, Juni dan Oktober 1998. Dalam PGRT 1, tank hasil produksi sukses mencapai tingkat reliabilitas yang diharapkan, sehingga PGRT selanjutnya tidak jadi dilaksanakan. Akan tetapi, Kementrian Pertahanan menginginkan sebuah In-Service Reliability Demonstration (ISRD) dari skuadron lengkap Challenger 2 sebagai pembuktian akhir performa tank secara keseluruhan.



Challenger 2 Fielding Team

Dari awal, Fielding Team Challenger 2 memainkan peranan vital dalam proses pengadaan; tujuan mereka adalah untuk memastikan kualitas tank. Aktivitas fielding dihentikan dari Oktober 1995 hingga Januari 1998 ketika Production Reliability Growth Trials dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas tank produksi dari lini perakitan di Leeds dan Newcastle. Ketika pengiriman mulai dilakukan pada Januari 1998, tank diinspeksi dalam batch yang berisi masing-masing 38 tank. Dengan total produksi 386 tank, fielding team menguji 10 batch tank dengan periode lebih dari dua setengah tahun.

Challenger 2 Fielding Team bertugas untuk memastikan kecocokan seluruh dan setiap tank sebelum diterima dari VDS. Tim ini terdiri dari mayor RAC, REME ASM dan beberapa instruktor RAC yang berskill tinggi dan berpengalaman, dan REME artificers. Melengkapi staff Fielding Team , terdapat awak dari resimen untuk menerima tank dalam batch. Awak-awak ini terlibat dalam serah terima tank kepada Fielding Team, membantu dalam semua aspek inspeksi, melaksanakan Batch Test di bawah supervisi Armoured Trials and Development Unit (ATDU) dan mengantar tank selama pengiriman ke seluruh resimen di UK dan Jerman.

Setiap tank dari setiap batch harus diinspeksi secara detail. Setiap kegagalan dari kesalahan software dalam sistem kontrol penembakan hingga ketidak-akuratan konfigurasi tank dicatat. Setiap tank diuji dalam “road run” dari dan ke Lulworth gunnery ranges di mana ordnance ditugaskan, dan sistem meriam dan sighting dikalibrasi (“zeroed”) untuk akurasi. Lebih dari 22,000 “insiden” teridentifikasi dari 386 Challenger 2 dan 22 DTT. Sebuah panel ahli meneliti semua insiden ini dan mengaplikasika koreksi yang dibutuhkan, sesuai dengan persetujuan antara Fielding Team dan team on-site VDS. Sebagai tambahan, dari setiap batch, dipilih empat tank dan dikirim ke ATDU untuk Reliability Batch Test yang mengharuskan setiap tank menjalani three battlefield days' trial. Nasib dari tiap batch, diterima atau ditolak, tergantung dari hasil Batch Test. Hasilnya adalah bahwa tidak ada resimen lapis baja yang menerima sebuah tank pun yang memiliki masalah besar. Masalah kecil yang masih ada, dan ini sangat jarang, diidentifikasi oleh Fielding Team sebelum pengiriman dan diperbaiki oleh perwakilan VDS, biasanya suku cadang (untuk perbaikan) diterima setelah satu atau dua hari tank diterima.

Delapan Challenger 2 dikirim ke Royal Scots Dragoon Guards di Fallingbostel, Jerman pada akhir Januari 1998. Tank terakhir dari resimen ini diserah-terimakan dalam sebuah upacara pada 30 Juni 1998, disaksikan oleh beberapa tokoh dalam sejarah Challenger 2, termasuk Master General of the Ordnance, Lieutenant General Sir Robert Hayrnan-Joyce, yang merupakan tokoh pendukung Challenger 2 yang giat dan konsisten.

Prosedur penerimaan program Challenger 2 yang terakhir dan juga paling berat adalah In-Service Reliability Demonstration (ISRD) . ISRD dilaksanakan oleh B Squadron, The Royal Scots Dragoon Guards, antara Agustus hingga Desember 1998 ketika 12 Challenger 2 diuji di ATDU, Bovington dan di Gunnery School, Lulworth. Dalam ujicoba ini tank menjalani 5,040km selama 84 battlefield days, dan melaksanakan penembakan 2,850 amunisi 120mm dan 84,000 amunisi 7.62mm. Hasil akhir ISRD sangat sukses dengan semua target untuk performa dan reliabilitas terlampaui secara meyakinkan.

Resimen lapis baja kedua yang dilengkapi dengan Challenger 2 adalah 2nd Royal Tank Regiment (2 RTR) dengan pengiriman selama akhir 1998 hingga awal 1999. Tank terakhir dari 386 Challenger 2 diserahkan pada AD Inggris pada 17 April 2002 dalam sebuah acara yang dilaksanakan di Salisbury Plain.



Challenger 2 di Millenium Baru

Challenger 2E (foto: fprado.com)

Diterjunkan dengan enam Resimen dari Royal Armoured Corps di Inggris dan Jerman, Challenger 2 terlihat bertugas di Bosnia and Kosovo, dan melakukan pelatihan di Canada, Oman dan Polandia. Dalam penugasan dan pelatihan tersebut, Challenger 2 melewati targer reliabilitas. Challenger 2 juga diterjunkan dalam tugas aktif selama Operation Iraqi Freedom.

Pada Juli 2004, Kementrian Pertahanan Inggris mengumumkan rencana untuk pengurangan 7 skuadron lapis baja Challenger 2 (sekitar 100 tank) yang akan dilaksanakan pada Maret 2007, dan pengubahan peran satu resimen Challenger 2 menjadi sebuah armoured reconnaissance regiment.

Pada September 2009, MoD Investment Approvals Board Inggris memberikan “go-ahead” kepada BAE Systems untuk membingkai sebuah skema untuk armada tank Challenger yang akan mengurangi biaya hingga 10%. Skema, jika berhasil, juga akan diperluas untuk armada kendaraan lapis baja lainnya yang masih beroperasi dengan AD Inggris di bawah program armoured vehicle support transformation (AVST). Tujuan kunci skema ini adalah untuk meningkatkan availabilitas suku cadang dan dukungan teknis pada armada kendaraan lapis baja milik Kementrian Pertahanan Inggris. Nilai kontraknya diperkirakan melebihi £500 juta dengan periode delapan tahun. Sebuah armada Titan dan Trojan engineer tanks, CRARRV recovery vehicle, Challenger dan driver training tank akan dinaungi di bawah kontrak ini.

BAE Systems memberikan penawarannya pada akhir 2009, dan keputusannya akan diumumkan pada pertengahan 2010. Kontraknya sendiri akan dilaksanakan dalam dua fase.

Pada fase pertama, BAE Systems merencanakan untuk mengimplementasikan perbaikan di area-area seperti needs-based maintenance, base repair dan overhaul process, obsolescence management, dan technical advice dan guidance on key sub-systems.

Pada fase kedua, BAE Systems akan fokus pada integrasi lini pertahanan dari pengembangan di area termasuk user and trainer incentives, integration of material, manpower dan facilities planning dan better fleet management.

Pada 2010 pemerintah Inggris mengumumkan, sebagai bagian dari Strategic Defence and Security Review (SDSR) bahwa armada Challenger 2 akan dikurangi 40% menjadi sekitar 230 tank. Terdapat juga kemungkinan pengurangan lebih lanjut yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang. Karena Challenger diharapkan akan tetap beroperasi hingga 2035, maka perbaikan dan upgrade diharapkan akan dilaksanakan selama waktu tersebut.

Challenger 2E, model pengembangan terakhir, didesain untuk pasar ekspor dan cocok untuk lingkungan berat dan kondisi klimatik. Challenger 2E telah menjalani ujicoba ekstensif di Yunani, Qatar dan Arab Saudi.



Battlefield Incidents

Terdapat sejumlah insiden yang terjadi pada Challenger 2 baik mengakibatkan kerusakan ataupun hancur. Pada Maret 2003, satu Challenger 2 hancur oleh tembakan rekannya sendiri (Challenger 2 lainnya), yang mengakibatkan dua awak tewas. Pada Agustus 2006, sebuah RPG menembus lapis baja depan tank, dan mengakibatkan seorang awak terluka. Pada April 2007, sebuah shaped charge menembus bagian bawah Challenger 2 yang melukai dua orang awak




FITUR DAN DESAIN 


Turret dan Hull

Tank mengakomodasi empat awak: komandan, penembak, pengisi amunisi dan pengemudi, untuk meningkatkan kemampuan tempur dan efektifitas operasi siang-malam, yang sayang dipengaruhi oleh jumlah awak yang dibawa. Komandan berada di sisi kanan dan dilengkapi dengan periskop dengan pembesaran x1, yang memberikan penglihatan 360 derajat. Dengan menekan tombol merah di bawah setiap periskop akan membuat turret berputar perlahan, agar sejajar dengan periskop. Gunner berada di depab-bawah komandan dan pengisi amunisi berada di sisi kiri. Pengisi amunisi dilengkap dengan sebuah periskop. Kompartemen kemudi berada di bagian depan tank.



Persenjataan

Challenger 2,menembakan meriam L30 120mm, yang diproduksi oleh divisi Royal Ordnance dari British Aerospace Defence Ltd di Nottingham (Foto: www.fprado.com)

Challenger 2 dilengkapi dengan mesiam L30A1 120mm (4,7 inci) panjang kaliber 55, suksesor dari meriam L11 yang digunakan oleh Chieftain dan Challenger 1. Meriam ini dibuat dari baja kekuatan tinggi Electro Slag Remelting (ESR) dengan lapisan alloy krom, dan layaknya meriam 120mm Inggris, meriam ini diinsulasi dengan thermal sleeve. Meriam ini dipasangi dengan sebuah sistem muzzle reference dam ekstraktor asap. Meriam ini dikontrol oleh sebuah sistem kontrol dan stabilisasi elektrik. Turret memiliki waktu rotasi 360 derajat selama 9 detik.

Berbeda dengan persenjataan tank NATO lain, L30A1 merupakan merial rifled, karena AD Inggris terus memakai amunisi HESH (high explosive squash head) sebagai tambahan untuk amunisi penembus baja APFSDS. Amunisi HESH memiliki jarak jangkau yang lebih jauh (hingga 8 km/5 mil) dari pada APFSDS, dan lebih efektif terhadap bangunan dan kendaraan berlapis baja lebh tipis.

49 amunisi meriam utama di angkut di dalam turrt dan hull; yang merupakan campuran dari amunisi L27A1 APFSDS (yang dikenal sebagai CHARM 3), L31 HESH dan L34 amunisi asap fosfor putih, tergantung pada situasi tempur. Seperti pada versi awal meriam 120mm, propellant charges diisi secara terpisah dari cangkang atau proyektil energi kinetik. Sebuah combustible rigid charge digunakan untuk amunisi APFSDS, dan sebuah combustible hemispherical bag charge untuk HESH dan amunisi asap. Sebuah electrically-fired vent tube digunakan untuk mematik penembakan amunisi meriam utama. (Amunisi persenjataan utama kemudian dideskripsikan menjadi “amunisi tiga bagian” yang terdiri dari proyektil, charge dan vent tube.)

Challenger 2 juga dipersenjatai dengan chain gun L94A1 EX-34 7.62 mm yang koaksial di sebelah kiri meriam utama, dan sebuah senapan mesin L37A2 (GPMG) 7.62 mm yang terpasang pada sebuah pintle di cincin palka pengisi amunisi. Sebanyak 4.200 amunisi 7.62 mm dapat dibawa.

Di setiap bagian depan sisi turret terdapat lima pelontar granat asap L8, dari Helio Mirror Company di Kent. Challenger 2 juga dapat membuat lapisan asap dengan menginjeksikan bahan bakar diesel ke knalpot.

Persenjataan Challenger 2 memilikis komputer kontrol penembakan digital dari Computing Devices Co dari Kanada yang terdiri dari dua prosesor 32-bit dengan sebuah databus MIL STD1553B dan memiliki kapasitas untuk sistem tambahan, sebagai contoh adalah sistem Battlefield Information Control, serta sistem navigasi dan pelatihan.

Pada Januari 2004, BAE Systems' Land Systems menerima sebuah kontrak untuk mengembangkan sebuah meriam utama smoothbore 120mm baru untuk tank Challenger Inggris. Rheinmetall dari Jerman akan menyediakan contoh meriam smoothbore L55 yang digunakan pada Leopard 2A6. Sebuah demonstrator teknis diproduksi pada 2006.



Meriam Utama Baru untuk Challenger 2: L55 120mm dari Rheinmetall

Pada Januari 2004, BAE Systems Land Systems (sebelumnya RO Defence) menerima kontrak untuk mengembangkan sebuah meriam utama smoothbore 120mm baru untuk tank Challenger Inggris. Dalam kontrak, sebuah Challenger 2 dilengkapi dengan meriam smoothbore L55 dari Rheinmetall, seperti pada Leopard 2A6, dan mulai melakukan uji penembakan pada Januari 2006.

Challenger 2 dengan meriam L55 120mm dari Rheinmetall. Secara eksternal tidak mirip dengan L55 karena cradle, clamp, therma sleeve, fume extractor dan muzzle reference sistem milik L30A1 tetap dipertahankan. Oleh karena itu, persenjataan ini disebut sebagai meriam tank “hibrid” (Foto: www.fprado.com)

Secara balistik, meriam baru ini sama dengan L55 120mm Jerman, tetapi secara eksternal meriam ini pas pada ruang yang ditingalkan oleh L30. Instalasi persenjataan baru Challenger 2 mempertahankan cradle, gun clamp, thermal sleeve, fume extractor dan muzzle reference system dari L30. Setelah pengujian di Jerman, senjata ini juga diuji pada chassis Centurion secara statis di pertengahan 2005, dan selanjutnya di tahun yang sama, akhirnya dintegrasikan pada sebuah MBT Challenger 2.

Upgrade ini akan membuat MBT Inggris dapat menggunakan amunisi 120mm standar NATO.

Uji penembakan statis dilaksanakan pada target jarak jauh, dengan menembakkan proyektil APFSDS DM53 120 mm dari Rheinmetall dengan penetrator konvensional. Uji coba ini, walaupun rahasia, tetapi sepertinya menunjukkan bahwa amunisi DM53 memberikan performa yang lebih baik dibandingkan persenjataan Challenger terdahulu –CHARM3.



Sensor

Komandan memiliki sebuah pembidik Gyrostabilized, model VS 580-10, dari SFIM Industries, France. Unit bagian atas dari VS 580, memiliki Gyrostabilized panoramic sight and electronics, yang dipasang di atap turret. Sebuah laser rangefinder neodinium yttrium aluminium garnet, Nd:YAG, dipasang pada perakitan menengah yang bergabung dengan unit atas ke perakitan teleskop bagian bawah di dalam turret. Perakitan teleskop terdiri dari sistem penglihatan optik, kontrol tangan, perlengkapan elektronik dan sight stabilization system. Alat pembidik memberikan penglihatan 360 derajat pada komandan tanpa harus menggerakkan kepalanya. Jarak elevasinya sebesar -35 dan +35 derajat. Field of view dengan pembesaran x3.2 sebesar 16.5 derajat, dan sengan pembesaran x10.5, sebesar 5 derajat.

Sebuah thermal imager, Thermal Observation and Gunnery Sight II, TOGS II, dari Pilkington Optronics, Glasgow, memberikan penglihatan malam. Sensornya adalah UK TICM 2 thermal imager. Imager-nya dipasang di dalam barbette berlapis baja di atas meriam. Sebuah kompresor on-board dan gas bottle pack memberikan pendinginan untuk imager. Simbol ditempelkan pada thermal image untuk menunjukkan tanda pembidikan dan data status sistem. Thermal image, dengan pembesaran x4 dan x11.5 ditampilkan pada pembidik komandan dan penembak.

Penembak memiliki sebuah Gunner's Primary Sight (GPS) berstabilisasi, dari Pilkington Optronics, Glasgow. Pembidiknya terdiri dari badan pembidik sebuah visual sighting channel, sebuah unit kepala dengan cermin pembidikan terstabilisasi, sebuah laser rangefinder 4 Hz neodinium yttrium aluminium garnet Nd:YAG dan sebuah monitor display dengan lensa monokular. Laser rangefinder dengan panjang gelombang 1.064 mikron, beroperasi di atas jarak 200 m hingga 10 km. Jarak akurasinya adalah -5 dan +5m dan dengan discrimination 30 m. Penembak juga dilengkapi dengan teleskop mode terbalik, model L30, dari Nanoquest, terpasang koaksial dengan meriam utama.

Pengemudi dilengkapi dengan Passive Driving Periscope, PDP, dari Pilkington Optronics. Periskop ini menggunakan alat night vision image intensifier. Pada malam hari, tank dapat mencapai kecepatan seperti pada siang hari dengan penggunaan periskop kemudi pasif dan tanpa penggunaan cahasa artifisial.



Engagement Procedure

Challenger 2, melewati medan berat (Foto: www.fprado.com)

Urutan penyerangan target telah didesain untuk kesederhanaan pengoperasian dalam kondisi medan tempur. Urutan penyerangan adalah sama untuk target diam maupun bergerak, pada siang atau malam hari. Penembak dan komandan mengarahkan tanda pembidik pada target, menekan tombol laser rangefinder dan menekan tombol tembak.

Komandan mengarahkan pembidik panoramik yang terpasang di atap ke target dan menekan saklar pensejajar untuk memutar turret hingga terhenti secara otomatis ketika meriam mengarah ke target. Penembak kemudian mengambil alih proses penyerangan dengan menekan laser rangefinder dan tombol tembak untuk menembakkan meriam. Segera setelah penembak mengambill alih proses, komandan dapat membidik target selanjutnya dan mengukur jaraknya dengan menggunakan pembidik milik komandan. Data dari kedua terget, yang pertama diserang oleh penembak dan target kedua disimpan pada komputer kontrol penembakan digital. Ketika meriam sudah ditembakkan dan kill assesment pada target pertama selesai dilakukan, komandan menekan tombol pensejajar yang membuat turret berputar mengarah ke target kedua dan secara otomatis menembakkan meriammnya. Prosedur operasional sangat meningkatkan daya tembak tank, karena Challenger dapat secara efektif menyerang target pada kecepatan tinggi



Safety

Challenger 2 merupakan salah satu tank berlapis baja terberat dan dengan perlindungan terbaik di dunia. (Foto: www.fprado.com)

Challenger 2 merupakan salah satu tank dengan lapis baja terberat dan merupakan tank dengan proteksi terbaik di dunia. Turret dan hullnya dilindungi dengan lapis baja Chobham (juga dikenal sebagai Dorchester) generasi kedua, dengan detail yang dirahasiakan. Pihak militer mengklaim bahwa Chobham dua kali lebih kuat dari baja. ERA juga dipasang sesuai kebutuhan. Sistem proteksi NBC terletak pada turret bustle.

Turret dan meriam digerakkan oleh sebuah solid state electric drive, bukan high pressure hydraulic drive. Electric drive menghilangkan resiko yang berhubungan dengan bocornya hidrolis bertekanan tinggi di dalam kompartemen awak. Tempat penyimpanan bahan mudah meledak berada di bawah cincin turret yang lebih terlindungi jika dibandingkan berada dalam turret bustle.

Desain turret dan hull menggunakan teknologi stealth untuk meminimalkan jejak radar.



Propulsi

Challenger 2 saat bermanuver (Foto: www.frado.com)

Challenger 2 memiliki mesin diesel 1200 tenaga kuda 12 silinder, dari Perkins Engines (Shewsbury) Ltd, Shropshire dan sebuah gearbox David Brown, model TN54, dengan 6 gigi maju dan 2 mundur. Kecepatan maksimum di jalan raya 59 km/jam dan rata-rata 40 km/jam pada lintas alam. Jarak tempuhnya 450 km di jalan raya, dan 250 km lintas alam.
Mesin: Mesin Diesel CV 12 26,6 L Perkins yang menghasilkan 1.200 tenaga kuda (890 kW).
Gearbox: transmisi episiklik TN54 David Brown (6 maju, 2 mundur).
Suspensi: hidrogas generasi kedua.
Track: William Cook Defence hydraulically adjustable double-pin.
Kecepatan maksimum: 37 mph/60 km/h (jalan); 25 mph/40 km/h (lintas alam)
Jarak: 280 mi/450 km (jalan); 156 mi/250 km (lintas alam).





VARIAN 



CLIP

Challenger Lethality Improvement Programme (CLIP) merupakan program penggantian meriam Challenger 2, meriam rifled L30A1 dengan meriam smoothbore 120mm dari Rheinmetall yang pada saat itu digunakan oleh Leopard 2A6. Penggunaan meriam smoothbore membuat Challenger 2 dapat menggunakan amunisi standar NATO yang dikembangkan di Jerman dan AS. Amunisi standar tersebut termasuk penetrator energi kinetik berbahan tungsten, yang tidak memiliki penolakan politis dan lingkungan seperti amunisi depleted uranium. Lini produksi untuk amunisi rifled 120mm di UK telah ditutup, sehingga stok amunisi untuk L30A1 menjadi terbatas. Untungnya, pada 2009, amunisi HESH kembali diproduksi dan dujicobakan di Belgia. Hal ini berarti bahwa Challenger 2 sekarang memiliki amunisi Tungsten FIN dan HESH baru yang tersedia, jika dan ketika dibutuhkan di masa yang akan datang.

Challenger 2 yang sudah diupgrade dengan pemasangan lapis baja reaktif, diproduksi oleh Rafael Advanced Defence System (Foto: Wikipedia)


Satu unit Challenger 2 dipasangi dengan meriam L55 dan melaksanakan ujicoba pada Januari 2006. Meriam smoothbore tersebut mempunyai panjang yang sama dengan meriam L30A1, dan dipasangi dengan ruang senapan rifled, thermal sleeve, bore evacuator dan muzzle reference system. Uji awal menunjukkan bahwa amunisi tungsten DM53 dari Jerman lebih efektif dari pada amunisi depleted uranium CHARM 3. Pengaturan penyimpanan dan penanganan amunisi perlu diubah agar sesuai dengan amunisi smoothbore tunggal, tidak seperti sebelumnya yang terpisa. Pada 2006, direncanakan sebanyak £386 juta untuk melengkapi Challenger dengan meriam Rheinmetall.

Pengembangan lain juga dipertimbangkan, termasuk untuk sistem proteksi NBC.

Pada Mei 2007, Grup Sistem Masa Depan dari Kementrian Pertahanan mengundang BAE untuk tender Challenger 2 Capability Sustainment Program (C2 CSP), yang menggabungkan semua upgrade dalam satu program. Akan tetapi pada 2008, program ini beresiko untuk ditunda atau dibatalkan sebagai hasil dari pengurangan anggaran pertahanan.



Titan

Titan armoured bridge layer adalah unit yang berdasarkan dari running gear Challenger 2 dan akan menggantikan Chieftain Armoured Vehicle Launched Bridge (ChAVLB). Sebanyak 33 Titan mulai beroperasi pada 2006 bersama Royal Engineers. Titan dapat membawa sebuah jembatan sepanjang 26 meter atau dua jembatan sepanjang 12 meter. Titan juga dapat dipasangi dengan sebuah bilah bulldozer.

Titan Bridge Launcher di dataran Salisbury (Foto: Wikipedia)


Trojan

Trojan Armoured Vehicle Royal Engineers adalah kendaraan engineering tempur sebagai penganti Chieftain AVRE (ChAVRE). Trojan menggunakan sasis Challenger 2 dan akan membawa lengan articulated excavator, sebuah bilah dozer dan rel tambahan untuk fascines. Seperti Titan, diharapkan sebanyak 33 unit akan dioperasikan.
Trojan AVRE (Foto: Wikipedia)


Challenger 2E

Challenger 2E adalah versi ekspor dari tank ini. Challenger 2E memiliki sistem kontrol senjata dan managemen medan tempur terintegrasi baru, yang terdiri dari sebuah penglihatan siang/termal gyrostabilised panoramic SAGEM MVS 580 untuk komandan tank dan penglihatan siang/termal gyrostabilised SAGEM SAVAN 15 untuk penembak, keduanya dengan laser rangefinder yang aman bagi mata. Sistem ini memungkinkan operasi hunter/killer dengan urutan engagement umum. Sebuah servo-controlled overhead weapons platform opsional dapat dioperasikan melalui sistem penglihatan komandan untuk memungkinkan operasi secara bebas dari turret.

Challenger 2E. Foto kemungkinan diambil di gurun pasir ketika Vickers Defence System mencoba menjual ke negara-negara Teluk (Foto: www.fprado.com)

Power pack diganti dengan EuroPowerPack 1.500 hp (1.000kW) baru dengan mesin diesel MTU MT 883 yang terpasang secara transversal bersama transmisi otomatis Renk HSWL 295TM. Peningkatan performa tank signifikan dengan perubahan ini. Power pack memiliki ukuran yang lebih kecil tetapi dengan tenaga yang lebih besar, penggunaan sistem pendingin dan sistem penyaring udara terbukti pada penggunaan di padang pasir. Ruang sisa pada hull digunakan sebagai penyimpanan amunisi atau bahan bakar yang meningkatkan jarak operasional tank hingga 550km.

BAE mengumumkan pada 2005 bahwa pengembangan dan ekspor dihentikan. Hal ini dihubungkan oleh media sebagai akibat dari gagalnya penjualan 2E ke Yunani pada 2002, kompetisi penjualan dimenangkan oleh Leopard 2.



CRARRV

Challenger Armoured Repair and Recovery Vehicle (CRARRV) adalah sebuah armoured recovery vehicle yang dibuat dengan hull Challenger dan didesain untuk memperbaiki danmemulihkan tank yang rusak pada medan tempur. CRARRV memiliki lima tempat duduk, tetapi biasanya membawa awak sebanyak 3 orang dari Royal Electrical And Mechanical Engineers (REME), dari Vehicle Mechanic and Recovery Mechanic trades. Terdapat ruangan dalam kabin untuk dua orang penumpang (misal untuk awak tank yang rusak) untuk sementara waktu.

CRARRV di dataran Salisbury (Foto: Wikipedia)

Ukuran dan performa seperti layaknya MBT hanya saja tidak dipasangi dengan persenjataan tetapi dengan:
Sebuah kerekan utama dengan kekuatan 50 ton (dapat ditingkatkan menjadi 98 ton menggunakan katrol dan titik jangkar pada tank), ditambah sebuah kerekan pilot kecil untuk membantu penggunaan kabel utama.
Derek Atlas yang mampu mengangkat beban 6.500 kg dengan ketinggian 4.9 meter (ini cukup untuk mengangkat power pack Challenger 2).
Dalam rangka untuk meningkatkan fleksibilitas dan tambahan transportasi power pack pada medan perang, AD Inggris melakukan pengadaan sejumlah CRARRV High Mobility Trailers (CRARRV HMT). Setiap CRARRV HMT membuat sebuah CRARRV mampu mengangkut satu power pack (milik Challenger, Titan atau Trojan) atau dua power pack milik Warrior dengan mengubah konfigurasi.
Bilah dozer yang berperan sebagai jangkar/stabilisator atau sebagai penyapu halangan.
Sejumlah set alat perbaikan berat termasuk alat bertenaga udara bertekanan dan kemampuan pematrian.




OPERATOR

UK – AD Inggris, 408 tank
Oman, AD Kerajaan Oman 38 Tank





SPESIFIKASI


Challenger 2 (Gambar: www.fprado.com)


Mesin: Perkins Condor CV12 1200bhp
Gearbox: David Brown TN54 epicyclical, 6 fwd 2 rev
Suspensi: Hydrogas variable spring rate
Track: William Cook Defence; pin ganda yang dapat diatur secara hidrolis
Kecepatan: 59 kmj (jalan raya); 40 kmj (lintas alam)
Jarak: 450 km (jalan raya); 250 km (lintas alam)
Senjata Utama: Meriam Royal Ordnance 120mm L30
Amunisi: CHARM 3, HESH dan Granat Asap
Senjata Sekunder: senapan mesin terpasang koaksial Hughes 7.62mm dan GPMG 7.62mm yang terpasang pada palka penembak
Pelontar Asap: Exhaust smoke injection dan dua set lima pelontar granat L8
Awak: empat (Komandan, Penembak, Pengemudi dan Pengisi Amunisi)

Sight System:
Komandan: Gyrostabilized fully panoramic site with laser range finder and thermal imager
Penembak: Gyrostabilized primary site with laser range finder and thermal imager, and coaxially mounted auxiliary sight
Pengemudi: Day and night periscopes
Pengisi Amunisi: Day periscope

Dimensi Hull:
Panjang 8,33 meter x lebar 3,5 meter
Panjang dengan meriam 11,5 meter
Tinggi 2,5 meter





Sumber:
Dunstan, Simon. 2006. New Vanguard-112: Challenger 2 Main Battle Tank 1987-2006. Osprey Publishing
www.cadu.org.uk
www.army-guide.com
www.army-technology.com
en.wikipedia.org
www.fprado.com

Kamis, 29 Maret 2012

Chieftain Main Battle Tank



Chieftain Mk 3 Laturn 2 (foto: en.wikipedia.org)



Nama: Chieftain 
Tipe Klasifikasi: Main Battle Tank 
Kontraktor: BAe Systems Land Systems - Inggris 
Negara Asal: Inggris 
Jumlah Produksi: 900 
Operator: Inggris, Kuwait, Oman, Irak (rampasan dari Iran), Iran dan Yordania 


FV 4201 Chieftain adalah MBT milik Inggris selama 1960an hingga 1970an. MBT ini merupakan salah satu MBT tercanggih di eranya, dan saat diperkenalkannya pada 1966, MBT ini memiliki meriam utama terkuat dan lapis baja terberat dari semua tank di dunia. Chieftain juga memperkenalkan posisi pengemudi “supine” (miring ke belakang), memungkinkan desain hull yang miring dengan berat yang dikurangi.

MBT Chieftain secara cepat menjadi tank terkuat di pasaran hingga kemunculan Leopard 1 milik Jerman Barat. Sebagai pengganti tank seri Centurion, meriam utama 120mm milik Chieftain merupakan upgrade utama dari standar 105mm Perang Dingin, dan chassisnya memberikan kemungkinan besar untuk pengembangan panjang untuk varian baru di masa yang akan datang. MBT ini terlihat secara diterima secara luas di Timur Tengah melalui ekspor dan terlibat dalam operasi tempur ekstensif selama perang Iran-Irak, bertempur untuk kedua belah pihak, baik diperoleh dengan membeli (Iran), atau berasal dari rampasan (Irak, rampasan dari Iran).

Dari luar, Chieftain mempertahankan desain low profile strategis. Hal ini berhasil dilakukan melalui desain posisi duduk pengemudi yang merebah/berbaring di bagian depan hull, sementara desain turret dan hull dipertahankan tetap rendah dari tanah. Chieftain juga dicirikan dengan enam road wheel besar di setiap sisi roda rantainya, desain hull depan dengan kemiringan tajam dan turret cor baja miring yang terpasang di bagian tengah hull. Mesin kuat Leyland 6-silinder berada di bagian belakang hull dan menghasilkan sekitar 750hp. Akomodasi awaknya berjumlah 4, yaitu pengemudi, komandan, penembak dan loader. Pengemudi di bagian depan hull, komandan dan penembak di bagian kanan turret, sedangkan loader di bagian kiri turret.

Chieftain terkenal dengan pemakaian meriam utama powerful L11A5 120mm yang pada saat itu menjadi meriam utama terkuat dan mampu membawa 64 proyektil 120mm. Pengisian proyektil terdiri dari dua fase proses yang membutuhkan loading charges. Tipe amunisinya standar yang terdiri dari armor piercing, tracer, smoke dan yang lainnya. Persenjataan tambahannya terdiri dari senapan anti-pesawat 12,7 mm yang terpasang di atas turret, tetapi pengoperasiannya dapat dilakukan dari dalam turret. Sebuah senapan mesin 7.62mm terpasang secara koaksial terhadap meriam utama, sementara senapan mesin 7.62mm tambahan terpasang di kupola. Untuk sistem pertahanan, terdapat 12 peluncur granat asap yang terdiri dari dua bagian (masing-masing 6 peluncur di setiap sisi turret). Peralatan perlindungan NBC penuh dan penglihatan malam juga dipasang. Selanjutnya, lapis baja pasif diupgrade sehingga meningkatkan tingkat proteksi awak.

Iran menerima Chieftain dengan nama seri "Shir" dalam dua mark selama masa produksi, dengan mark kedua mencapai 1.225 tank. Dipercaya bahwa Irak berhasil merampas 100 Shir dalam pertempuran. Oman dan Kuwait juga menerima sejumlah tank bekas dan baru.

Chassis Chieftain terbukti sangat adaptable dan menghasilkan berbagai macam varian yang sudah beroperasi. Di antaranya mulai dari armored recovery and engineer vehicles dan armored bridgelayer. Chieftain pada akhirnya digantikan perannya oleh MBT seri Challenger.



Pengembangan

Chieftain diturunkan dari lini tank panjang yang dimulai dari Mark II Matilda II pada 1939. Suksesor Matilda berkembang dari pendukung infantri melalui cruiser menjadi MBT karena merekadibuat jauh lebih cepat dan bersenjata besar, Matilda II (40mm), Cromwell (57mm dan 75mm), Comet (76mm), dan Centurion (76.2mm, 83.4mm, dan 105mm).

Centurion (foto: www.historyofwar.org)


Setiap desain selanjutnya menjadi lebih berat. Centurion mempunyai berat mendekati 57 ton dan dapat bergerak dengan kecepatan hanya 22 mil per jam di jalanan.

Pada akhir 1940an dengan ancaman T-54/55 milik Soviet dan rumor T-62, desainer-desainer di Leyland mulai menjalankan program Chieftain untuk menggantikan Tank Medium Chieftain dan Tank Berat Conqueror. Hasilnya adalah tank yang mengakomodasi daya tembak, kecepatan dan agilitas.

Chieftain adalah sebuah pengembangan evolusioner radikal dari lini tank yang sukses, Centurion. Inggris belajar selama PD II bahwa tank-tank mereka sering kalah dalam hal proteksi dan daya tembak, dibandingkan dengan tank yang dipakai oleh musuh, dan hal ini menyebabkan level kematian yang tinggi ketika bereka berhadapan dengan tank Jerman yang superior selama PD II.

Pada periode pasca perang, AD Inggris memasangi Centurion dengan meriam 120mm dari tank berat Conqueror sebagai senjata anti-tank jarak jauh melawan IS-3 milik Soviet.

Leyland, yang terlibat dalam Centurion, telah membuat purwarupa tank baru milik mereka sendiri pada 1956, dan ini menjadi spesifikasi untuk tank baru. Desainnya diterima pada awal 1960an. Chieftain didesain agar memiliki lever proteksi sebaik mungkin dan dilengkapi dengan meriam rifled 120mm. Lapis bajanya yang tebal dan berat mengakibatkan mobilitas berkurang, terutama karena terbatasnya tenaga mesin, membuat hal ini menjadi kekurangan utama Chieftain. Mesin yang dipilih memakai multi-fuel dan pada saat diperkenalkan, tenaganya lebih rendah dari yang diharapkan. Pengembangan dan perbaikan lanjut terhadap mesin ini gagal meningkatkan tenaga mesin sesuai dengan yang diharapkan.

Mesin BL awal menghasilkan sekitar 450bhp kepada sprocket yang berarti kecepatan maksimalnya sekitar 25 mpj dan performa lintas alamnya menjadi sangat terbatas. Kegagalan lapisan silinder dan kebocoran pendingin umum terjadi. Oleh karena itu, asap putih menjadi familiar muncul dari saluran gas buang. Pada akhir 1970an, desain mesin berubah dengan munculnya Belzona yang digunakan untuk memperbaiki seal lapisan silinder. Output mesin juga meningkat menjadi 850bhp ke sprocket. Ini berarti performa yang lebih baik dan bertambahnya kecepatan. Akan tetapi, mesin merupakan kegagalan utama MBT ini, bersama dengan suspensi coil spring yang tidak nyaman, yangmembuat tank sulit dikendalikan pada saat lintas alam, dan membuat awak di dalamnya tidak nyaman.



Desain

Desain Chieftain mengutamakan pada daya tembak dan proteksi, tetapi dengan mengorbankan mobilitas. Berat tank yang sekitar 60 ton ini membuatnya underpowered. Silhouette Chieftain dua kaki lebih rendah jika dibandingkan dengan pendahulunya, Conqueror.

Turret Chieftain (foto: en.wikipedia.org)

Desain Chieftain termasuk hull dan turret yang sangat miring yang sangat meningkatkan ketebalan efektif dari armor frontal – 388 mm (15,1 inci) pada glasis (dari ketebalan aktual 120 mm (4,7 inci)) dan 390 mm (15,4 inci) pada turret (dari 195 mm (7,7 inci)). Chieftain memiliki turret mantleless, untuk mendapatkan keuntungan penuh dari perebahan tank hingga 10 derajat pada posisi hull-down.

Turret dicor dalam dua bagian dan kemudian dipatri bersama. Appliqué armor memberikan proteksi turret tambahan pada bagian depan dan belakang kupola komandan tank.

Hull dicor dalam tiga bagian, yang kemudian dipatri bersama, dan seperti tank Inggris sebelumnya, dibagi menjadi tiga kompartemen – kompartemen kemudi, tempur dan mesin, dari depan ke belakang.

Chieftain membawa empat awak. Pengemudi berada di depan dalam tempat duduk semi-berbaring, yang membantu mengurangi ketinggian total, dengan palka di sebelah kanan. Komandan, penembak dan loader berada di dalam turret, yang berisi sebuah kupola berotasi terpisah untuk komandan. Komandan memiliki penglihatan 360° penuh melalui berbagai periskop, serta peralatan penglihatan malam. Di bagian kiri turret terdapat searchlight infra-merah besar di ruang berlapis baja. Loader berada di sebelah kiri dan penembak di sebelah kanan, sementara komandan berada di belakang penembak.

Mesin Leyland L60 memiliki desain piston berlawanan dua-tak dengan multi-fuel sistem, sehingga mesin ini dapat menggunakan petrol ataupun diesel, atau bahan bakar apapun di antaranya. Pada kenyataannya mesin tidak dapat menghasilkan tenaga seperti yang diinginkan dan tidak handal dengan perkiraan tingkat kerusakan 90%, tetapi pengembangan dilakukan untuk memecahkan masalah ini. Masalah utama mesin ini adalah kegagalan lapisan silinder, masalah penggerak fan dan kebocoran terus-menerus karena getaran dan saluran pipa yang buruk. Akan tetapi, dengan peningkatan tenaga mesin, beratnya pun menjadi lebih berat.

Tank dikendalikan oleh conventional tillers hydraulically actuating onto external brake discs. Cakram bekerja melalui epicyclic gearbox menghasilkan "regenerative" steering. Pada kenyataannya, cakram dan bantalan terendam dalam minyak dan bahan bakar, sehingga steering (pengendalian) menjadi sulit. Gearbox beroprasi dengan gaya-sepeda-motor dengan sebuah kick up/kick down "peg" di bagian kiri yang menggerakan unit elektro-hidrolis di dalam gearbox; akseleratornya beroperasi dengan kabel oleh kaki kiri. Suspensinya bertipe Horstmann bogie dengan plat sisi besar untuk melindungi track dan memberikan perlindungan stand-off dari serangan hollow charge.

Ketika diperkenalkan pada Mei 1963, Chieftain merupakan tank dengan persenjataan terkuat di dunia. Persenjataan utamanya adalah meriam rifled L11A5 120 mm. Meriam ini berbeda dengan kebanyakan tank pada saat itu karena menggunakan proyektil dan charges yang diisi secara terpisah, berkebalikan dengan amunisi tetap tunggal.

Charges terbungkus dalam tas yang dapat terbakar. Charges yang dapat terbakar disimpan dalam 36 ceruk yang dikelilingi dengan campuran air/glikol, yang disebut sebagai "wet-stowage". Jika proyektil musuh menembus kompartemen tempur, jaket akan hancur dan campuran air/glikol akan merendam charges dan mencegah ledakan besar.

Meriam dapat menembakkan berbagai macam amunisi, tetapi biasanya bertipe high explosive squash head (HESH), armour-piercing discarding sabot (APDS), atau amunisi praktis yang setara dengan kedua tipe tersebut. AD Inggris memutuskan untuk mengganti meriam utama Chieftain dengan meriam rifled bertekanan tinggi L30, yang lebih kuat.

Chieftain dapat membawa hingga 62 proyektil (walaupun APDS hanya dapat membawa 36 buah, karena terbatasnya penyimpanan propelan). Meriam distabilkan dengan sistem fully computerized integrated control, sehingga meriam utama dapat ditembakkan secara akurat ke sasaran dengan jarak 2.000m ketika bergerak, dan 3.000m kerika diam. Persenjataan sekundernya terdiri dari senapan mesin koaksial L8A1 7.62 mm dan sebuah senapan mesin 7,62 mm lagi terpasang di kupola komandan. Senapan mesin range-finding digunakan untuk membantu meriam utama sebelum Barr and Stroud laser sight Barr and Stroud dipasang. Setelah itu, sebagian besar senapan range-finding dilepas. Dua pelontar granat asap enam-laras dipasang di sisi turret.

Sistem Kontrol Penembakan awalnya adalah Marconi FV/GCE Mk 4. Sebuah ranging gun kaliber .50 (12,7 mm) dipasang di atas meriam utama (dengan amunisi 300 buah). Senapan ini mampu menembak dengan jarak maksimum 2.600 yard (2.400m), pada titik ini tracer pada ranging rounds meledak. Komandan tank memiliki kupola berotasi dengan sembilan blok penglihatan dan sebuah periskop, ditambah dengan senapan mesin 7,62mm dan proyektor inframerah yang koaksial terhadap senjata. Sistem pembidikan disediakan untuk penembak dan komandan, mereka memiliki pembesaran 1x atau 8x, dan mereka dapat diganti dengan sistem penglihatan inframerah untuk operasi malam hari (dengan pembesaran 3x). Sisi kiri turret terdapat searchlight cahaya putih/infra merah besar di dalam sebuah kotak berlapis baja. Sistem ini memiliki jarak jangkau hingga 1-1,5 km.

Dari awal 1970an, versi Mk 3/3 mengganti ranging gun dengan sebiah laser rangefinder Barr and Stroud LF-2 dengan jarak 10km. Ini memungkinkan penyerangan dari jarak yang lebih jauh, dan juga dapat dihubungkang dengan sistem kontrol penembakan, memungkinkan penembakan dan pergantian target yang lebih cepat.

Dari Mk 5 dan seterusnya, sistem kontrol penembakan disediakan oleh Marconi IFCS (Improved Fire Control System), menggunakan komputer balistik digital. Upgrade tidak terselesaikan hingga akhir 1980, ketika beberapa tank (tetapi tidak banyak) mengganti searchlight infra merah dengan TOGS, sistem imaging termal yang sebelumnya dipakai pada Challenger. Banyak tank memiliki lapis baja Stillbrew yang dimaksudkan untuk menghadapi meriam 125 mm Soviet dan misil anti-tank berat. Tank-tank ini menjadi versi Mark 13.

Chieftain memiliki sebuah sistem proteksi NBC, yang tidak dimiliki Centurion. Sistem proteksi NBC ini menggunakan sistem penyaringan udara bertekanan.



Service

Model Chieftain pertama kali diperkenalkan pada 1967. Seperti tank kompetitor asal Eropa lainnya, Chieftain memiliki pasar ekspor besar di negara-negara Timur Tengah, tetapi tidak seperti Centurion, tank ini tidak digunakan oleh negara NATO lain ataupun negara-negara persemakmuran. Chieftain disuplai paling tidak ke enam negara, termasuk Iran, Kurait, Oman dan Yordania. Sebuah perjanjian penjualan Chieftain ke Israel dibatalkan oleh pemerintah Inggris pada 1969 setelah perang Arab-Israel 1967. Iran menjadi negara asing pemakai Chieftain terbesar yang menerima 707 Mk-3P dan Mk-5P, 125–189 FV-4030-1, 41 ARV dan 14 AVLB sebelum revolusi 1979. Chieftain sangat berperan dalam perang Iran-Irak 1980-1988, dan memberikan perlawanan yang baik terhadap tank Soviet. Irak disebutkan berhasil lebih dari 300 Chieftains selama perang, banyak di antaranya masih dalam keadaan baik karena ditinggalkan oleh awaknya. Rencana pengiriman lebih lanjut, seri 4030 yang lebih baik, dibatalkan.
  • Inggris: Mengoperasikan dari 1965 hingga 1995. 
  • Iran: 707 Mk-3P dan Mk-5P, 125–189 FV-4030-1, 41 ARV dan 14 AVLB dibeli sebelum revolusi 1979. 100 tank masih beroperasi hingga 2005. (100 pada 1990, 250 pada 1995, 140 pada 2000, 200 pada 2002). 
  • Irak: 30 tank masih beroperasi pada 1990. Semuanya kemudian hancur atau dibuang. 
  • Yordania: 274 Khalid dikirim antara 1981-1985 + 90 MK5/5 dari Irak. 
  • Kuwait: 175 pada 1976, 45 pada 1989, 20 pada 1995, 17 di penyimpanan pada 2000. 
  • Oman: 27 dikirim pada 1981–85. 


Varian
  • Chieftain Mk 1: 40 tank latih, 1965–1966. 
  • Chieftain Mk 2: Model pertama dengan mesin 650 hp. 
  • Chieftain Mk 3: Peralatan ekstra dipasang memberikan peningkatan pada beberapa sub-mark. 
  • Chieftain Mk.5: Varian produksi akhir, dengan upgrade mesin dan sistem proteksi NBC. 
  • Chieftain Mk.6-9: Upgrade tambahan untuk tank Mark sebelumnya, termasuk tambahan radio Clansman. 
  • Chieftain Mk.10: Upgrade Mark 9, penambahan Stillbrew Crew Protection Package pada bagian depan turret dan cincin turret. 
  • Chieftain Mk.11: Upgrade Mark 10, searchlight diganti Thermal Observation and Gunnery System (TOGS), yang diproduksi oleh Barr and Stroud. 
  • Chieftain Mk.12/13: Pengajuan upgrade lebih lanjut, dibatalkan ketika Challenger 2 diluncurkan. 
  • Chieftain 900: Chieftain dengan lapis baja Chobham 
  • FV4205 AVLB: Bridge-laying vehicle 
  • FV4204 ARV/ARRV: Armoured Recovery Vehicle, Armoured Recovery and Repair Vehicle. 
  • Chieftain AVRE: Armoured Vehicle Royal Engineers, varian ombat engineering yang digunakan oleh Royal Engineers. 
  • Chieftain Marksman: versi self-propelled anti-aircraft gun, yang dilengkapi dengan turret meriam kembar Marksman. 
  • Chieftain Mineclearer: pengembangan penyapu ranjau. 
  • Chieftain Sabre: dengan turret Anti-pesawat 30mm kembar 
  • Khalid (juga bernama 4030P2J - P = Phase & J = Jordan)/Shir (Lion) 1: Varian Yordania/Iran dengan running gear dari Challenger 1. 
  • Weapon Carriers: Chassis Chieftain dimodifikasi untuk membawa senjata pertahanan udara ("Marksman" 2 x 35 mm cannon) dan sebuah howitzer 155 mm dalam berbagai macam modifikasi. 
  • Shir 2: Varian Iran. Terdapat perbedaan visual dari Chieftain Mk. 5 termasuk hull bagian belakang yang miring, penghapusan Searchlight dari area kiri turret dan keranjang penyimpanan dipasang ulang, saluran air dibuang dari sekitar palka pengemudi di plat glasis, kluster lampu dimodifikasi di plat glasis, dan ruang alat penglihatan yang lebih besar di kupola komandan. 
  • Mobarez Tank: Versi upgrade Iran dari Chieftain. 


3-view Chieftain (www.inetres.com)


Spesifikasi untuk Chieftain Mk 5

Dimensi:
Panjang: 35.40 kaki (10.79m)
Lebar: 11.48 kaki (3.50m)
Tinggi: 9.48 kaki (2.89m)

Struktur:
Awak: 4
Berat: 60.6 US Short Tons (55,000kg; 121,254lbs)

Persenjataan:
1 x Meriam Utama 120mm
1 x RMG 12.7mm
1 x Senapan Mesin Koaksial 7.62mm
1 x Senapan Mesin 7.62mm
2 x 6 Pelontar Granat Asap

Amunisi:
64 x proyektil 120mm
300 x amunisi 12.7mm
6,000 x amunisi 7.62mm
12 x Granat Asap

Powerplant:
Mesin: 1 x mesin multi-fuel 6-silinder 2-tak Leyland L60 dengan output 750 hp.

Performa:
Kecepatan Maksimum: 48 km/j (30mpj) 
Kecepatan Lintas Alam: 30km/j
Jarak Maksimum: 280 mil (450 km)

Sistem:
Proteksi NBC: Ya
Penglihatan Malam: Ya




Sumber:
en.wikipedia.org