Tampilkan postingan dengan label Kapal Induk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Induk. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

USS Ronald Reagan (CVN 76)


USS Ronald Reagan (Foto: defence.pk)

USS Ronald Reagan (CVN-76) adalah supercarrier bertenaga nuklir kelas-Nimitz yang saat ini bertugas untuk AL AS. Kapal kesembilan dari kelasnya ini dinamakan sebagai penghormatan untuk Presiden AS 1981-1989 Ronald Reagan. Saat peresmian namanya pada 2001, kapal induk ini merupakan kapal pertama yang diberi nama mantan Presiden yang masih hidup.

USS Ronald Reagan memiliki komplemen 5.680 awak dengan 2.480nya merupakan air wing. Tenaganya dihasilkan dari dua reaktor nuklir Westinghouse A4W dan 4 x turbin uap yang masing-masing memutar 4 x shaft propellers, total tenaga yang dihasilkan 260,000 shaft horsepower. Kecepatan maksimum yang dapat dicapai lebih dari 30 knots dalam kondisi ideal, dan jarak jangkau operasionalnya tidak terbatas berkat pemakaian tenaga nuklir. Bobot matinya 97,000 ton.

USS Ronald Reagan memiliki kemampuan serang yang sangat baik, tetapi seperti kebanyakan kapal induk, memiliki kemampuan bertahan yang kurang baik dalam kasus jika dia diserang secara langsung oleh musuh yang berhasil menembus jaringan pertahanan dari kapal pendukung dan airwingnya. Persenjataan untuk pertahanannya terdiri dari 2 x sistem misil permukaan-ke-udara Sea Sparrow Mk 29 dan 2 x peluncur RIM-116 RAM (Rolling Airframe Missile). Airwing-nya terdiri dari 90 pesawat dari berbagai tipe termasuk helikopter untuk SAR dan Anti-Submarine Warfare. Pesawat bersayap tetapnya sebagian besar adalah pesawat fighter multi-peran F/A-18 Hornet.





SEJARAH 


Sejarah Pengembangan

Pada Maret 1993, Menteri Pertahanan AS mengadakan Bottom-Up Review (BUR) untuk strategi pertahanan nasional, struktur angkatan, modernisasi, infrastruktur dan lembaga untuk mengevaluasi kebutuhan pertahanan paska Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet. BUR menyimpulan bahwa 10 kapal induk cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan perang, tetapi 12 kapal induk (11 aktif dan 1 sebagai cadangan/pelatihan) dibutuhkan untuk mempertahankan keberadaan di luar negeri. BUR merekomendasikan bahwa pembangunan CVN-76 dimulai pada tahun fiscal 1995 untuk mempertahankan struktur 12 kapal induk, yang mengijinkan fleksibilitas ukuran angkatan kapal induk, menghindari peningkatan biaya pembangunan akibat penundaan, dan mempertahankan industrial base di Newport News Shipbuilding di Newport News, Virginia.

Pada tahun fiscal 1993, Kongres memberikan $832 juta untuk pengadaan barang (terutama komponen nuklir) untuk CVN-76. Peserta Kongres pada Defense Appropriations Act 1994 menyatakan bahwa $1.2 millyar di National Defense Sealift Fund disediakan. Pada tahun fiskal 1995, Kongres menyetujui dana sekitar $2.3 miliar untuk menutupi biaya pembangunan yang masih ada. Total biaya pembangunan CVN-76 diperkirakan sekitar $4.5 miliar (tahun fiskal 1993-95).

Proses Pembangunan CVN 78 pada Maret 2000 (Foto: www.maritimequest.com)

Kontrak untuk pembangunan USS Ronald Reagan diberikan pada Northrop Grumman Newport News dan Dry Dock Company di Newport News, Virginia pada 8 Desember 1994, dan lunasnya mulai dipasang pada 12 Februari 1998. Dana pembangunan kapal membengkak beberapa kali, termasuk karena desain ulang island. USS Ronald Reagan diremikan namanya oleh istri Presiden Reagan, Nancy pada 4 Maret 2001 di Newport News Shipbuilding. Pada September 2002, kapal induk ini semakin mendekati peresmian dengan pengujian ketapel satu pada dek penerbangan. Uji coba ini bejalan dengan sukses. Awaknya mulai ke kapal pada 30 Oktober 2002. Kapal indduk Reagan dijadwalkan menjalani uji coba laut pertamanya pada Februari 2003.

Sejumlah penundaan terjadi pada pembangunan CVN 76 di awal 2003. Buruknya cuaca menghampat penyelesaian dek penerbangan dan sistem komunikasi terintegrasi. Lebih lanjut, kebakaran di akhir Februari akibat hubungan pendek arus listrik memaksa AL dan galangan kapal menunda pengiriman dan peresmian kapal induk. Hampir 600 circuit breaker diuji ulang untuk memastikan keamanannya, tetapi ditemukan bahwa hampir 200 persen yang diuji mengalami kerusakan.

Pada Mei 2003 awak PCU Ronald Reagan lulus Phase II Crew Certification. Tujuan dari sertifikasi awak adalah untuk menentukan kemampuan awak untuk mengevaluasi pelatihan dan kompetensinya untuk melaksanakan perintah dan tugas.

Pada 20 Juni 2003, AL AS menirima pengiriman PCU Ronald Reagan dan pada 12 Juli 2003 kapal ini diresmikan di Naval Station Norfolk, dengan Captain J. W. Goodwin sebagai komando. Wakil Presiden Dick Cheney dan Lynne Cheney, keduanya hadir saat upacara, semikian juga Nancy Reagan, yang memberikan perinta pertama sebagai unit aktif dari AL sebagai bagian dari tradisi: "Man the ship and bring her to life."

Ronald Reagan melakukan pelayaran pertamanya pada 21 Juli 2003. Presiden Reagan, yang tidak menghadiri peluncuran atau peresmian kapal karena penyaki Alzheimer, meninggal dunia sebelas bulan kemudian. Pada akhir upacara pemakaman, komandan kapal pada saat itu, Captain James Symonds, memberikan bendera yang menutupi peti mati kepada Nancy Reagan sesuai dengan permintaannya. Bendera ini juga merupakan bendera yang berkibar di atas Capitol Hill, 20 Januari 1981, ketika presiden dilantik. Selanjutnya, Captain Symonds juga menghadiahi Nancy Reagan dengan bendera yang berkibar di atas kapal Ronald Reagan ketika sang presiden meninggal duia. USS Ronald Reagan melakukan port visit pertama di Fort Lauderdale, Florida, dari 11–14 November 2003.

Pada 2 Mei 2004, USS Ronald Reagan dikirim ulang ke AL, menandari berakhirnya lima bulan masa Post Shakedown Availability/Selected Restricted Availability (PSA/SRA) di Northrop Grumman, Newport News (NGNN). Pengiriman ulang ini sebenarnya dilakukan ketika kapal induk berada di laut, lepas pantai Virginia, setelah suksesnya sea trials selama 2 hari. Pekerjaan yang diselesaikan selama masal PSA/SRA termasuk penambahan gymnasium seluas 1.300 kaki persegi, fasilitas laundry yang diperluas, modifikasi tiang antenna untuk mengoptimalkan performa dan berbagai upgrade untuk mengakomodasi jet fighter taktis terbaru milik AL, F/A-18 E/F Super Hornet. 



Sejarah Dinas

Pada awal Mei, Reagan menjalani serangkaian sertifikasi dek penerbangan untuk yang kedua kalinya. Ini adalah underway pertama sejak port visit pertama ke Lauderdale, November 2003. Tujuh skuadron berada di atas kapal untuk pelaksanaan sertifikasi. Sertifikasi dimulai pada 5 Mei hingga 8 Mei. Pada 10 Mei 2004, F-14 dari VF-213 "Black Lions", lepas landas dari kapal induk, yang merupakan Tomcat terakhir yang meninggalkan dek USS Ronald Reagan.

Pada 27 Mei 2004, USS Ronald Reagan meninggalkan Naval Station Norfolk untuk yang terakhir kalinya dalam rangka perjalanan ke Amerika Selatan ke homeport baru, San Diego. Pada 9 Juni 2004, kapal induk ditarik ke Rio De Janeiro, Brazil, untuk port visit terjadwal. Pada 27 Juni 2004, USS Ronald Reagan melepas sauh di lepas pantai Valparaiso, Chile, untuk sebuah port call.

Pada 29 Juni 2004, latihan gabungan amfibi multinasional Amerika Latin pertama dilaksanakan dengan 11 peserta: Argentina, Bolivia, Chile, Republik Dominika, Ecuador, Paraguay, Peru, AS dan Uruguay, bersama dengan pengamat dari Colombia dan Mexico. Pada 5 Juli, USS Ronald Reagan CSG menyelesaikan Silent Forces Exercises (SIFOREX), setelah empat hari latihan Anti-Submarine Warfare (ASW) bersama AL Peru.

July 23, CVN 76 ditarik ke Naval Air Station North Island untuk transit dua bulan dari Norfolk, Va. Pada 6 November 2004, kapal induk menjalani underway pertama sejak tiba di homeport baru, San Diego. Kapal induk berada di periode perawatan untuk menyelesaikan perbaikan yang belum tuntas ketika kapal berada di Norfolk.

Pada 5 Juni 2004, pada saat transit, Presiden Ronald Reagan meninggal dunia.

Mulai 1 Oktober 2004, Reagan ditugaskan ke Carrier Strike Group Fifteen.


Penugasan Pertama – 2006 

USS Ronald Reagan meninggalkan San Diego pada 4 Januari 2006, dalam rangka penugasan pertamanya untuk melaksanakan operasi laut sebagai pendukung Operation Iraqi Freedom dan Operation Enduring Freedom, serta untuk melaksanakan operasi keamanan maritime (MSO) di Teluk Persia. Pada 28 Januari 2006, sebuah pesawat fighter F/A-18 Hornet yang mencoba melakukan pendaratan malam hari di atas Reagan menabrak dek penerbangan di sekitar 200km di tenggara Brisbane, Queensland. Pesawat menabrak ramp pada sudut rendah, terbakar dan tergelincir. Pilot selamat dengan menggunakan kursi lontar, tetapi tidak dengan pesawatnya. Kapal induk memasuki wilayah Teluk pada 22 Februari 2006, dan kembali dari tugas pada 6 Juli 2006. 


Penugasan Mendadak 2007

USS Ronald Reagan dan Reagan Carrier Strike Group (CSG) meninggalkan North Island, Coronado, San Diego pada 27 Januari 2007 untuk penugasan mendadak tak terjadwal ke Pasifik Barat, melanjutkan tugas Kitty Hawk yang sedang menjalani perawatan di Jepang. Pada 20 April 2007, Ronald Reagan dan CSG-nya kembali ke Coronado. "Penugasan Mendadak" merupakan bagian dari Fleet Response Plan (FRP) AL, yang memberikan AS kemampuan untuk memberikan reaksi pada komitmen global dengan pasukan yang fleksibel dan berkelanjutan, serta kemampuan untuk dengan cepat merespon berbagai situasi dalam waktu yang singkat.

Pada Januari 2007, diumumkan bahwa Ronald Reagan memperoleh Commander, penghargaan Naval Air Forces Pacific Carrier Battle Efficiency "E" tahun 2006, Battle "E" yang pertama untuk kapal induk.

Reagan kembali ke Naval Air Station North Island pada 20 April 2007, setelah penugasan tiga bulan sebagai pendukung operasi di Pasifik Barat.

Pada 15 Desember 2007, kapal induk menjawab panggilan darurat dari sebuah kapal pesiar di lepas pantai Baja California. Seorang remaja asal Illionis mengalami pecah ususbuntu di atas Kapal Pesiar Mexico, diangkut ke Ronald Reagan dengan helikopter SH-60, yang mana operasi pemotongan usus buntu darurat dilakukan oleh ahli bedah kapal.

Penugasan 2008

USS Ronald Reagan, dengan CVW-14, meninggalkan San Diego pada 19 Mei 2008, untuk penugasan Armada Ketuju dan Kelima terjadwal.

Reagan Carrier Strike Group melakukan operasi bantuan kemanusiaan dan bencana di Filipina pada 24 Juni 2008 setalah Negara itu dihantam badai Fengshen, yang menewaskan ratusas orang di wilayah pulau tengah dan pulau utama Luzon. Badai ini juga mengaramkan penumpang MV Princess of the Stars. Berkerja dengan dukungan AB Filipina, ,Reagan dan Carrier Strike Group 7 pengawalnya, memusatkan usahanya di pulau Panay di Central Visayas. Selama delapan hari, helikopter SH-60 Seahawk dan pesawat C-2A Greyhound dari Ronald Reagan Strike Group membantu pengiriman 519,000 lbs. beras, air bersih dan kebutuhan lainnya di Panay, yang tidak terjangkau melalui transportasi darat karena banjir. Misi di Panay membuat seluruh strike group memperoleh penghargaan Humanitarian Service Medal.

Strike Group sampai di area Armada Kelima pada 28 Agustus 2008, di mana kapal induk ini meluncurkan lebih dari 1,150 serangan ke Afghanistan sebagai dukungan untuk Operation Enduring Freedom. Reagan kembali ke San Diego pada 25 November 2008.

USS Ronald Reagan menerima berita pada Februari 2009 bahwa kapal menerima Battle Effectiveness Award-nya yang kedua.

Penugasan 2009

Pada 28 Mei 2009, Reagan ditugaskan dengan Carrier Air Wing 14 ke area Armada Ketujuh dan Kelima. Reagan membantu CSG Eisenhower dan meluncurkan serangan pertamanya untuk mendukung OEF pada 6 Juli. Reagan kembali ke homeport pada 21 Oktober setelah penugasan lima bulan.

2010

Pada awal 2010, Reagan dianugerahi penghargaan Chief of Naval Operations Afloat Safety "S" 2009 dan Pacific Fleet Battle "E" 2009 untuk efisiensi tempur. Penghargaan Battle "E" merupakan yang kedua berturut-turut dan yang ketiga dalam empat tahun.

Pada 19 Mei 2010, Norfolk Naval Shipyard (NNSY) menuntaskan rangkaian perawatan Planned Incremental Availability (PIA) selama enam bulan pada Reagan. Selama periode perawatan ini, Ronald Reagan menerima upgrade teknologi sebagai persiapan untuk penugasan dan operasi selanjutnya. Refurbishment-nya termasuk sistem tempur hi-tech dan peralatan pemadam kebakarang baru untuk meningkatkan ruang jasa laundry dan ruang kehidupan awak.

Pada 18 Mei 2010, Reagan meninggalkan Naval Air Station North Island untuk uji laut. Uji laut ini merupakan fase akhir dari PIA, dan dilaksanakan untuk menilai kesiapan material Reagan untuk kembali pada armada operasional. Reagan ditarik ke Naval Air Station North Island pada 19 Mei 2010 setelah menyelesaikan uji laut dua hari ini, yang secara resmi menandakan berakhirnya periode perawatan PIA selama enam bulan.

Pada 2 Juni 2010, Reagan, sengan Carrier Air Wing Fourteen (CVW-14), meninggalkan Naval Air Station North Island untuk menjalani sertifikasi dek penerbangan. Pesawat CVW-14 pertama yang mendarat pada dek penerbangan Reagen adalah dari Helicopter Anti-Submarine Squadron 4 (HS-2). Skuadron lain yang diangkut adalah:
· Marine Fighter Attack Squadron 323 (VMFA-323)
· Strike Fighter Squadron 154 (VFA-154)
· Strike Fighter Squadron 147 (VFA-147)
· Strike Fighter Squadron 146 (VFA-146)
· Airborne Early Warning Squadron 113 (VAW-113)
· Fleet Logistics Squadron 30 (VRC-30)

Serifikasi ini termasuk evaluasi penuh pada arresting gear, ketapel uap dan personel dek penerbangan. Departemen udara Reagan dinilai kemampuannya untuk menjaga dek penerbangan operasional penuh dan kemampuan untuk merespon simulasi kecelakaan.

Reagan berpartisipasi pada Exercise RIMPAC selama musim panas 2010.

Reagan meninggalkan Naval Air Station North Island, California, untuk penilaian Board of Inspection and Survey (INSURV) pada 25 Agustus 2010, dan meninggalkan homeport-nya untuk melaksanakan operasi rutin di lepas pantai selatan Kalifornia sebagai persiapan penugasan Western Pacific (WESTPAC) 2011.

Pada November 2010, Reagan mengirimkan kebutuhan darurat dan bantuan pada penumpang yang terdampar di atas Carnival Splendor, yang mengalami kebakaran mesin di Samudera Pasifik.

2011

Kapal berangkat untuk penugasan di Asia pada 2 Februari 2011. Pada 11 Maret 2011, Reagan berada di wilayah semenanjung Korea untuk latihan bersama Korea, tetapi kemudian berputar arah ke Jepang untuk memberikan bantuan setelah gempa bumi dan tsunami di Tōhoku. Kapal induk bersandar di Sendai, dan digunakan sebagai stasiun pengisian bahan bakar terapung bagi militer Jepang dan helikopter penjaga pantai yang sedang melaksanakan tugas bencana di daerah tersebut. Helikopter milik AL AS juga ikut dalam misi penyelamatan dari kapal induk. Pada 13 Maret 2011, kapal mendeteksi paparan sinar gama langsung sebesar 0.6 mR/hr dari awan, 130 mil dari Fukushima Daiichi. Pada 14 Maret 2011, kapal terpaksa dipindahkan untuk menghindari awan radioaktif dari bencana nuklir Fukushima, yang telah mengkontaminasi 17 awak dari tiga helikopter. Pada 23 Maret, awak Reagan melakukan operasi dekontaminasi untuk menghilangkan resiko radiasi dari kapal.

Pada 4 April 2011, menteri pertahanan Jepang, Toshimi Kitazawa, ditemani duta besar AS untuk Jepang John Roos, mengunjungi kapal untuk menyampaikan terima kasih atas bantuannya dalam bencana tersebut.

Kapal kembali ke San Diego pada 9 September 2011.

Pada Januari 2011, AL mengumumkan bahwa USS Ronald Reagan akan dipindahkan ke Puget Sound Naval Ship Yard di Bremerton, Washington untuk Docked Planned Incremental Availability yang dimulai pada Januari 2012 selama lebih dari satu tahun. Dengan demikian, home port resminya berpindah ke Bremerton, Washington. Kapal kembali ke San Diego pada 21 Maret 2013.

2014

Pada 14 Januari 2014, AL mengumumkan bahwa USS Ronald Reagan akan menggantikan USS George Washington sebagai kapal untuk satu-satunya yang ditugaskan di Yokosuka, Jepamg. Hal ini akan dilaksanakan pada 2015.





DESAIN


Catatan: Uraian di bawah ini secara umum merupakan desain dari Kapal Induk kelas Nimitz. Secara umum desain setiap kapal kelas Nimitz serupa, kecuali jika ada catatan khusus. 

Drawing USS Ronald Reagan (Gambar: www.the-blueprints.com)


Struktur

Secara umum, hull kapal induk ini dibangun dari plat baja high-tensile yang sangat kuat, dengan ketebalan beberapa inci. Kekuatan internal kapal induk terutama berasal dari tiga struktur horizontal – lunas berdasar-ganda, dek penerbangan dan dek hangar – yang membentang di seluruh hull dan membentuk persegi panjang. Bagian hull yang berada di bawah garis air membulat dan relatif tipis jika dibandingkan dengan bagian yang berada di atas garis air, yang melebar untuk mengakomodasi lebarnya dek penerbangan. Selain karena bentuk, stabiliser yang sangat teliti membuat kapal sangat stabil.

Bagian bawah kapal induk memiliki dasar ganda yang terdiri dari dua lapisan plat baja berat yang dipisahkan oleh sebuah celah kecil. Desain ini memberikan perlindungan ekstra terhadap kerusakan akibat torpedo atau tabrakan .

Di dalam kapal, terdapat 23 bulkhead (sekat) melintang kedap air, dengan lebih dari 2.000 kompartemen, serta sepuluh sekat pelindung api. Menurut publikasi terbuka, kapal induk kelas Nimitz dapat bertahan lebih dari tiga kali kerusakan yang dapat ditahan oleh kapal induk kelas Essex dari Perang Dunia II, dan dapat menyerap benturan dan gelombang kejut paling tidak pada proporsi yang sama untuk ukurannya. Ukuran Kapal Induk kelas Nimitz yang sangat besar memungkinkannya untuk mengangkut bahan bakar 90% lebih banyak dan amunisi 50% lebih banyak (hamper 3.000 ton) dari pada kapal induk kelas Forrestal



Dek Penerbangan

Dek penerbangan kapal induk kelas Nimitz sangat luas, dengan panjang 1.092 kaki (332,8m), lebar 250 kaki 8in (76.4 m) dengan luas total lebih dari 4. are (1,8 hektar). Saking luasnya, tiga pertandingan National Football League terpisah dapat dilakukan bersamaan di atasnya. Dek penerbangan memiliki angled deck, 14 derajat dari tengah, yang berfungsi sebagai area pendaratan pesawat, dan memungkinkan pesawat diluncurkan secara bersamaan dari ketapel haluan kapal. Selama operasi penerbangan, dek penerbangan dianggap sebagai salah satu tempat kerja paling berbahaya di Bumi. Pandangan ini terutama menyoroti lokasi empat ketapel bertenaga uap, empat elevator dan JBD.

Dek penerbangan memiliki empat ketapel, dua di haluan dan dua di sisi kiri, yang dikenal sebagai “ketapel pinggang”. Ketapel USS Ronald Reagan adalah Type C Mk 13 Mod 2 dengan panjang 310 kaki (94,48m). Ketapel No.4 kapal induk kelas Nimitz terletak di sisi kiri, paling dekat dari ujung dek penerbangan. Ketapel ini tidak dapat meluncurkan pesawat dengan berat penuh karena masalah clearance sayap. Kekurangan ini diperbaiki pada desain USS Ronald Reagan (CVN 76) dan George H.W. Bush (CVN 77).

Terletak tepat di belakang setiap ketapel adalah Jet Blast Deflector (JBD), yang dinaikkan 45 derajat selama peluncuran pesawat, untuk membelokkan pancaran gas buang pesawat. Empat elevator pesawat, tiga di sisi kanan dan satu di kiri, untuk memindahkan pesawat dari hangar ke dek penerbangan. Dek penerbangan dibatasi dengan jaring baja, yang berfungsi sebagai jaring pengaman untuk personel dek.

Deknya sendiri terbuat dari baja berkekuatan tinggi, dengan ketebalan yang dirahasiakan, dan dilapisi dengan lapisan ablatif Kevlar tipis (MS-375G), yang berfungsi sebagai lapisan anti-licin, serta untuk perlindungan tambahan.

Untuk membantu komunikasi, setiap area dek diberi nama khusus, yang digunakan oleh personel dek penerbangan dan kontrol lalulintas udara.

Island kapal induk kelas Nimitz berbeda dari kelas Forrestal. Yang paling jelas adalah pergerakan dari Primary Flight

Control (Pri-Fly) dari bagian buritan ke depan island dan pergerakan dari island sendiri ke buritan untuk mengakomodasi pergantian posisi dari dua elevator depan (dipakai pada kelas Kitty Hawk).

Semua kapal induk kelas Nimitz memiliki empat arresting wires untuk pendaratan pesawat, kecuali pada Ronald Reagan dan George H.W. Bush, yang hanya memiliki tiga.



Personel Dek

Aktivitas dek dipusatkan pada sekitar dua kegiatan – peluncuran dan pendaratan pesawat. Untuk menyelesaikan tugas ini, kapal induk memiliki tim personel dengan tugas yang sangat terspesialisasi, untuk merawat pesawat, mengisi bahan bakar, memandu pesawat di atas dek, menangani persenjataan dan mengawasi peluncuran dan pendaratan. Setiap tugas memerlukan pelatihan tingkat tinggi. Personel dek penerbangan memakai seragam terstandarisasi terdiri dari sepatu dengan bagian bawah baja, celana yang sangat kuat, sarung tangan, pelindung mata dan telinga, serta memakai jaket pelampung special yang disebut dengan “float coat” dan sebuah cranial. Float coat dan cranial memiliki kode warna tersendiri untuk mengidentifikasi setiap tugas personel di atas dek.

Awak USS Ronald Reagan Sedang Menjalani Latihan Pemadam Kebakaran (Foto: Wikipedia)

Operasi penerbangan dikendalikan oleh lima individu: Air Boss, Mini Boss, Handler, Air Bos’n dan Landing Signal Officer (LSO). Air Boss, secara resmi bernama Air Officer, adalah aviator komando post-squadron dan menempati Pri-Fly di tingkat 010 (tingkat tertinggi) di island kapal induk. Berada enam tingkat di atas dek penerbangan, Pri-Fly memiliki jangkauan penglihatan penuh, ke buritan dan depan, pada aktivitas penerbangan, dan mengendalikan semua pesawat di atas dek dan yang sedang terbang dalam radius 5 mil (8km). Mini Boss, secara resmi bernama Air Officer Assistant, membantu Air Boss. Handler, dari posisinya sebagai Flight Deck Control (FDC), mengendalikan semua pergerakan seluruh pesawat di atas dek penerbangan dan hangar, dan menggunakan apa yang disebut sebagai “Ouija Board” untuk memonitor pesawat. Alat ini merupakan diagram skala besar dari dek kapal induk dengan cutout kecil dari setiap pesawat. Cutout ini ditandai dengan nomor pesawat dan keterangan yang merefleksikan flight event, masalah dan status bahan bakar. Air Bos’n bertanggung jawab untuk setiap keadaan darurat selama penerbangan dan General Quarters, dan dibantu oleh seorang staff dari setiap skuadron sesuai dengan manual penerbangan Naval Air Training and Operating Procedures Standardization (NATOPS). LSO mengendalikan pesawat dari ¾ mil saat melakukan pendekatan akhir (pendaratan).



Operasi Peluncuran dan Pendaratan Pesawat

Peluncuran pesawat memerlukan bantuan dari ketapel bertenaga-uap. Setiap kapal induk Nimitz memiliki empat ketapel. Bersama-sama, keempat ketapel ini dapat meluncurkan pesawat setiap 20 detik. USS Ronald Reagan memiliki ketapel uap C-13 Mod 2 (tidak seperti kapal induk kelas Nimitz sebelum CVN 72 yang memiliki ketapel uap C-13 Mod 1). Mod 2 merupakan ketapel bertekanan-rendah yang mengurangi kebutuhan uap dari reaktor, yang pada gilirannya memperpanjang usia inti reaktor. Mod 1 maupun Mod 2 mampu meluncurkan pesawat tanpa adanya headwind. Kapal induk generasi selanjutnya, USS Gerald R. Ford (CVN 78: yang diperkirakan selesai dibangun pada 2015) akan menggunakan sistem baru Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS). Sistem baru ini kemungkinan tidak akan diretrofit pada kelas Nimitz karena meningkatnya kebutuhan listrik.

Tenaga dari ketapel dikombinasikan dengan daya dorong mesin jet, serta angin di atas dek. Kapal induk berputar dan melaju berlawanan dengan arah angin untuk meningkatkan kecepatan angin di atas dek yang memberikan daya angkat tambahan. Faktor ini dikombinasikan dengan kecepatan kapal induk sendiri, sehingga dapat menghasilkan kecepatan angin hingga 50knot (93km/j) –kecepatan kapal induk 30knot (56km/j) dan angin 20knot (37km/j)- dengan ini dapat mengurangi tenaga yang dibutuhkan untuk meluncurkan pesawat sebanyak 50knot, atau untuk membantu peluncuran pesawat dengan berat penuh.

Terletak beberapa yard di belakang setiap ketapel adalah JBD besar berbentuk persegi panjang yang dikontrol secara hidrolis. JBD tetap tertutup hingga beberapa saat sebelum peluncuran, dan berelevasi sebanyak 45 derajat. JBD dibuat dari beton dan memiliki sistem pendingin (menggunakan air laut) yang mencegah kerusakan akibat panas dari semburan gas buang mesin jet. Setiap JBD terdiri dari enam bagian yang dapat dengan bebas dipindah. Struktur ini memantulkan gas buang mesin selama peluncuran dan melindungi baik pesawat maupun awak dek penerbangan.

FA-18E Super Hornets dari Skuadron VFA-115 Diluncurkan dari USS Ronald Reagan (Foto: www.maritimequest.com)

Pesawat di atas kapal induk diluncurkan oleh petugas yang berada di Integrated Catapult Control Station (ICCS), yang juga disebut sebagai “gelembung.” Seperti sebutannya “gelembung” merupakan dome kecil yang terletak di antara ketapel no. 1 dan 2, serta di sisi kiri dek penerbangan, di kiri ketapel no. 4. “Gelembung” menawarkan perlindungan untuk “shooter” yang meluncurkan pesawat, dan dimasukkan kembali ke dalam dek penerbangan ketika tidak digunakan. “Gelembung” diperkenalkan pada 1975, tetapi tidak dibangun hingga kapal induk Nimitz diperkenalkan; dan diretrofit selama periode yard (langsiran).

Sebelum penggunaan “gelembung”, petugas ketapel secara regular berada di area palka-terbuka kecil, memegang papan kontrol ketapel di pangkuannya, menerima instruksi akhir dari “shooter” yang berdiri di dek penerbangan.

Pesawat didaratkan menggunakan sistem arresting gear Mk 7 Mod 3 yang terdiri dari 3 kabel dan sebuah pembatas tabrakan darurat yang berada di belakang dek penerbangan miring. Arresting cable disebut juga liontin “cross-deck” atau “kawat” oleh awak di atas dek. Arresting cable memiliki panjang 110 kaki (33,5m) dan memiliki berat 3,5lb (1,58kg) per kaki.

Ronald Reagan dipasangi dengan sistem arresting gear baru pada periode perawatan terjadwal 2007, yang dikenal dengan nama Advanced Recovery Control System (ARC), yang menggantikan sistem mekanik lama dengan teknologi kontrol digital canggih. ARC akan di-retrofit pada semua kapal induk kelas Nimitz dan kelas Gerald R. Ford. Sebuah sistem baru juga saat ini sedang dalam tahap riset, bernama Advanced Arresting Gear (AAG), yang akan menggantikan seluruh sistem hidrolis Mk 7.

Arresting gear masuk ke dek penerbangan melalui katrol retractable di kedua sisi dek dan melewati bagian bawahnya dan masuk ke ruang kontrol arresting gear, di mana mereka terpasang ke silider hidrolis dari mesin sistem. Tegangan arresting gear diatur untuk setiap tipe pesawat, memperhatikan berat, isi bahan bakar, dan persenjataan. Arresting gear dinaikkan (2-5 inci atau 50-140mm) di atas dek penerbangan. Ketika pesawat menangkap kabel, kabel merenggang dan menyerap hentakan dari pendaratan pesawat. Kapasitas penyerapan energinya sekitar 47,500ft-lb (64.4 MJ). Sistem arresting gear mampu mendaratkan jet seberat 50,000lb (22,727kg) dengan kecepatan 130 knot (241km/j) dan menghentikannya secara total dengan jarak kurang dari 340 kaki (104m). Setiap kabel harus diganti setelah 125 kali pendaratan.



Ruang Hangar

Ruang hangar terletak di bawah dek penerbangan, sepanjang dua pertiga panjang kapal induk. Secara keluruhan berukuran panjang 684kaki (208.5m), lebar 108kaki (33m) dan tinggi 25kaki (7.6m)– hamper setinggi bangunan tiga tingkat. Ruang hangar terbagi menjadi tiga ruang berukuran sama dan dipisahkan oleh serangkaian pintu geser-otomatis berlapis baja berat, bersama dengan sistem pemadam kebakaran yang rumit, yang berfungsi untuk mengurangi kerusakan akibat kebakaran maupun ledakan.

Walaupun hangar sangat luas, tetapi hanya mampu menampung sekitar 50 pesawat, sehingga beberapa pesawat harus selalu parker di dek penerbangan. Ruang hangar digunakan untuk pekerjaan perawatan dan perbaikan, penyimpanan suku cadang, mesin dan drop tank. Aircraft Intermediate Maintenance Division (AIMD) berada tepat di belakang hangar bay.

Untuk memindahkan pesawat dari/ke hangar dan dek penerbangan, kapal induk menggunakan empat elevator besar yang terletak disekitar perimeter hangar dan dek penerbangan. Tiga elevator berada di sisi kanan kapal, No. 1 hingga 3, berurutan dari haluan ke buritan, dan elevator no. 4 berada di ujung belakang sisi kiri dek penerbangan. Setiap elevator terbuat dari aluminium memiliki lebar 52 kaki (15,2m), panjang inboard 70kaki (21,3m) dan panjang outboard 85kaki (25,9). Total luas setiap elevator 3,880ft2 (360m2). Masing-masing mampu menopang berat 47 ton, setara dengan dua F-14 Tomcats (berat penuh). Elevator dipisahkan oleh pintu baja berat, yang menutupi lubang oval.



Island dan Struktur Signifikan Bagian Dalam

Struktur island kapal induk adalah fasilitas komando dan kontrol pusat untuk operasi kapal induk dan udara. Sementara berbagai fasilitas tempur terdapat di dek bagian bawah, island memiliki Bridge, Flag Bridge, dan pusat Pri-Fly. Pri-Fly terletak di puncak island, tepat dibelakangnya adalah area terbuka yang disebut sebagai “Vulture’s Row,” di mana awak dapat mengobservasi operasi udara tanpa gangguan. Tepat di bawah Pri-Fly adalah Bridge, di mana kapal induk dikendalikan. Dari sini, komandan dan petugas eksekutif mengendalikan dan menavigasi kapal induk. Dimulai dengan USS Harry S. Truman, kebanyakan kendali dan display sekarang digital. Flag Plot terletak di bawah Bridge di 08 level di mana commanding admiral atau komandan CSG dapat mengobservasi operasi. Flag Plot awalnya merupakan tempat di mana admiral memimpin operasi battlegroup; posisi ini kemudian secara bertahap dipindahkan ke Tactical Flag Command Center (TFCC) di bawah dek penerbangan.

Baik Ronald Reagan maupun George H.W. Bush memiliki struktur island yang didesain ulang dan tiang komposit. Pri-Fly diperluas, serta jendela yang lebih besar. Tiang buritan dipindahkan dari dek penerbangan ke island untuk meletakkannya pada posisi yang lebih dekat dengan sistem radar lain.

Kapal induk sendiri dibagi menjadi beberapa tingkat, semuanya dirujuk dari dek hangar. Tingkat di atas hangar diberi angka, seperti 01 Deck, 02 Deck, dst., sementara di bawahnya diejakan seperti Second Deck, Third Deck, dst.

Sebagian besar air wing dan fasilitas komando yang berhubungan dengan aviasi berada di 03 Deck (atau

Gallery) terletak di bawah dek penerbangan. Di sini kita dapat menemukan ruang skuadron siaga, satu per skuadron, seperti halnya kantor air wing dan ruang komando, dan wardroom “dirty shirt”. Di depan ruang siaga skuadron, adalah “blue tile country” – sebuah area untuk flag staff,komando pusat dan set kontrol. Dinamakan demikian karena area ini memiliki ubin biru, untuk membedakan fungsi komandonya dari area lain di kapal dan untuk mencegah personel berlalu lalang. Fasilitas komando dan kontrol berikut terletak di sini:
• Combat Information Center (CIC)/Combat Direction Center (CDC)
• Tactical Flag Command Center (TFCC)
• Ships Signals Exploitation Space (SSES)
• Carrier Air Traffic Control Center (CATCC)


Combat Information Center (CIC)/Combat Direction Center (CDC)

CIC (dibaca see-eye-see) berperan sebagai fasilitas komando tempur keseluruhan, mengawasi semua informasi baik yang diperoleh dari sensor kapal dan pesawat atau dari sumber intelijen eksternal. CIC, yang kemudian diganti nama menjadi CDC untuk menunjukkan peran tempur aktifnya, memiliki beberapa sub-kompartemen yang didedikasikan untuk misi peperangan spesifik, termasuk Anti-SurfaceWarfare (ASuW), Anti-AirWarfare

(AAW), Undersea Warfare (USW), dan Electronic Warfare (EW). Pesonel yang berada di masing-masing ruangan khusus mengatur sesuai bidang khususnya dan kemudian mengirimkan informasi dan penilaian mereka ke CDC utama. Bagian-bagian khusus ini dipisahkan secara fisik, yang berfungsi untuk menyebarkan fungsi komando dan membatasi efek kerusakan akibat pertempuran. Dari CDC, komandan meneruskan seluruh informasi ke air wing dan CSG.


Carrier Air Traffic Control Center (CATCC)

CATCC (dibaca cat-see) mengawasi dan menkoordinasi semua operasi udara dan kendali lalu lintas udara di sekitar CSG. CATCC bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan semua pesawat di luar radius 5-mil (8km); di dalam radius ditangani oleh Air Boss di Pri-Fly, dan selanjutnya pada LSO. CATCC, bersama dengan kontroler udara di dalam pesawat E-2 Hawkeyes, akan menjadi suara komando selama misi.


Ships Signals Exploitation Space (SSES)

Walaupun sangan sensitive, tujuan dari SSES adalah untuk memproses dan mengeksploitasi sinyal elektronik. Anggota staf yang bekerja di SSES memiliki akses untuk intelijen tingkat-nasional dan medan perang. SSES bertanggung jawab untuk menyediakan indikasi dan dukungan peringatan kepada pengawas taktis di atas kapal induk dan perencana grup penyerangan, dan menyediakan laporang real-time serta menyebarkan informasi (yang sensitive waktu) kepada pembuat keputusan di level nasional dan taktis. Semua teknisi yang bekerja di SSES memiliki ijin keamanan dan merupakan bagian dari OS Division dari Departemen Intelejen.


Tactical Flag Command Center (TFCC)

Merupakan versi miniature dari CIC, ruang ini merupakan tempat flag admiral dan komandan CSG dapat bekerja untuk mengendalikan operasi CSG, dengan menggunakan berbagai jenis layar display lebar USQ-81(V) 20kaki2 (6.2m2). TFCC kemudian ditambahkan pada setiap kelas supercarrier.



Sistem Pertahanan

Desain kapal induk AS sejak 1950an diarahkan untuk menjauhi penggunaan senjata berkaliber besar, seperti yang diterapkan pada kelas Forrestal, dan focus pada pertahanan misil. Lebih jauh, pertahanan kapal induk sebagian besar diserahkan pada air wing atau kapal lain dari CSG. Kapal induk saat ini normalnya diterjunkan dengan pengiring antara tiga hingga sepuluh kapal tempur, yang terdiri dari frigate, destroyer, cruiser dan kapal selam bertenaga nuklir.

Sebagai tambahan dari pengawal yang sangat kuat ini, kapal induk memiliki kemampuan pertahanan diri yang sangat terbatas terhadap ancaman udara dan bawah laut. Ketika diresmikan pada 1975, USS Nimitz,

Dwight D. Eisenhower dan Carl Vinson masing-masing membawa tiga Basic Point-Defense Missile Systems (BPDMS). Desain aslinya adalah dua sistem misil RIM-24 Tartar untuk pertahanan diri. Sistem misil ini kemudian digantikan dengan meriam kebar 3in/50cal, yang dikendalikan oleh tiga pengarah kontrol-penembakan Mk 56, yang pada gilirannya digantikan oleh tiga meriam anti-pesawat twin quad 40mm Bofors, dan pada akhirnya digantikan oleh BPDMS. BPDMS menggunakan peluncur Mk 25 dan delapan misil sirip-terlipat RIM-7E-5 Sea Sparrow, sebuah turunan dari misil AU AIM-7E. Kontrol penembakannya menggunakan illuminator Mk 115 yang dapat dilatih secara manual.

Pertahanan udara dikembangkan pada awal 1980an, termasuk penggantian sistem kontrol penembakan manual dengan sistem Mk 91 otomatis (memakai radar X-band Mk 95) dengan penambahan radar Mk 23 Mod 3 Target Acquisition System (TAS). TAS/Mk 23 adalah radar L-band dua-dimensi (2-D) yang bekerja dengan baik terhadap target kecepatan-tinggi, terbang-rendah dan sudut-tinggi. TAS/Mk 23 memiliki jarak jangkau lebih dari 20 mil laut (37km) dan dapat melacak 54 target secara bersamaan. Sistem peluncur BPDMS juga diupgrade dengan peluncur Mk 29 dan misil RIM-7M yang lebih mampu. Sistem Mk 29, disebut sebagai Improved Point Defense Missile System (IPDMS) atau nama NATO: Sea Sparrow, awalnya dipasang pada USS Theodore Roosevelt dan kemudian diretrofit pada kapal induk kelas Nimitz yang sebelumnya pada saat periode perawatan.

Misil yang saat ini digunakan adalah RIM-9P. Dimulai dengan USS Dwight D. Eisenhower pada 2001, TAS/Mk 23 digantikan dengan radar pulsa-Doppler, narrow-beam, X-band multimode Northrop Grumman SPQ-9B untuk meningkatkan efisiensi terhadap misil sea-skimming di horizon. Saat ini, SPQ-9B telah dipasang pada Carl Vinson, Harry S. Truman, Ronald Reagan, dan George H.W. Bush.

Pada 1980an juga dilakukan pemasangan Mk 15 Phalanx Close-InWeapon System (CIWS, dibaca see-whiz). CIWS adalah sebuah pedestal-mounted Mk 61A1 20mm Gatling gun dengan sebuah radar self-contained search-and-track yang terletak di dome putih di atas senapan. Setiap unit senapan memiliki magasin drum berisi 1.000 peluru dan dapat menembakkan 3.000 peluru per menit. Setiap peluru terlacak-radar, membuat CIWS dapat melakukan pengaturan jika diperlukan. Phalanx pertama kali dioperasikan di atas Enterprise pada 1980, dan dipasang pada Theodore Roosevelt selama masa pembangunan. Phalanx kemudian diretrofit pada kapal induk kelas Nimitz sebelumnya. Nimitz dan Dwight D. Eisenhower dipasangi dengan tiga, sementara kapal induk setelahnya dipasangi dengan empat.

CIWS digantikan dengan sistem Raytheon Mk 51 Rolling Airframe Missile (RAM) yang lebih mampu. Mk 51 RAM menembakkan misil RIM-116, yang mengkombinasikan seeker-head yang dimodifikasi dari surface-to-air missile (SAM) Stinger (FIM-92) portable dengan proven AIM-9 Sidewinder air-to-air missile (AAM). Misilnya berada di peluncur berputar berisi 21 misil. Mk 51 sangat efektif menghadapi ancaman sea-skimming kecepatan-tinggi modern. Pertama kali dipasang di atas Ronald Reagan dan George H.W. Bush, RAM diretrofit pada kapal induk sebelumnya selama periode perawatan. Nimitz dan Dwight D. Eisenhower yang memiliki tiga Mk 15 Phalanx dan satu peluncur NATO Sea Sparrow digantikan oleh dua sistem Mk 51. George Washington, Carl Vinson, dan Harry S. Truman masing-masing satu CIWS dan NATO Sea Sparrow digantikan oleh Mk 51.

Kapal AL AS menggunakan misil RIM-116B Block I, yang merupakan versi yang lebih canggih, memiliki kemampuan pemandu baik inframerah maupun pasif.

Perlindungan terhadap ancaman bawah air dilakukan oleh sistem countermeasure torpedo SLQ-25A “Nixie” kembar yang terletak di buritan kapal induk. Diperkenalkan tahun 1987 pada Carl Vinson dan Theodore Roosevelt, “Nixie” adalah sebuah alat noisemaker yang ditarik di belakang kapal induk, ketika terdapat ancaman dari torpedo yang dating, “Nixie” mengganggu torpedo dan menariknya menjauhi kapal induk menggunakan fiber-optic tow cable. SLQ-25B menambahkan alat deteksi torpedo dan sebuah SLX-1 Multi-Sensor Torpedo Recognition and Alertment Processor (MSTRAP), dan Launched Expendable Acoustic Decoy (LEAD). LEAD diluncurkan dari sistem decoy Mk 36, peluncur Mk 137. Sebuah sistem countermeasure torpedo eksperimental diujicobakan di Nimitz dari 1995 hingga 2000, sengan sedikit kesuksesan. Selama waktu tersebut, kapal induk dipasangi dengan sensor deteksi torpedo linear pasif SLR-24 yang ditarik di belakang kapal induk sebagai bagian dari purwarupa sistem SCT-1.

Perlindungan misil tambahan dilakukan oleh empat sistem countermeasure decoy Mk 36 Super Rapid Blooming Off-board Countermeasures (RBOC). Mk 36 merupakan sebuah mortar-tube launched decoy yang terdidi dari enam tabung fix 130mm yang dipasang secara parallel dua baris. Tabung peluncuran (diberi nama Mk 137) bersudut p45 derajat (empat tabung) dan 60 derajat (dua tabung) untuk mendapatkan penyerbaran optimum. Setiap RBOC Super dapat meluncurkan salah satu dari tiga tope decoy: SRBOC, yang menggunakan chaff untuk mengalahkan misil dan radar yang memancarkan RF; NATO Sea Gnat, yang mirip dengan SRBOC tetapi dengan jarak yang lebih jauh dan dengan payload yang lebih besar; dan TORCH, yang mengalahkan misil pencari-panas. Isi ulang manual terletak di dekat Mk 5 Ready Service Stations. Peluncur Mk 36 ditembakkan dari stasiun EW di bridge.

Electronic jamming dilakukan oleh SLQ-32(V)4 arrays, terletak di sisi kiri dan kanan, yang mendeteksi dan aktif meng-kounter ancaman dari misil yang dating. SLQ-32(V)4 juga dapat memicu modul chaff, memberikan respon Electronic Counter Measure (ECM) komprehensif. Kapal induk kelas Nimitz awal menggunakan SLQ-17, yang menggunakan pengecoh elektronik dan memproyeksikan citra “hantu” kea rah misil yang datang. 



Sistem Elektronik dan Radar

Kapal induk kelas Nimitz tergantung pada banyaknya peralatan radar dan sensor elektronik selama operasi normal dan masa perang. Dari navigasi dan komunikasi instan ke pemandu senjata, kapal induk kelas Nimitz dipenuhi oleh berbagai radom, antenna dan radar, sebagian besar darinya berada di sekitar struktur island. Beberapa, seperti antena cambuk VHF/UHF besar 35kaki (10,6m) berada di ujung dek. Antena-antena ini disimpan dalam posisi horizontal selama operasi penerbangan dan dinaikan jika dibutuhkan. Antena-antena ini dalam proses untuk dihilangkan ketika kapal induk akan mulai RCOH. Sebagian besar sistem signifikan yang digunakan untuk pencarian permukaan dan udara, navigasi, pendaratan pesawat dan komunikasi dijelaskan sebagai berikut:



Pencarian Udara

Kapal Induk Theodore Roosevelt hingga Harry S. Truman membawa radar pencari udara 2-D SPS-49(V)5 yang menawarkan jarak dan informasi hubungan. Nimitz, Dwight D. Eisenhower, Carl Vinson, dan Ronald Reagan masing masing membawa SPS-49A(V)1 yang lebih baru. Roosevelt akan menerima varian ini ketika selesai RCOH. Radar pencari udara tiga-dimensi (3D)-nya adalah SPS-48C pada semua kapal induk kecuali George Washington dan John C. Stennis (CVN 74), yang menggunakan radar SPS-48E. SPS-48 memberikan deteksi jarak jauh lebih dari 200 mil laut (370km) dan menampilkan jarak, azimut, dan elevasi target, memberikan citra 3D.


Pencarian Permukaan

Pencarian permukaan ditangani oleh SPS-67(V)1 (porsi spektrum elektromagnetik antara 500 hingga 1000 MHz), sebuah versi modular padat dari SPS-10 klasik. Semua kapal induk kelas Nimitz selain Theodore Roosevelt, yang memiliki sebuah Sperry Raster, menggunakan radar navigasi Furuno 904. SPS-67 menggantikan SPS-53 yang penggunaannya terbatas dan SPS-10, yang merupakan radar pencari permukaan standar ketika Nimitz diresmikan pada 1975. SPS-67 adalah radar pencari dan navigasi permukaan jarak-menengah yang beroperasi pada C-band. Performa SPS-67 disempurnakan melalui pengunaan sebuah mode pulsa 0,1-microdetik sempit yang menghasilkan resolusi dan deteksi yang lebih baik. Pulsa yang lebih besar digunakan untuk navigasi laut-terbuka. Navigasi juga disempurnakan oleh radar komersial LN-66, BridgeMaster E (BME), dan Furuno 904.


Komunikasi

Disamping antenna cambuk VHF/UHF yang disebutkan sebelumnya, kapal induk kelas Nimitz memiliki set komunikasi canggih jarak-lebar yang sanat tergantung pada Satellite Communications (SATCOM). Kapal induk kelas Nimitz sekarang memiliki: WSC-3 (UHF); WSC-6 (SHF) untuk Defense Satellite Communications System (DSCS); WRN-6 Satellite Signals Navigation Set (GPS); dan USC-38 (EHF) untuk komunikasi aman tahan jamming dan mempunyai kemungkinan kecil untuk diintersep/disadap. Mereka juga menggunakan SSQ-82; antena siaran armada SSR-1 FM; penerima WRN-6 GPS; SRN-9 dan penerima SRN-19 Navy Navigation Satellite System (NAVSAT); dan penerima SMQ-11 untuk satelit ramalan cuaca lautan TIROS-N. Kebanyakan penerima satelit berada di dome perlindungan tertutup, dimana mereka dapat dikontrol secara environmental untuk perform optimal.

Sebuah program untuk penggunaan sistem SATCOM komersial C-Band diujicobakan di George Washington pada 1993 dan setelah itu diadopsi pada kapal induk lain. Dikenal sebagai Challenge Athena (WSC-8), sistem ini mentransmisikan data intelijen, citra dan komunikasi personel kapal, seperti hubungan telepon Continental US (CONUS), telekonferensi video, email dan akses langsung ke stasiun televisi komersial. Sebuah versi baru berkecepatan tinggi, dikenal sebagai Challenge Athena III, sedang dalam tahap integrasi.


Carrier Controlled Approach (CCA)

Kapal induk juga tergantung pada sebuah sistem radar untuk mengendalikan Automated Carrier Landing System (ACLS) dan untuk memonitor dan membantu pesawat pada saat pendaratan (pendekatan akhir). Kapal induk kelas Nimitz sebelumnya menggunakan kombinasi dari SPN-35A (X-band carrier-control approach), -41 (gelombang mikro yang menyediakan data jalur penerbangan), -42 (radar ACLS Ka-band dengan X-band beacon receiver untuk kontrol marshaling dan presisi), dan -44 (gelombang mikro, digunakan oleh LSO); SPN-43A/B mulai menggantikan SPN-35 pada 1996. SPS-46 menggantikan -42, dimulai pada Theodore Roosevelt. Sistem radar ini memiliki sepasang antena yang mengarah ke buritan untuk membantu pesawat pada pendekatan akhir pendaratan pendek. Semua kapal induk kelas Nimitz tergantung pada sinyal suar pelacak URN-25 TACtical Air Navigation (TACAN) untuk membantu pesawat menemukan lokasi kapal induk.



Pertahanan Udara Terintegrasi

Percobaan terkini telah dilakukan untuk menambahkan sistem radar pertahanan udara terintegrasi untuk membantu perlindungan kapal induk dari ancaman yang dating. Dibangun oleh Raytheon, Ship Self-Defense System (SSDS) bersama sensor yang sudah ada seperti radar SPS-49 dan SPS-67, SLQ-32, dan sistem peluncuran suar Mk 36, dengan sistem persenjataan seperti Phalanx, BPDMS, dan Mk 51 RAM, untuk membentuk suatu sistem pertahanan udara organic.

Dwight D. Eisenhower menerima versi pertama dari SSDS, dikenal sebagai Advanced Combat Defense System (ACDS), pada 1998. Nimitz menerima pemasangan SSDS Mk 2 Mod 1 selama 2001. Sistem yang sama juga ditemukan pada Ronald Reagan. Sebuah sistem pertahanan udara terintegrasi yang lebih canggih direncanakan untuk digunakan pada Ronald Reagan dan George H.W. Bush di bawah julukan Project Akcita, yang menggabungkan elemen dari radar multi-fungsi, Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM), dan Advanced Integrated Electronic Warfare System (AIEWS). Radar A D-band, Project Akcita akan menggunakan teknologi circuit-terintegrasi monolitik dan akan mampu melacak lebih dari 1,000 target hingga jarak 245 mil (400km). Sistem ini akan digabungkan dan menggantikan SSDS. Sebagai tambahan, sistem terintegrasi baru dan komprehensif, dikenal sebagai USG-2 Cooperative Engagement Capability (CEC), dipasang pada kapal induk kelas Nimitz­ awal, yang mengkoordinasikan sistem sensor dan persenjataan dari seluruh CSG, termasuk pesawat yang berpangkalan di kapal induk, P-3 Orions yang berpangkalan di darat dan P-8A Poseidons, kapal yang dilengkapi-Aegis dan kapal perang amfibi utama. Dwight D. Eisenhower menjalani ujicoba dengan CEC versi USG-1 pada akhir 1994 dan versi USG-2 dipasang selama 2000-2002. Interaksi CEC adalah penting untuk platform E-2D Advanced Hawkeye yang dilengkapi dengan versi USG-3, bergabung dengan armada pada 2013.



Carrier Air Wing (CVW)

Sejak dimulainya aviasi kapal induk, kekuatan ofensif kapal induk dating dari air wing mereka. Carrier AirWing (CVW) terdiri dari campuran pesawat yang didesain untuk menyediakan kemampuan ofensif bagi kapal induk, ditambah kemampuan pertahanan untuk melindungi CSG, sejumlah pesawat pendukung dengan peran khusus. Ketika Nimitz mulai bertugas, setiap kapal induk memiliki dua skuadron pesawat fighter, pertama F-4 Phantoms dan selanjutnya F-14 Tomcats, dan tiga skuadron pesawat serang –dua skuadron serang-ringan dengan pesawat A-7 Corsair II dan satu skuadron serang-menengah dengan pesawat A-6E Intruder. Skuadron Intruder juga melaksanakan layanan pengisian bahan bakar di udara organic melalui “buddy stores” mereka – aerial refueling systems (ARS) – dan dengan empat pesawat tanker KA-6D (Intruder dipensiunkan pada 1996, bersama dengan misi serang segala-cuaca). Bersama-sama, skuadron ini membentuk inti dari kekuatan serang ofensif kapal induk. Tomcats, dengan misil jarak jauh mereka, AIM-54 Phoenix dan radar AWG-9, juga menyediakan pertahanan armada terhadap serangan misil dari bomber Soviet jarak jauh.

Pesawat lainnya beroperasi dengan peran pendukung, menyediakan peringatan dini udara dan jamming taktis udara, serta dukungan anti-kapal selam. E-2 Hawkeye, yang mulai beroperasi pada 1965, berperan sebagai “mata di langit” bagi armada, dengan radom berputarnya memberikan komandan battlegroup sebuah citra udara penuh ratusan mil di sekitar kapal induk. EA-6B Prowlers mendampingi pasukan serang, menawarkan jamming elektrik dan lokalisasi pemancar dari radar musuh dan lokasi SAM. Sejak 1984, Prowlers kadang membawa misil anti-radiasi AGM-88 HARM untuk menghancurkan radar musuh. Dukungan ASW dilakukan oleh helikopter dan setelah 1975, Lockheed S-3 Viking, yang diterjunkan dalam skuadron Air ASW (VS). Asset ASW menggunakan sebuah kombinasi dari sensor termasuk sonobuoys, radar pencari permukaan dan sebuah Magnetic Anomaly Detector (MAD), untuk mendeteksi, melokalisasi dan mengklasifikasi kapal induk, dan melaksanakan penyerangan menggunakan torpedo dan bom laut.

Komposisi airwing telah berubah secara signifikan sejak pelayaran pertama Nimitz pada 1975. Pada pelayaran tersebut, yang berlangsung dari 16 Juli hingga 24 September, Nimitz diterjunkan dengan Carrier Air Wing Eight (CVW 8), yang terdiri dari skuadron fighter VF-31 dan VMFA-333 (F-4J Phantom II), skuadron serang-ringan VA-82 dan -86 (A-7E Corsair II), skuadron serang-menengah VA-35 (A-6E Intruder; tanker KA-6D), sebuah skuadron peringatan dini VAW-116 (E-2B Hawkeye), dan sebuah skuadron electronic warfare, VAQ-130 (EA-6B Prowler). ASW disediakan oleh HS-15’s SH-3D Sea Kings.Pesawat intai (RF-4C atau RA-5C Vigilante) dan pesawat survei elektronik (EA-3B Skywarriors atau Whales). Misi intai-foto kemudian dilaksanakan oleh satu atau dua skuadron Tomcats menggunakan Tactical Reconnaissance Pod System (TARPS).

Komposisi air wing “konvensional” yang disebutkan di atas digunakan antara 1970an dan 1980an, Corsair II digantikan oleh Hornet pada pertengahan akhir 1980an. Selama 1990an, Intruder digantikan oleh satu skuadron Tomcats dan tiga atau empat skuadron F/A-18 Hornets berperan ganda. Skuadron VS, yang bertugas sebagai tanker bahan bakar bagi Intruder, terus bertugas hingga 2008.

Dua FA-18C Hornets Terbang di Atas USS Ronald Reagan (Foto: www.maritimequest.com)

Komposisi air wing terkini biasanya terdiri dari 44 pesawat serang – dua skuadron (masing-masing 11 pesawat) F/A-18E/F Super Hornets (satu -E dan satu -F), dan dua skuadron (masing-masing 11 pesawat) F/A-18A/C Hornets (satu di antaranta kemungkinan merupakan skuadron milik Korps Marinir AS); satu skuadron berisi empat EA-6B Prowlers; satu skuadron berisi empat E-2C Hawkeyes; dan tujuh SH-60F/HH-60H Seahawks.

F-35 Lightning II Joint Strike Fighter (JSF), diharapkan akan bergabung dengan armada pada 2015, akan menggantikan F/A-18C dan menjadi pelengkap Super Hornet. Sejak 2010, EA-6B digantikan dengan EA-18G Growler, sebuah turunan dari Block II F/A-8F Super Hornet. Juga, E-2D Advanced Hawkeye akan menggantikan E-2C Hawkeye 2000, dimulai pada 2014. MH-60R/S Seahawks sudah siap menggantikan helikopter SH-60B, -F, dan HH-60H sebagai bagian dari skuadron Helicopter Sea Combat (HSC) dan Helicopter Maritime Strike (HMS) yang baru dibentuk dan melakukan penerjunan pertamanya pada Januari 2010 di atas USS John C. Stennis.

Air wing dipimpin oleh seorang kapten yang disebut Commander, Carrier Air Wing, tetapi tetap dikenal sebagai “CAG,” sejak air wing dikenal sebagai Carrier Air Groups. CAG dianggap sebagai posisi komando utama dan kemungkinan dipegang oleh seorang petugas NFO. Lamanya masa jabatan biasanya 18 bulan.



Propulsi dan Powerplant

Powerplant kapal induk kelas Nimitz berada di Fourth Deck dan di bawah pengamanan ketat. Walaupun detail powerplant mereka sangat dirahasiakan, kapal induk kelas Nimitz didukung oleh dua reaktor Westinghouse A4W, masing-masing memproduksi cukup uap untuk menghasilkan 140,000shp (104MWe). Reaktor A2W digunakan pada USS Enterprise, yang memiliki delapan, sementara A3W merupakan reaktor yang awalnya akan digunakan untuk USS John F. Kennedy. Inti reaktor untuk Nimitz dan Dwight D. Eisenhower diperkirakan memiliki masa operasional 13 tahun, sementara pada Vinson dan kapal induk kelas Nimitz lain diperkirakan 15 tahun.

Reaktor A4W memanaskan air bertekanan, yang pada gilirannya memanaskan putaran air terpisah dan mengubahnya menjadi uap bersuhu dan bertekanan tinggi. Uap ini menggerakkan empat turbin propulsi-utama dan mesin tambahan, serta menghasilkan uap untuk keempat ketapelnya. Tenaga dialirkan ke empat batang propeller 462kaki (140.8m), masing-masing beriameter 2kaki (0.6m) dengan berat lebih dari 364 ton, yang menggerakkan empat brass propeller lima-bilah berdiameter 22kaki (6.71m), yang masing-masih berbobot lebih dari 30 ton. Saking besarnya ukuran batang propeller, hingga harus dipasang dalam tujuh bagian.

Kontrol navigasi dilakukan dengan dua sirip kemudi, yang masing-masing berbobot 50 ton dan berukuran 29 kaki.

Kapal induk kelas Nimitz secara resmi memiliki kecepatan maksimal 30 knots (56km/jam), tetapi kecepatan aslinya masih dirahasiakan.

Reaktor kapal induk diawasi oleh Reactor Department, yang dapat memiliki sembilan divisi, termasuk kendali kerusakan khusus, yang pada beberapa kapal induk dikenal sebagai Divisi RXDC Division. Departemen ini dipimpin oleh petugas reaktor, biasanya seorang Komandan.





SPESIFIKASI 


Negara Asal: Amerika Serikat
Awal Tugas: 2003
Operator: Amerika Serikat

Awak: 5.680
Panjang: 1.092 kaki (332,84m)
Beam: 252 kaki (76,81m)
Draught: 41 kaki (12,50m)
Bobot: 97.000ton

Mesin: 2 x reaktor nuklir Westinghouse A4W dengan 4 x turbin uap yang menggerakkan 4 x batang propeller pada 260,000 shaft horsepower.
Kecepatan: 30knots (35mpj)
Jarak Operasional: Tidak Terbatas

Persenjataan:
2 x peluncur misil permukaan-ke-udara Sea Sparrow Mk 29
2 x peluncur misil permukaan-ke-udara jarak pendek RIM-116 RAM (Rolling Airframe Missile)

Air Arm: Hingga 90 pesawat dari berbagai tipe termasuk:
Fighter serang/pertahanan armada Boeing F/A-18 Hornet/Super Hornet
Grumman EA-6B Prowler EWA/Strike
Pesawat intai Northrop Grumman E-2C "Hawkeye 2000" AEW
Helikopter anti-kapal/kapal selam Sikorsky SH-60 Seahawk
Helikopter angkut Sikorsky HH-60 Seahawk
Pesawat angkut Grumman C-2A Greyhound

Kelas Kapal: Nimitz
Jumlah Kapal Sekelas: 10
Kapal Sekelas: USS Nimitz (CVN-68); USS Dwight D. Eisenhower (CVN-69); USS Carl Vinson (CVN-70); USS Theodore Roosevelt (CVN-71); USS Abraham Lincoln (CVN-72); USS George Washington (CVN-73); USS John C. Stennis (CVN-74); USS Harry S. Truman (CVN-75); USS Ronald Reagan (CVN-76); USS George W. Bush (CVN-77)





SUMBER

Elward, Brad. 2010. New Vanguard 174: Nimitz-Class Aircraft Carriers. Osprey Publishing.
Fontenoy, Paul. 2006. Weapon and Warfare Series, Aircraft Carriers: An Illustrated History of Their Impact. ABC-CLIO.

www.fas.org
en.wikipedia.org
www.uscarriers.net
www.militaryfactory.com
www.globalsecurity.org 

Kamis, 13 Februari 2014

HMS Illustrious (87)


Foto: fleetairarmarchive.net



Nama: HMS Illustrious (Illustrious Class fleet carrier) 
Dibangu Oleh: Vickers-Armstrong, di Barrow-in-Furness 
Laid down: 27 April 1937 
Diluncurkan: 5 April 1939 
Mulai Bertugas: 25 May 1940 
Status: Dibongkar pada 1956 


HMS Illustrious dibangun oleh Vickers-Armstrongs di Barrow-in-Furness dan mulai ditugaskan pada Mei 1940, kurang dari sebulan sebelum tenggelamnya HMS Glorious. Kapal induk ini merupakan kapal pertama dari empat kapal induk armada kelas Illustrious, yang kesemuanya memiliki hangar dan dek penerbangan berlapis baja. Lapis baja ini membuat kapasitas hangar berkurang tetapi memberinya kelebihan dalam hal proteksi menghadapi serangan bomber-tukik maupun kamikaze.

Pada Agustus 1940. “Lusty” bergabung dengan Armada Mediterania, dan skuadronnya dengan cepat memperoleh reputasi dalam hal efisiensi. Kejayaan kapal induk ini diperoleh pada malam hari 10-11 November 1940, ketika pesawat bomber-torpedo Swordfish menyerang armada Italia di Taranto, menenggelamkan satu battleship dan melumpuhkan dua lainnya. Pada Juni 1941, HMS Illustrious diserang oleh pesawat Axis ketika beroperasi di Sisilia. Kapal ini terhantam delapan kali, dengan sebuah bomb seberat 500kg menembus lapis bajanya dan meledak di dalam hangar. Kapal induk ini kemudian diperbaiki di Norfolk, Virginia, dan kembali ke Mediterania melalui Samudera India, di mana dia mendukung operasi pendaratan di Madagaskar. Setelah kembali ke Mediterania, kapal induk ini ikut ambil bagian dalam Operasi Husky (Invasi Sisilia), dan menerbangkan pesawat patrol di atas pantai Salerno.

Kapal induk ini menyelesaikan perang sebagai bagian dari Armada Pasifik Inggris yang baru dibentuk. Di kepulauan Okinawa, dek penerbangan berlapis bajanya membuktikan kelebihannya ketika serangan kamikaze gagal membuat kapal induk lumpuh. “Lusty” pada akhirnya dipensiunkan dan dibuang pada 1956.




SEJARAH 


Latar Belakang

Pada awal 1930an, menjadi jelas bahwa hanya ada sedikit dukungan internasional untuk perjanjian AL selanjutnya. Sebuah indikasi dari meningkatnya ketegangan internasional adalah dengan adanya pembatalan “Ten-Year Rule” oleh Inggris pada 1932. London Naval Treaty (1930) dianggap tidak berhasil dan London Naval Treaty Kedua (1936) yang telah ditandatangani, diabaikan oleh Jepang dan Italia.

Perjanjian baru dibuat dan membatasi kapal induk baru pada bobot maksimal 23.000 ton, dan perencana AL Inggris segera mulai membuat desain untuk kelas kapal induk baru berdasarkan desain dari Ark Royal yang pada saat itu sedang dalam pembangunan.

Pada 1936, Departemen AL Inggris memperkenalkan sebuah program pembangunan baru yang termasuk di dalamnya pembangunan dua kapal induk baru. Sea Lord Ketiga, Sir Reginald Henderson yang merupakan mantan komandan Kapal Induk Furious, menyadari bahwa ancaman terbesar dari kapal-kapal induk baru ini di perairan Eropa adalah dari pesawat dari darat. Selain itu, bagaimanapun juga, kapal induk harus cukup cepat untuk menghindar dari kapal permukaan musuh, sementara para kapal pengawalnya diharapkan mampu melindungi mereka dari kapal selam. Henderson mengharapkan, untuk mengatasi ancaman udara tersebut kapal induk harus dilindungi dengan baik melalui lapis baja yang dapat bertahan dari hantaman langsung bom seberat 500lb. Hasilnya adalah lahirnya kapal induk armada pertama di dunia yang berlapis baja. Pekerjaan untuk mendesain kapal baru ini diserahkan pada William Forbes, kepala desainer kapal induk AL.

Segala bentuk konstruksi AL selalu membutuhkan kompromi. Desain harus seimbang antara kecepatan, proteksi dan kapasitas pesawat. Level proteksi ekstra kapal induk baru ini, berarti mengorbankan salah satu dari dua elemen lainnya. Telah diputuskan bahwa lapis baja ekstra ini membuat kapal menjadi sangat berat, sehingga tidak seperti Ark Royal yang memiliki dua dek hangar, kapal induk ini hanya memiliki satu. Hal ini memperendah pusat gravitasi, tetapi juga mengurangi separuh kapasitas hangar, yang berarti kapal induk hanya mampu membawa pesawat dalam jumlah yang lebih sedikit. Ark Royal memiliki kapasitas 60 pesawat, sementara kapal induk baru ini terbatas pada 36 pesawat.

Fitur kunci dari kapal induk baru ini adalah ‘armoured box’ mereka. Dek penerbangannya dilindungi dengan 3in (75mm) lapis baja dan ‘box’ ini di sepanjang kapal, mencakup seluruh hangar. Bagian sisi kapal dilindungi oleh 4½in (112.5mm) lapis baja, serta bulkhead dengan ketebalan yang sama di depan dan di belakang. ‘Box’ ini kemudian bergabung dengan sabuk lapis baja yang melundungi bagian vital kapal induk, sistem propulsi, tangki bahan bakar dan magazine. Hangarnya sendiri memiliki panjang 458 kaki, lebar 62 kaki dan tinggi 16 kaki, dan dalam keadaan mendesak dapat memuat 30 pesawat bomber-torpedo Fairey Swordfish dan enam pesawat fighter atau bomber-tukik.

Titik kelemahan dari struktur kapal induk ini adalah pada elevator yang terletak padamasing-masing ujung dek penerbangan. Keduanya harus tetap tanpa lapis baja karena harus tetap ringan agar dapat beroperasi. Akan tetapi, dua layar lapis baja yang dapat bergerak dapat digeser selama diperlukan untuk melindungi hangar jika bomb menghantam lift. Cara cerdik digunakan di Pasifik dengan membuat gambar lift tiruan dengan cat di dek penerbangan untuk menipu pilot dan pembidik bom musuh.

Program 1936 menyebut kebutuhan dua kapal induk, tetapi konstruksinya tertunda, sementara Forbes tetap membuat spesifikasi untuk ‘armoured box’. Desain Forbes akhirnya disetujui pada Desember, dan dua kapal pertama dari kelas Illustrious –Illustrious dan Victorious- mulai dibangun pada musim semi 1937.



Konstruksi

Illustrious dibangun oleh Vickers-Armstrongs at Barrow-in-Furness, diluncurkan pada 1939, dan mulai dioperasikan pada 16 April 1940. Kapal induk ini memiliki bobot 28.000 ton dan mampu mengangkut 57 pesawat, termasuk sekitar 33 hingga 36 pesawat (tergantung tipe) di dalam hangar berlapis baja. Illustrious mengangkut lebih sedikit pesawat dibandingkan pendahulunya, Ark Royal dan kapal induk kelas Indomitable dan Implacable. Hangar berlapis baja berat membuat kapasitasnya menjadi lebih kecil dibandingkan Ark Royal, tetapi setelah round-down dek penerbangan dihilangkan selama refit dan mulai dipakainya deck park permanen, kapasitas angkut pesawatnya meningkat drastis.

Kapal induk ini memiliki nama panggilan “Lusty” yang diberi oleh para awak yang berdinas di dalamnya. Pada 24 Mei 1940, Illustrious menjalani uji coba tenaga penuh dan mencatatkan 113,700 shp pada 234.2 rpm. Kecepatan persisnya tidak tercatat tetapi diperkirakan kapal induk ini mampu mencapai 31 knots (57 km/j; 36 mpj) dengan kekuatan penuh.

Biaya pembangunan Illustrious adalah £3,800,000. Peralatan elektronik yang dipasang padanya bernilai £13,500, dan pesawat terbang yang dioperasikan pada 1939 bernilai £600,000.


Foto: fleetairarmarchive.net

Masa Dinas

Illustrious bergabung dengan armada pada Agustus 1940. Penugasan pertamanya di Laut Mediterania, di mana dia bertugas untuk memberikan payung udara, menyerang kapal-kapal Axis, dan menyerang posisi di Afrika Utara.

Pada 31 Agustus, Illustrious meluncurkan serangan pada lapangan udara di Maritza. Pada 11 November 1940, kapal induk ini menjadi kapal induk pertama di dunia yang melancarkan serangan besar kepada armada musuh dalam sebuah serangan berani terhadap armada Italia di Taranto. Dua puluh satu pesawat milik Skuadron Nomor 813, 815, 819 dan 824 dari kapal induk Illustrious menyerang armada Italia pada malam hari. Armada Italia lengah dan satu battleship tenggelam dan dua lainnya rusak parah.

Pada 10 Januari 1941, ketika sedang mengawal konvoi Operation Excess di timur Sisilia, Illustrious diserang oleh bomber Axis Savoia-Marchetti SM.79 dan Junker Ju 87. Kapal induk ini terhantam enam bom dan menderita kerusakan besar: ruang perawatan kesehatan dan bangsalnya hancur, dan di antara mereka yang gugur adalah pemain rugby W.G.E Luddington. Ketika dalam masa perbaikan di Malta, kapal induk ini kembali dibomb pada 16 dan 19 Januari, yang mengakibatkan kebocoran pada kompartemen hull luar dan beberapa kerusakan kecil lainnya, tetapi ruangan mesinnya tetap utuh. Pada 23 Januari, Illustrious berlayar ke Aleksandria, Mesir untuk perbaikan sementara dan tiba pada siang 25 Januari.

Illustrious diperbaiki di Aleksandria hingga 19 Maret 1941, kemudian berlayar ke Durban, Afrika selatan untuk masuk dok kering dalam rangka pemeriksaan kerusakan bawah air. Dia kemudian berlayar ke Virginia untuk perbaikan permanen dan refit substansial di Norfolk Navy Yard, tiba pada 12 Mei.

Di Norfolk, kerusakan diperbaiki, serta beberapa modifikasi dibuat. Modifikasi ini termasuk pemasangan elevator pesawat yang lebih baik, penambahan ruang dek penerbangan sepanjang 50 kaki (15m), penambahan sepuluh senapan anti-pesawat 20mm, dan modifikasi ketapel untuk pengoperasian pesawat buatan AS. Pengerjaan tersebut selesai pada Oktober. Illustrious kemudian menjalani ujicoba, yang berhasil diselesaikan pada Desember. Dia kemudian berlayar ke Inggris bersama dengan kapal induk sekelasnya, Formidable. Pada 16 Desember, dikarenakan kondisi cuaca yang ekstrim, kedua kapal tersebut bertabrakan yang mengakibatkan kerusakan serius pada keduanya.

Illustrious diperbaiki di Greenock hingga akhir Februari 1942. Pada 23 Maret, dia berlayar menuju Samudera Hindia.

Pada Mei 1942, Illustrious dan sister ship-nya, Indomitable memberikan payung udara untuk Operation Ironclad, pendaratan di Madagaskar. Dia kemudian ditugaskan ke Armada Timur Jauh. Dari Juni hingga Agustus 1942, Illustrious bersama Armada Timur Jauh bertempur menghadapi pasukan Jepang, termasuk dalam Operasi Stab pada Agustus.

Pada September 1942, Illustrious kembali ke Madagaskar untuk Operasi Stream, yang menuntaskan pendudukan Sekutu. Dia kemudian berlayar ke Durban untuk refit singkat dan kembali bergabung dengan Armada Timur Jauh pada Desember.

Akan tetapi tak lama kemudian, dia ditarik ke Inggris pada 5 Januari 1943. Dari Maret hingga Mei 1943, Illustrious menjalani refit di Birkenhead. Dek penerbangan diperpanjang lebih lanjut, radar baru dipasang, senapan anti-pesawat 20mm tunggal diganti dengan ganda, dan dua kabel penangkap pesawat baru dipasang.

Setelah uji coba, Illustrious bergabung dengan Force A yang merupakan bagian dari Home Fleet pada Juli 1943 untuk Operation Governor. Operation Governor bertujuan untuk memancing battlesip Jerman, Tirpitz, dan heavy cruiser lain keluar untuk bertempur, dengan melakukan serangan lemah di Pantai Norwegia Selatan. Pada September, Illustrious dipindahkan ke Forde H di Mediterania, untuk memberikan payung udara bagi pendaratan di Salerno (Operation Avalanche).

Illustrious kemudian kembali ke Inggris untuk refit singkat, termasuk penambahan senapan anti-pesawat 20 mm ganda dan upgrade ketapel. Illustrious ditugaskan untuk kembali bergabung dengan Armada Timur Jauh; dia meninggalkan Inggris pada 30 Desember 1943, dan tiba di Trincomalee, Ceylon pada 31 Januari.

Dari Februari hingga Agustus 1944, dia beroperasi dengan Armada Timur Jauh, dan berpartisipasi dalam berbagai penyerangan, termasuk penyerangan ke kepulauan Indonesia. Sabang pada 19 April 1944 dan 22 Juli 1944, dan Surabaya pada 17 Mei 1944. Dia juga menyerang Port Blaid di kepulauan Andaman pada 22 Juni 1944 dan membawa 57 pesawat pada operasi ini. Pada suatu saat, dia menerbangkan 51 dari 57 pesawatnya, termasuk 15 Barracuda dan 23 Corsair selama penyerangan Port Blair.

Serangan Air-Arm Illustrious di Palembang  (Foto: fleetairarmarchive.net)

  

Pada September dan Oktober 1944, Illustrious menjalani refit di Simon’s Town, Afrika Selatan. Dia kembali bergabung dengan Armada Timur Jauh pada November dan melakukan beberapa serangan. Pada 16 Desember Illustrious ditugaskan untuk bergabung dengan Armada Pasifik Inggris yang baru dibentuk, dan berlayar ke Australia. Dalam perjalanan, dia menyerang Palembang pada 24 dan 29 Januari 1945. Dia tiba di Sydney pada 9 Februari. Di Sydney, batang baling-baling tengahnya dilepas karena rusak, yang mengakibatkan kecepatan maksmumnya turun menjadi 24 knots (44km/j; 28mpj).

Pada 4 Maret, dia berlayar bersama Armada Pasifik lainnya ke Kepulauan Manus, dan pada 19 Maret ke Ulithi. Illustrious dan sister ship-nya, Indomitable dan Victorious, bersama Indefatigable bergabung dengan Armada pasifik AS, dengan nama Task Force 57 (TF 57).

Dari 26 Maret hingga 9 April, TF 57 memberikan dukungan udara bagi invasi Okinawa (Operation Iceberg), memenangkan battle honour terakhir. Pada 6 April, Illustrious mengalami kerusakan bawah air serius akibat serangan kamikaze. Pada 9 April, Illustrious berpencar untuk melakukan penyerangan terhadap Formosa, tetapi pada 14 April dia digantikan oleh Formidable, dan dikirim ke Filipina untuk inspeksi.

Kerusakannya ternyata lebih serius daripada yang diperkirakan, dan dia kembali ke Sydney dan kemudian ke Rosyth untuk perbaikan dan refit, yang selesai pada Juni 1946.

Setelah perang, dia mendapatkan peran sebagai kapal latih dan ujicoba, dan dia terus mengalami masalah pada getaran yang sebagian diatasi dengan adanya desain propeller baru. Pada 1946, dia dipasangi dengan propeller lima-bilah pada batang tengahnya.

Dia menjalani refit dan modernisasi pada Januari hingga Agustus 1948, dan berhasil mencapai kecepatan 29 knots (54 km/j; 33 mpj) pada ujicoba dengan 110.600 shp pada 227,5 rpm. Pada 1950, dalam ujicoba kekuatan penuh, dia mencapai kecepatan 29,2 knots (54.1 km/j; 33,6 mpj) dengan 111.480 shp pada 225,1 rpm. Pada 1953 she dia menjadi bagian dari Fleet Review untuk merayakan Pemahkotaan Queen Elizabeth II. Illustrious dipensiunkan pada akhir 1954, dijual pada 3 Desember 1956, dan pada akhirnya dibongkar di Faslane. 




DESAIN

Gambar: New Vanguard 168, British Aircraft Carriers 1939-1945

Keterangan:
1. Quarterdeck
2. Safety net
3. Aircraft lift
4. Balance weight trunks
5. 4.5in HA/LA twin mountings (8)
6. Flight deck
7. Arresting wires
8. Transmitting masts (raised)
9. 7 ton seaplane and boat crane
10. Deck for 32ft cutter (not shown)
11. Wardroom
12. Pom-pom directors
13. Hanger deck
14. Aircraft stowed positions
15. Stores
16. Engine room supply vents (4)
17. Type 27 IFF interrogator aerial
18. Type 79 air warning radar (replaced by Type 281 in December 1940)
19. Thermograph
20. Type 72 DM apparatus screen
21. D deck
22. C deck
23. B deck
24. Signal house top
25. A deck
26. Assisted take-off gear
27. Aircraft lift
28. Direction lights
29. Windscreen
30. PO recreation space
31. Crew recreation space
32. CPO recreation space
33. Mess
34. 44in searchlight projector
35. Upper gallery deck
36. Lower gallery deck
37. Upper deck
38. Main deck
39. Lower deck
40. Platform deck
41. Hold
42. Multiple Mk VI 2pdr pom-pom mountings (6)
43. Bomb lift
44. Mess
45. Bilge keel
46. Petrol tank
47. Boiler (6)
48. Boiler uptake
49. Boiler room vent
50. Oil fuel tanks
51. Engine room (3)
52. 27ft whaler (stowed)
53. HA direction tower
54. 32ft cutter (stowed)
55. Officers’ cabins
56. Squadron leader’s cabin
57. 44in searchlight
58. Propeller (3)
59. Single rudder




SPESIFIKASI 

Struktur
Muatan Standar: 23.000 ton
Muatan Penuh: 28.661 ton
Panjang: 743ft 9in
Beam: 95ft 9in;
Draught: 24ft

Komplemen: 1.229 awak
900 officer
250 air group

Proteksi Lapis Baja
Dek Penerbangan: 3in
Hangar dan sabuk: 4½in

Performa
Tiga turbin Parsons dan enam pendidih Admiralty, menghasilkan 111.000 steam horsepower.
Kecepatan: 30½knots
Kapasitas Bahan Bakar: 4,850 tons

Persenjataan
5 x 8 x 2pdr "pom-pom" AA
3 x 1 x 40mm Bofors AA
19 x 2 x 20mm Oerlikon AA
14 x1 x 20mm Oerlikon AA

Air Arms
1940: 33 pesawat: Fulmars dan Swordfish
September 1942: 21 Martlet, 6 Fulmar, dan 18 Swordfish
Juli 1943: 28 Martlet dan 18 Avenger
Januari 1944: 24 Corsair dan 21 Barracuda
Mei 1944: 24 Corsair dan 18 Avenger
Juni 1944: 42 Corsair dan 15 Barracuda
November 1944: 36 Corsair dan 15 Avenger




SUMBER

Konstam, Angus. 2010. New Vanguard 168: British Aircraft Carriers1939-45. Osprey Publishing.
Fontenoy, Paul. 2006. Weapon and Warfare Series, Aircraft Carriers: An Illustrated History of Their Impact. ABC-CLIO.

Selasa, 11 Juni 2013

Kapal Induk


Dari Atas ke Bawah: Principe de Asturia, USS Wasp, USS Forrestal dan HMS Invincible, menunjukkan perbedaan ukuran. (Foto: Wikipedia)

Sebuah aircraft carrier (kapal induk) adalah sebuah kapal perang yang didesain terutama untuk meluncurkan dan mendaratkan pesawat, berfungsi sebagai pangkalan udara terapung di lautan. Kapal induk memungkinkan angkatan laut untuk meluncurkan kekuatan udaranya ke seluruh dunia tanpa harus tergantung pada pangkalan udara lokal. Mereka berevolusi dari kapal kayu yang digunakan untuk meluncurkan balon udara, menjadi kapal perang bertenaga nuklir yang dapat mengangkut lusinan pesawat bersayap tetap dan helikopter.

Kapal induk pada umumnya merupakan kapal kapital dari armada, dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk pembuatannya dan sangat penting untuk dilindungi. Dari sepuluh negara yang memiliki kapal induk, delapan di antaranya hanya memiliki satu, bahkan pada beberapa negara, kapal induknya tidak lagi memiliki kemampuan pengangkutan pesawat atau mengalih-fungsikannya. Dua puluh kapal induk saat ini beroperasi, sepuluh di antaranya adalah milik AL AS pada Februari 2013.



SEJARAH 

Penemuan pesawat pada 1903 langsung diikuti dengan percobaan peluncuran pesawat dari dek kapal milik AL AS (USS Birmingham) pada 1910, dan pendaratan eksperimental pertama dilakukan pada 1911. and the first experimental landings were conducted in 1911. Pada 4 Mei 1912, pesawat pertama lepas landas dari kapal AL Royal Inggris, HMS Hibernia. Kapal pendukung seaplane tender ditemukan kemudian.

IJN Wakamiya (foto: wikipedia)
Pada September 1914, AL Imperial Jepang Wakamiya berhasil melakukan penyerangan udara pertama di dunia yang diluncurkan dari kapal melawan pasukan Jerman selama PD I. Kapal Jepang membawa empat kapal amfibi Maurice Farman, yang lepas landas dan mendarat di air dan dinaik/turunkan dari kapal menggunakan derek. Pada 6 September 1914, sebuah pesawat Farman yang diluncurkan dari Wakamiya menyerang cruiser milik Austro-Hungaria “Kaiserin” dan gunboat milik Jerman “Jaguar” di Qiaozhou Bay. 

Pengembangan kapal beratap datar menghasilkan kapal armada besar pertama di dunia. Pada 1918, HMS Argus, menjadi kapal pertama yang dapat menerbangkan dan mendaratkan pesawat. Evolusi kapal induk terus berjalan dengan baik pada pertengahan 1920an, meluncurkan kapal induk seperti Hōshō (1922),HMS Hermes (1924), dan Béarn (1927). Kebanyakan kapal induk pertama merupakan konversi dari tipe kapal berbeda seperti kapal kargo, cruisser, battlecruiser atau battleship. Washington Naval Treaty pada 1922, mempengaruhi rencana pengembangan kapal induk. AS dan Inggris masing-masing diijinkan untuk membangun kapal perang dengan total berat 135.000, sementara pengecualian untuk kapal yang memiliki berat individual di atas ketentuan, diperbolehkan untuk dikonversi menjadi kapal jenis lain yang kurang agresif seperti kapal induk, Kapal induk kelas Lexington (1927) adalah hasilnya.

Foto: http://wwiiguide.webs.com
Selama 1920an, beberapa AL mulai memesan dan membangun kapal induk yang memang didesain secara khusus dari awal (bukan konversi). Hal ini memungkinkan spesifikasi desain pada peran kapal induk di masa depan sehingga menghasilkan kapal yang superior. Selama PD II, kapal-kapal ini menjadi tulang punggung kekuratan AL AS, Inggris dan Jepang, dikenal sebagai kapal induk armada. 

Kapal induk digunakan secara luas selama PD II, dan beberapa tipe diciptakan sebagai hasilnya. Kapal induk escort, seperti USS Bogue, yang dibuat hanya pada masa PD II. Walaupun beberapa memang didesain dari awal, sebagian besar merupakan konversi dari kapal dagang, untuk menyediakan support udara bagi konvoi dan penyerangan amfibi. Kapal induk ringan yang dibangun oleh AS, seperti USS Independece, merupakan versi lebih besar dan lebih “militer” dari konsep kapal induk escort. Walaupun kapasitas angkut pesawatnya sama dengan kapal induk escort, kapal induk ringan memiliki kelebihan dari segi kecepatan karena kapal induk jenis ini merupakan konversi dari cruiser. Desain kapal induk armada kecil milik Inggris (1942) yang bertugas untuk AL Royal Inggris, menjadi desain hull kapal induk yang dipilih oleh hampir semua AL setelah perang hingga 1980.

Darurat masa perang juga memacu kreasi atau konversi kapal induk non-konvensional. CAM (Catapult Aircraft Ship) seperti SS Michael E, merupakan kapal kargo-dagang yang dapat meluncurkan pesawat menggunakan ketapel, tetapi tidak dapat mendaratkan pesawat kembali. Selain itu, merchant aircraft carrier (MAC), seperti MV Empire MacAlpine; kapal selam induk, seperti Surcouf milik Perancis dan I-400 milik Jepang pada umumnya tidak sukses saat perang.

AL modern yang mengoperasikan kapal induk, menjadikannya sebagai kapal kapital dari armada, peran yang sebelumnya dimainkan oleh battleship. Perubahan ini terjadi selama PD II sebagai respon dari kekuatan udara yang menjadi faktor penting dalam peperanganPerubahan ini didorong oleh jarak yang superior, fleksibilitas dan efektivitas pesawat yang dilincurkan dari kapal induk. Setelah perang, operasi kapal induk terus meningkat dalam ukuran maupun tingkat kepentingannya. Supercarrier, dengan bobot mati 75.000 ton atau lebih, menjadi puncak pengembangan kapal induk. Beberapa di antaranya bertenaga reaktor nuklir dan membentuk inti armada yang didesain untuk beroperasi jau dari negara asal.

Amphibious assault ship, seperti USS Tarawa dan HMS Ocean, berperan untuk mengangkut dan mendaratkan marinir, dan mengoperasikan sejumlah besar helikopter untuk tugas itu. Kapal jenis ini juga dikenal sebagai “kapal induk komando” atau “kapal induk helikopter”, kebanyakan mempunyai kemampuan sekunder untuk mengoperasikan pesawat V/STOL.

Mempunyai persenjataan yang relatif kurang dibandingkan kapal perang lain, nembuat kapal induk sangat rentan untuk diserang oleh kapal lain, pesawat, kapal selam atau misil. Oleh karena itu, kapal induk umumnya dikawal oleh sejumlah kapal lain untuk melindungi, mengangkut kebutuhan dan memberikan kemampuan serang tambahan. Kapal induk dan pengawalnua ini kadang disebut sebagai battle group atau carrier grup, bahkan kadang disebut sebagai carrier battle grup.

Sebelum PD II, perjanjian AL internasional 1922, 1930 dan 1936, membatasi ukuran kapal kapital termasuk kapal induk. Desain kapal induk setelah PD II, secara efektif tidak dibatasi, dan ukuran kapal menjadi semakin besar sebagai konsekuensi dari meningkatnya ukuran dan berat pesawat militer. Kapal induk AS kelas Nimitz, memiliki ukuran empat kali lebih besar dibandingkan kapal era PD II, USS Enterprise.


Arti Penting Kapal Induk di Masa Modern

Saat ini, kapal induk sangatlah mahal sehingga menjadi resiko besar secara politik, ekonomi dan militer bagi operatornya jika kehilangan atau digunakan dalam konflik. Para pengamat beropini bahwa sistem senjata anti-kapal modern seperti torpedo dan misil, membuat kapal induk menjadi obsolete/kuno karena sangat rentan untuk pertempuran modern. Senjata nuklir akan mengancam keseluruhan carrier group pada pertempuran terbuka. Di lain pihak, peran kapal induk tak dapat disangkal sangat berpengaruh pada peperangan asimetris, seperti gunboat di masa lalu. Lagipula, kapal induk memfasilitasi operasi kekuatan militer besar secara cepat dan presisi pada konflik lokal maupun regional.

Laksamana Sir Mark Stanhope, kepala AL Royal Inggris, menyatakan “Sederhananya, negara yang menginginkan pengaruh strategis internasional, memiliki kapal induk”.



JENIS KAPAL INDUK 


Dari Segi Peran

Sebuah kapal induk armada dimaksudkan untuk beroperasi dengan armada utama dan biasanya memberikan kemampuan ofensif. Mereka adalah kapal induk terbesar yang berkecepatan tinggi. Sebagai perbandingan, escort carrier didesain untuk melindungi kapal konvoi. Mereka lebih kecil dan lambat, dengan lebih sedikit pesawat yang dapat mereka angkut. Kapal induk ringan merupakan kapal induk yang cukup cepat untuk berperasi bersama armada, tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dan kapasitas pesawat yang lebih sedikit. Kapal induk Soviet, yang saat ini dioperasikan oleh Rusia, sebenarnya merupakan aviation cruisers, yang memiliki ukuran dalam kisaran kapal induk armada besar, didesain untuk beroperasi sendirian atau dengan pengawal. Kapal induk Soviet memiliki persenjataan pertahanan yang kuat dan misil yang sangat ofensif, setara dengan cruiser misil berpemandu, sebagai tambahan dari pesawat dan helikopter yang dibawanya.


Anti-Submarine Warfare Carrier

Sebuah kapal induk anti-kapal selam (ASW carrier) adalah kapal induk kecil yang memiliki peran utama untuk memburu dan menghancurkan kapal selam. Kapal induk jenis ini mulai muncul pada pasa perang dingin sebagai pengembangan dari kapal induk escort yang pernah berperan sebagai ASW selama PD II. Contoh kapal induk ASW adalah ARA Independencia, NAel Minas Gerias, Arromanches, Giuseppe Garibaldi, Hyuga,Prncipe de Asturias, HMS Bulwark, HMS Hermes, Invincible, HMAS Melbourne, HMCS Bonaventure, HNLMS Karel Doorman, Moskva, Kiev, Essex, dan Wasp.


Helicopter Carrier

Kapal induk helikopter adalah kapal induk yang utamanya berperan untuk mengoperasikan helikopter. Kapal induk helikopter digunakan sebagai kapal induk ASW dan amphibious assault ship.

Kapal induk helikopter dapat memiliki sebuah full-length aircraft deck seperti HMS Ocean, atau dek helikopter besar, biasanya di bagian belakang kapal seperti pada kapal induk kelas Moskva atau RFA Argus. Sebuah full-length deck memaksimalkan ruang dek untuk titik pendaratan helikopter. Desain semacam ini juga memungkinkan untuk digunakan sebagai dek hangar.

Kapal induk helikopter “murni” sulit untuk didefinisikan pada abad ke-21. Hadirnya pesawat STOVL seperti Harrier membuat rumit klasifikasi; Kapal Induk Kelas Wasp milik AL AS, misalnya, membawa enam hingga delapan Harrier, dan juga 30 Helikopter. Hanya kapal induk yang lebih kecil yang tidak dapat mengoperasikan pesawat Harrier dan kapal induk sebelum era-Harrier yang dapat dikatakan sebagai kapal induk helikopter yang sebenarnya. Dalam banyak kasus, kapal induk lain, yang dapat mengoperasikan pesawat STOVL, diklasifikasikan sebagai "light aircraft carriers". Kapal lain, seperti kelas Wasp, juga dapat mengangkut pasukan seperti marinir dan mendaraka mereka di pantai, biasanya diklasifikasikan sebagai amphibious assault ships.


Light Aircraft Carrier

Kapal induk kecil adalah sebuah kapal induk yang lebih kecil dari pada standar kapal induk AL. Definisi tepat dari tipe ini beragam pada berbagai negara. Kapal induk kecil biasanya hanya dapat mengangkut setengah atau dua per tiga dari kapal induk armada. Kapal induk kecil memiliki konsep yang mirip dengan kapal induk escort, akan tetapi memiliki kecepatan yang lebih tinggi untuk dioperasikan bersama kapal induk armada, sementara kapal induk escort biasanya melindungi konvoi dan memberikan dukungan udara pada operasi amfibi.

Kapal induk yang dapat dimasukkan dalam kategori ini di antaranya Giuseppe Garibaldi, Cavour, Juan Carlos I, INS Viraat, HTMS Chakri Naruebet, dan HMS Illustrious.


Amphibious Assault Ship

Sebuah amphibious assault ship (atau disebut juga dengan kapal induk komando atau amphibious assault carrier) adalah sebuah tipe dari amphibious warfare ship yang digunakan untuk mendaratkan dan mendukung pasukan darat di teritorial musuh dengan serangan amfibi. Desainnya merupakan evolusi dari kapal induk yang dikonversi sebagai kapal induk helikopter, tetapi juga untuk mendukung operasi pendaratan amfibi.

Peran the amphibious assault ship pada dasarnya berbeda dengan kapal induk standar: fasilitas aviasinya memiliki peran utama dalam pengoperasian helikopter untuk mendukung pasukan di pantai dari pada untuk pesawat (bersayap tetap). Akan tetapi beberapa mampu berperan untuk “sea-control”, meluncurkan pesawat seperti Harrier untuk CAP dan helikopter anti kapal selam, atau beroprasi sebagai pangkalan aman untuk pesawat tempur STOVL. Kebanyakan kapal jenis ini juga dapat membawa atau mendukung support landing craft, seperti hovercraft atau LCU (Landing Caft Utility).

Armada terbesar dari tipe ini dioperasikan oleh AL AS, termasuk kapal kelas Tarawa, dan yang lebih besar kelas Wasp. Amphibious assault ships juga dioperasikan oleh AL Royal Inggris, AL Perancis, AL Italia, AL Republik Korea dan AL Spanyol.

Walaupun istilah amphibious assault ship kadang tertukar dengan istilah yang lebih umum amphibious warfare ship, istilah umum ini digunakan hanya pada kapal amfibi ber-dek besar seperti tipe LPH, LHA, dan LHD. Istilah ini tidak memasukkan amphibious transport dock (LPD), dan dock landing ship (LSD).


Seaplane Tender dan Seaplane Carriers

Seaplane tender (atau seaplane carrier) adalah kapal yang menyediakan fasilitas untuk pengoperasian seaplane (pesawat amfibi). Kapal ini adalah kapal induk pertama dan muncul tepat sebelum PD I.


Balloon Carrier dan Balloon Tenders

Kalloon carrier atau balloon tender merupakan kapal yang dilengkapi dengan sebuah balon, biasanya diikat dengan tali atau kabel, dan digunakan untuk observasi. Selama pertengahan kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, kapal ini dibuat untuk menghasilkan jarak pandang terjauh di perairan sekeliling kapal. Setelah sejumlah eksperimen, kapal jenis ini resmi digunakan pada awal 1900an, tetapi kemudian dengan cepat ketinggalan jaman dengan adanya pengembangan seaplane carriers dan kapal induk reguler di awal PD I.



Harrier bersiap untuk lepas landas dari kapal induk tipe CATOBAR  USS Roosevelt (Foto: wikipedia)

Dari Segi Konfigurasi

Terdapat tiga konfigurasi utama dari operasi kapal induk di dunia AL, dibagi berdasarkan cara lepas landas dan mendaratnya pesawat terbang:

Catapult-assisted take-off but arrested-recovery (CATOBAR): kapal induk jenis ini biasanya mampu mengangkut pesawat terbesar, terberat dan bersenjata berat, walaupun kapal induk jenis CATOBAR yang lebih kecil kemungkinan memiliki keterbatasan (kapasitas angkut elevator pesawat, dll). Tiga negara saat ini mengoperasikan kapal induk jenis ini: sepuluh oleh AS dan masing-masing satu oleh Perancis dan Brazil.

Short take-off but arrested-recovery (STOBAR): kapal induk jenis ini pada umumnya terbatas untuk mengangkut pesawat terbang bersayap tetap yang lebih ringan dengan payload yang lebih terbatas. Airwing kapal induk jenis STOBAR, seperti Sukhoi Su-33 dan Mikoyan MiG-29K dari kapal induk Admiral Kuznetsov, biasanya memiliki peran utama sebagai superioritas udara dan pertahanan armada, bukan digunakan dalam misi penyerangan, yang membutuhkan payload yang lebih berat (bom dan misil udara-ke-permukaan). Saat ini hanya Russia yang mengoperasikan kapal induk jenis ini. China telah membangun ulang sister ship dari Admiral Kuznetsov dan membuat tiruan dari Su-33 secara domestik; kapal induk ini sekarang digunakan sebagai kapal induk eksperimental dan pelatihan. Russia juga sedang bersiap untuk membangun ulang sebuah kapal induk kelas Kiev untuk India.

Short take-off vertical-landing (STOVL): Kapal induk ini terbatas untuk membawa pesawat jenis STOVL, seperti pesawat Harrier dan Yak-38, yang umumnya dengan payload terbatas, performa yang terbatas dan dengan konsumsi bahan bakar yang lebih boros dibandingkan dengan pesawat bersayap tetap konvensional. Akan tetapi, pesawat STOVL generasi baru, F-35B memiliki performa yang jauh lebih baik. Kapal induk jenis ini dimiliki oleh India dan Spanyol (masing-masing satu) dan Italia (dua). Inggris dan Thailand masing-maisng memiliki satu kapal induk STOVL yang aktif, tetapi keduanya tidak memiliki pesawat STVOL yang operasional saat ini. Beberapa juga memasukkan sembilan amphibious assault ships milik AS yang memiliki peran sekunder sebagai kapal induk ringan (light carrier), sehingga total kapal induk jenis ini sebanyak lima belas.



Dari Segi Ukuran

Supercarrier

Supercarrier merupakan istilah deskriptif untuk tipe kapal induk terbesar, biasanya dengan bobot mati di atas 70.000 long ton. AL AS saat ini memiliki sepuluh kapal induk jenis ini. Inggris memiliki dua kapal induk kelas Queen Elizabeth yang saat ini dalam masa pembuatan dengan perkiraan penyelesaian pada 2016. Kapal induk kelas Queen Elisabeth diperkirakan memiliki bobot mati 65.000 metrik ton, yang jika selesai, menjadi kapal induk terbesar ketiga yang beroperasi. Supercarriers merupakan kapal perang terbesar yang pernah dibuat, jauh melebihi kelas battleship terbesar yang pernah dibuat.


Fleet Carrier

Kapal induk armada (fleet carrier) adalah kapal induk yang didesain untuk beroperasi dengan armada AL utama milik suatu negara. Istilah ini muncul pada masa PD II, untuk membedakannya dari kapal induk kawal (escort carrier) dan tipe lain yang lebih kecil. Kapal induk armada termasuk supercarrier, standard fleet carrier dan light fleet carrier.

Ide kapal induk armada modern muncul pada 1931 oleh Admiral J.J. Clark dan Harvey E. Yarnell dari AL AS. Alih-alih beroperasi sebagai pengintai bagi armada, kapal induk armada beroperasi serempak dalam armada, untuk menangkal serangan udara dan juga untuk menyerang pasukan musuk dari udara. Cruiser dan destroyer akan melindungi kapal induk armada. Kapal induk armada kemudian menggantikan peran dreadnaught dan battleship sebagai asset terkemuka armada laut. Kapal induk armada dapat mengangkut lebih dari 50 pesawat, dan harus cukup cepat untuk beroperasi bersama elemen lain dari armadanya, seperti cruiser dan battleship.

Selama PD II, sebuah kapal induk armada bisanya membawa tiga skuadron, khususnya skuadron fighter, skuadron torpedo bomber dan skuadrin bomber tukik.


Light Aircraft Carrier

Light aircraft carrier adalah kapal induk yang lebih kecil dari pada kapal induk standar. Definisi tepatnya bervariasai pada tiap negara, biasanya hanya dapat mengangkut setengah atau dua per tiga pesawat daripada kapal induk armada. Light carrier memiliki konsep yang sama dengan escort carrier, tetapi memiliki kecepatan yang lebih tinggi sehingga dapat dioperasikan bersama armada.


Escort Carrier

Escort aircraft carrier atau escort carrier, merupakan kapal induk kecil dan lambat yang digunakan oleh AL Kerajaan Inggris, AL dan AU Kekaisaran Jepang, dan AL AS selama PD II. Mereka memiliki setengah panjang dan sepertiga bobot kapal induk armada. Walaupun lebih lamban, kurang dipersenjatai, lebih tipis lapis bajanya dan mengangkut lebih sedikit pesawat, mereka lebih murah dan lebih cepat pembuatannya. Kurangnya proteksi membuat kapal induk escort rentan dan beberapa tenggelam.

Kapal induk jenis ini kebanyakan dibuat dari hull kapal komersial dan biasanya berperan untuk mengawal konvoi, melindungi mereka dari ancaman musuh seperti kapal selam dan serangan udara. Dalam invasi mainland Eropa dan kepulauan Pasifik, kapal induk escort memberikan dukungan udara bagi pasukan di darat dalam operasi amfibi. Kapal induk escort juga berperan sebagai transportasi pesawat cadangan, dan mengangkut pesawat ke titik pengiriman militer.




FLIGHT DECK

Sebagai "landasan udara di laut”, kapal induk modern memiliki sebuah desain dek flat-top yang berperan sebagai sebuah flight deck untuk meluncurkan dan mendaratkan pesawat. Pesawat lepas landas ke depan, berlawanan dengan arah angin, dan mendarat dari buritan. Kapal induk berlayar dengan kecepatan 35 knots (65 km/j) berlawanan dengan arah angin selama operasi flight dek untuk meningkatkan kecepatan angin di atas dek. Hal ini meningkatkan kecepatan angin efektif bagi lepas landas pesawat dibantu dengan ketapel maupun ski-jump. Hal ini juga memungkinkan pendaratan menjadi lebih aman dengan mengurangi selisih kecepatan relatif dari pesawat dan kapal.

Pada kapal induk CATOBAR, ketapel bertenaga-uap digunakan untuk mengakselerasi pesawat konvensional hingga mencapai kecepatan aman di ujung dek, setelahnya pesawat terbang dengan mesinnya sendiri. Pada kapal induk STOVL atau STOBAR, pesawat tidak membutuhkan bantuan ketapel untuk lepas landas, tetapi pada hampir semua kapal induk tipe ini menggunakan ski-jump di ujung depan flight dek, dan kadang dikombinasikan dengan thrust vectoring oleh pesawat. Pesawat STOVL dapat lepas landas tanpa bantuan ski-jump, tetapi dengan bahan bakar dan payload terbatas. Bentuk bantuan lepas landas bagi pesawat, tergantung dari tipe pesawat yang digunakan dan juga pada desain kapal induk itu sendiri.

Konfigurasi "angled deck" (gambar: homepages.slingshot.co.nz) 
Sebaliknya, mendarat ke kapal induk CATOBAR atau STOBAR, pesawat konvensional mengandalkan sebuah tailhook untuk menangkap arrestor wires yang dibentangkan melintang pada dek agar pesawat berhenti pada jarak yang pendek. Pasca PD II, penelitian AL Inggris untuk pendaratan CATOBAR yang lebih aman memicu adopsi global untuk area pendaratan yang miring (angled deck) untuk memungkinkan pesawat yang ggaal menggapai arresting wires untuk “melompat” dan kembali terbang dengan aman untuk kemudian mencoba mendarat kembali, dan mengurangi resiko menabrak pesawat yang berada di dek bagian depan. Helicopter dan pesawat V/STOL biasanya mendarat dengan mensejajari kapal induk di sisi kiri dan kemudian menggunakan kemampuan melayangnya (hovering) untuk mendarat di flight dect tanpa bantuan arresting gear.

Pesawat (dengan tailhook) konvensional mengandalkan landing signal officer (LSO, kadang disebut paddles) untuk mengawasi pendekatan/pendaratan pesawat, mengukur glideslope, ketinggian, dan airspeed secara visual, kemudian mengirimkan data tersebut kepada pilot. Sebelum angled deck muncul pada 1950an, LSO menggunakan paddles berwarna untuk memberi isyarat pada pilot. Dari akhir 1950an dan seterusnya, bantuan pendaratan visual seperti sistem pendaratan optik memberikan informasin glide slope yang tepat, tetapi LSO masih memberikan aba-aba pada pilot yang mendekat dengan radio.

Untuk memfasilitasi operasi di atas flight deck, para awak menggunakan pakaian berwarna sesuai dengan tanggungjawab masing-masing. Terdapat paling tidak tujuh warna berbeda yang digunakan oleh personel flight dek. Operasi kapal induk di negara lain menggunakan skema warna yang serupa.

Personel kunci yang terlibat di atas flight deck termasuk shooters, handler, dan air boss. Shooters adalah naval aviators atau Naval Flight Officers dan mereka bertanggung jawab untuk meluncurkan pesawat. Handler bekerja di dalam island dan bertanggung jawab pada pergerakan pesawat sebelum lepas landas dan setelah mendarat. Air boss (biasanya seorang komandan) berada di top bridge (Primary Flight Control, juga disebut primary atau tower) dan bertanggung jawab untuk mengontrol peluncuran, pendaratan, pesawat yang ada di dekat kapal dan pergerakan pesawat di flight deck, yang menyerupai koregrafi balet. Kapten kapal menghabiskan kebanyakan waktunya satu kevel di bawah primary di Navigation Bridge. Di bawahnya Flag Bridge, ditujukan untuk laksamana (embarked admiral) dan staffnya.

Sejak awal 1950an, pendaratan pesawat menjadi lebih praktis dengan adanya angled flight deck. Fungsi utamanya adalah untuk memungkinkan pesawat yang gagal menggapai arresting wires, untuk terbang kembali tanpa resiko untuk menabrak pesawat lain yang parkir di bagian depan dek. Angled deck juga memungkinkan peluncuran dan pendaratan pesawat secara bersamaan dan penambahan satu atau dua ketapel “pinggang” sebagai tambahan dari dua ketapel haluan yang sudah ada.

Superstruktur dari sebuah kapal induk (seperti bridge, flight control tower) terkonsentrasi di sisi kanan dek dalam area kecil bernama island, sebuah fitur yang dipelopori pada HMS Hermes, 1923. Sangat sedikit kapal induk yang didesain atau dibangun tanpa island. Konfigurasi flush deck terbukti memiliki kekurangan signifikan, memperumit navigasi, air traffic control, dan memiliki sejumlah faktor merugikan.

Ski-Jump pada HMS Invincible (foto: wikipedia)
Konfigurasi lebih baru, awalnya dikembangkan oleh AL Inggris tetapi kemudian diadopsi oleh banyak AL untuk kapal induk yang lebih kecil, memiliki lerengan ski-jump. Sebuah ski jump adalah lerengan permanen di ujung flight deck dengan lerengan yang melengkung. Desain ini dikembangkan pertama kali untuk membantu lepas landas pesawat STOVL. Pesawat STOVL seperti Sea Harrier lepas landas dengan beban yang jauh lebih berat dibandingkan dengan lepas landas di dek datar. Ski-jump bekerja dengan mengkonversi pergerakan ke depan pesawat menjadi melompat di ujung akhir dek, lompatan dikombinasikan dengan mengarahkan sebagian daya dorong jet ke bawah memutar exhaust nozzles pada pesawat. Dengan fitur ini, memungkinkan pesawat dengan beban dan bahan bakar lebih untuk mendapatkan kecepatan dan daya angkat udara yang cukup untuk penerbangan normal. Tanpa ski-jump, peluncuran pesawat seperti harrier dengan beban dan bahan bakar penuh tidak mungkin dapat dilakukan, pesawat akan stall atau jatuh langsung ke lautan. Walaupun pesawat STOVL mampu lepas landas secara vertikal, lepas landas dengan ski-jump dianggap lebih efisien bahan bakar dan memungkinkan peluncuran dengan beban lebih berat. Dengan tidak diperlukannya ketapel, kapal induk dengan desain ini, mengurangi berat, kompleksitas dan ruangan yang dibutuhkan untuk peralatan peluncuran tenaga uap atau elektromagnetik kompleks. Pesawat yang mampu mendarat vertikal membuat arresting cables dan peralatan yang berhubungan tidak dibutuhkan. Rusia, China dan kapal induk masa depan India menggunakan ski-jump untuk peluncuran pesawat, tetapi menggunakan arresting cables dan tailhook untuk pendaratannya.

Kekurangan penggunaan ski-jump adalah terbatasnya ukuran pesawat, beban dan bahan bakar (yang selanjutnya berpengaruh pada jarak operasional pesawat). Pesawat sarat muatan tidak dapat menggunakan ski-jump karena membutuhkan jarak lepas landas yang lebih jauh dibandingkan panjang dek. Bantuan dari ketapel atau roket JATO, contohnya pada pesawat Rusia Su-33, hanya dapat diluncurkan dari kapal induk Kuznetsov dengan persenjataan dan bahan bakar minimal. Kekurangan lainnya, pada operasi flight deck campuran, dimana helikopter juga digunakan seperti pada Landing Helicopter Dock atau Landing Helicopter Assault amphibious assault ship milik AS, penggunaan ski-jump akan mengurangi satu atau lebih area pendaratan helikopter, flat deck ini membatasi beban Harrier, tetapi agak dapat diatasi dengan flight dek yang lebih panjang, dibandingkan dengan kapal induk STOVL yang sudah ada.

Flight deck yang tidak biasa diusulkan untuk digunakan pada era jet, dari SCADS conversion kit, hingga Skyhook, seaplane fighters, bahkan flight deck karet. Shipborne containerized air-defense system (SCADS) telah mengusulkan sebuah modular kit untuk mengkonversi sebuah kapal Ro-Ro atau Container menjadi sebuah kapal induk STOVL dalam dua hari selama masa darurat dengan kapasitas bahan bakar jet, amunisi, sistem pertahanan dan misil untuk 30 hari, helikopter ASW, awak dan area kerja, radar, dan sebuah ski-jump. Setelah penggunaan, kit ini dapat dengan cepat dilepas dan disimpan, sistem ini merupakan modern merchant aircraft carrier yang efektif. Skyhook yang diusulkan oleh British Aerospace bahkan lebih ambisius. Sistem ini menggunakan derek dengan sebuah top mating mechanism yang tergantung di atas lautan untuk mengisi bahan bakar, meluncurkan dan mendaratkan Harrier, bahkan dari kapal berukuran kecil seperti frigate.

Convair F2Y Sea Dart merupakan pesawat supersonik yang memiliki ski dan bukan roda. Pada akhir 1940an, AL kuatir bahwa pesawat supersonik tidak dapat mendarat di kapal induk, oleh karena itu diturunkan dan dinaikkan dari laut menggunakan derek. HMS Warrior menguji flight deck berlapis karet yang mana de Havilland Vampire berhasil mendarat tanpa bantuan landing gear atau tailhook.



KAPAL INDUK OPERASIONAL

Kapal induk pada umumnya merupakan kapal terbesar yang dimiliki oleh sebuah AL. Total 20 kapal intuk beroperasi dan dimiliki oleh sepuluh AL. Australia, Brazil, China, Perancis, India, Italia, Jepang, Korea Selatan, Spanyol, Thailand, Inggris, dan AS, juga mengoperasikan kapal yang mampu mengangkut dan mengoperasikan banyak helikopter.

Empat kapal induk modern, USS Stennis, FS Charles de Gaulle, USS John F Kennedy, dan HMS Ocean bersama kapal-kapal pengawalnya (Foto: wikipedia) 

Brazil (1)

NAe São Paulo (A12): Kapal induk ex-Perancis FS Foch (diluncurkan pada 1960) berbobot 32,800 ton, dibeli pada 2000.


China (1)

Liaoning: awalnya merupakah badan kapal yang dipreteli dari kapal induk ex-Soviet kelas Varyag, kelas Kuznetsov berbobot 57.000 ton, diresmikan pada 25 September 2012, dan mulai beroperasi untuk ujicoba dan pelatihan. Pada 25 November 2012, Liaoning berhasil meluncurkan dan mendaratkan beberapa pesawat fighter Shenyang J-15.


France (1)

Charles de Gaulle (R 91): kapal induk bertenaga nuklir dengan bobot 42,000 ton, diresmikan pada 2001.


India (1)

INS Viraat: kapal induk STOVL ex-Inggris HMS Hermes (diluncurkan pada 1953) berbobot 28.700 ton yang dibeli pada 1986 dan diresmikan pada 1987. Rencananya akan dipensiunkan pada 2019.


Italy (2)

Giuseppe Garibaldi (551): kapal induk STOVL milik Italia berbobot 14,000 ton, diresmikan pada 1985.

Cavour (550): kapal induk STOVL milik Italia yang berbobot 27,000 ton, didesain dan dibangun dengan fasilitas sekunder untuk amphibious assault, diresmikan pada 2008.


Russia (1)

Admiral Flota Sovetskovo Soyuza Kuznetsov: Kapal induk STOBAR kelas Kuznetsov berbobot 55,000 ton. Diluncurkan pada 1985 dengan nama Tbilisi, diganti nama dan beroperasi mulai 1995. Tanpa ketapel, kapal ini dapat meluncurkan dan mendaratkan pesawat tempur AL untuk pertahanan udara atau misi anti-kapal, tetapi tidak untuk pesawat bomber konvensional. Secara resmi dirancang sebagai cruiser pengangkut pesawat (aircraft carrying cruiser), kapal ini unik dengan perlengkapan heavy cruiser, dengan persenjataan defensif dan misil ofensif besar P-700 Granit.Sistem P-700 akan dihilangkan untuk memperluas fasilitas aviasi di bawah dek, serta untuk mengupgrade sistem pertahanannya.


Spanyol (1)

Juan Carlos I (L61): berbobot 27,000 ton. Didesain secara khusu sebagai multipurpose strategic projection ship yang dapat beroperasi sebagai amphibious assault ship atau kapal induk STOVL tergantung kebutuhan misi dan memiliki fasilitas penuh untuk kedua fungsi tersebut termasuk sebuah ski-jump, well deck, dan area penyimpanan kendaraan yang dapat digunakan sebagai ruang hangar tambahan, diluncurkan pada 2008, dan diresmikan pada 30 September 2010.


Thailand (1)

HTMS Chakri Naruebet: kapal induk STOVL berbobot 11,400 ton yang berbasis desain kapal induk Spanyol Principe De Asturias. Diresmikan pada 1997. Pesawat STOVL AV-8S Matador/Harrier kebanyakan tidak dapat dioperasikan sejak 1999, dan dipensiunkan tanpa pengganti pada 2006. Kapal induk ini sekarang digunakan untuk kapal pesiar VIP kerajaan, operasi helikopter dan sebagai platform bantuan bencana.


United Kingdom (1)

HMS Illustrious: kapal induk STOVL berbobot 22,000 ton, diresmikan pada 1982. Awalnya ada tiga kapal sekelas, tetapi dua di antaranya dipensiunkan untuk penghematan anggaran. Operasi pesawat bersayap tetap reguler AL Kerajaan Inggris berhenti setelah Sea Harrier dan kemudian pesawat Harrier dari pasukan gabungan AU dan AL Kerajaan Inggris dipensiunkan untuk penghematan anggaran pada 2010. Kapal induk ini sekarang beroperasi sebagai Landing Platform Helicopter hingga Ocean kembali beroperasi setelah refit dan kemudian akan dijadikan sebagai museum pada 2014.


United States (10+9*)

Kelas Nimitz: sepuluh supercarrier bertenaga nuklir dengan bobot 101,000 ton. Kapal induk pertama diresmikan pada 1975. Sebuah kapal induk kelas Nimitz didukung dua reaktor nuklir dan empat turbin uap. Panjang kapal ini 333 m.

USS Peleliu (LHA-5)* adalah sebuah amphibious assault ship berbobot 40,000 ton. Merupakan kapal kelas Tarawa yang terakhir. Kapal ini telah digunakan selama masa perang dalam misi sekunder sebagai kapal induk kecil dengan 20 pesawat fighter AV-8B Harrier, setelah menurunkan muatan unit ekspedisi marinir mereka.

Kelas Wasp* merupakan kelas kapal yang terdiri dari delapan amphibious assault ship berbobot 41,000 ton. Kapal ini telah digunakan selama masa perang dalam misi sekunder sebagai kapal induk kecil dengan 20 pesawat fighter AV-8B Harrier, setelah menurunkan muatan unit ekspedisi marinir mereka..

(*Normalnya hanya dapat mengangkut beberapa Harrier. Peran utamanya adalah untuk mengangkut, meluncurkan dan mendukung pengangkutan dan penyerangan helikopter, tank, truk, meriam, marinir dan peralatan dari unit ekspedisi marinir yang diluncurkan.)



KAPAL INDUK MASA DEPAN

Beberapa negara yang saat ini memiliki kapal induk merencanakan kapal induk kelas baru untuk menggantikan yang sudah ada. Angkatan laut dunia secara umum melihat kapal induk sebagai capital ship masa depan yang utama.


China

Pada akhir Desember 2008 dan awal Januari 2009, terdapat berbagai laporan bahwa China membangun dua kapal induk bermesin konvensional dengan bobot mati 50.000 – 60.000 ton, yang kemungkinan akan diluncurkan pada 2015. Pada Desember 2010, State Oceanic Administration China mengumumkan bahwa kapal ini akan selesai dibangun lebih awal pada 2014. Sebuah kapal induk bertenaga nuklir akan diluncurkan sekitar 2020.

Menurut James Nolt, fellow senior dari World Policy Institute, New York, kemungkinan China akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan teknologi, pelatihan dan kemampuan operasional yang dibutuhkan untuk kapal induk yang efektif.

Pada 25 September 2012, NBCNews.com melaporkan bahwa pemerintah China meresmikan kapal induk pertamanya, Liaoning. Akan tetapi, kapal induk ini tidak dibuat oleh China, tetapi merupakan kapal Varyag yang laid down untuk AL Soviet pada 1988, sebagian dibuat di galangan kapal Ukraina. Kapal ini dibeli oleh China pada 1998 dalam bentuk peretelan badan kapal, dengan dalih sebagai kasino terapung, kemudian dibangun ulang dan ditarik ke China untuk penyelesaian akhir. Pada 24 November 2012, China mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya Liaoning berhasil meluncurkan dan mendaratkan beberapa pesawat fighter jet J-15.


Perancis

AL Perancis telah membuat rencana pengadaan kapal induk CTOL kedua untuk melengkapi Charles de Gaulle. Desainnya akan lebih besar, pada kisaran 65.000-75.000 ton, dan bukan bertenaga nuklir. Terdapat rencana untuk membuat kapal induk ini berjenis CATOBAR bersama AL Inggris (desain Thales/BAE Systems untuk AL Inggris adalah untuk kapal induk STOVL, tetapi dapat dikonfigurasi ulang menjadi CATOBAR.)

Pada 21 Juni 2008, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy memutuskan untuk menunda partisipasi Perancis. Dia menyatakan keputusan akhir untuk kapal induk Perancis akan diambil pada 2011 atau 2012. Inggris merencanakan dua pembangunan kapal induk akan terus berjalan dengan atau tanpa partisipasi Perancis.


India

Pada 2004, India setuju untuk membeli Admiral Gorshkov dari Rusia dengan harga 1.5 miliar dolar AS. Kapal ini kemudian diganti namanya menjadi INS Vikramaditya, dan diharapkan untuk bergabung dengan AL India pada 2008 setelah refit. Akan tetapi, akibat penundaan dan pembengkakan biaya, kapal induk ini sekarang dijadwalkan akan diserah terimakan ke India pada kuartal akhir 2013, dengan harga 2.35 miliar dollar AS.

India mulai pembangunan kapal induk kelas Vikrant dengan bobot 40,000-ton dan panjang 260-metre pada April 2005. Kapal induk baru ini akan membutuhkan biaya 762 juta dolar AS dan akan mengoperasikan MiG-29K, HAL Tejas versi AL, dan pesawat Sea Harrier bersama dengan helikopter buatan India HAL Dhruv. Kapal ini akan bertenaga empat mesin turbin dan dengan jarak jangkay 8.000 mil laut (14,000 km), membawa 160 opsir, 1,400 pelayar dan 30 pesawat. Kapal induk ini dibangun di galangan kapal pemerintah di Cochin dan dijadwalkan untuk diresmikan pada 2014.

Pada Desember 2009, Kepala AL Admiral Nirmal Verma menyatakan pada konfrensi pers, bahwa konsep kapal induk saat ini sedang dipelajari oleh Directorate of Naval Design untuk kapal induk buatan domestik yang kedua, IAC-2. Kapal induk ini bermesin konvensional dengan bobot mati lebih 50,000 ton dan dilengkapi dengan ketapel uap (bukan ski-jump seperti Vikramaditya dan IAC) untuk meluncurkan pesawat generasi keempat. Tujuannya adalah agar India memiliki total tiga kapal induk yang operasional, dengan dua kapal induk beroperasi penuh dan sisanya dalam refit. Tujuan ini akan meningkatkan efektifitas AL India secara keseluruhan. Rencana jangka panjang AL India adalah untuk memiliki enam kapal induk operasional


Russia

Berbicara di St. Petersburg, Russia pada 30 Jun 2011, Kepala United Shipbuilding Corporation Rusia, menyatakan bahwa perusahaannya diharapkan untuk mulai pengerjaan desain kapal induk baru pada 2016, dengan target awal konstruksi pada 2018 dan mulai operasional pada 2023. Beberapa bulan kemudian pada 3 November 2011, koran Rusia Izvestiya melaporkan bahwa rencana pembangunan AL saat ini termasuk pembangunan galangan kapal yang mampu membuat kapal dengan hull besar, setelah itu Moscow akan mulai membangun dua kapal induk bertenaga nuklir pada 2027. Juru bicara menyatakan bahwa satu kapal induk akan beroperasi dengan Armada Utarra AL Rusia di Murmansk dan yang lainnya dengan Armada Pasifik di Vladivostok.


Turki

Pada 16 Mei 2011, Turkish Under-secretariat for Defense Industries mengeluarkan sebuah Request for Proposal untuk akuisisi sebuah Landing Platform Dock dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional Pasukan AL Turki.

Proyek empat miliar dollar ini kemudian berubah menjadi desain, pengembangan dan pembangunan kapal induk non-nuklir dengan panjang 230 meter dan bobot 24,000 - 28,000 ton yang mampu mengoperasikan 12 hingga 20 pesawat F-35 VTOL, 700 pasukan, 60 MBT, helikopter serang dan helikopter angkut berat.

Bersama dengan perkembangan proyek, Under-secretariat for Defense Industries Turki diperintahkan untuk pengadaaan 20 F-35 varian VTOL sebagai tambahan dari 100+ F-35C yang kemungkinan akan dibeli oleh Turki.

Perusahaan Naval Turki merespon Request for Proposals dengan tiga pilihan:
1. Usaha gabungan dengan Shipbuilding Corporation China
2. Pembangunan domestik sendiri
3. Usaha gabungan dengan Navantia S.A. Spanyol

Keputusan siapa yang akan mendapatkan tender kapal induk akan diumumkan pada Januari 2013.

Pada Januari 2012, Turki melakukan pemesanan untuk 1 F-35A dan 1 F-35C pada Low Rate Initial Production batch. Dengan demikian, ini merupakan bukti bahwa Turki berniat untuk membali 100+ F-35 CTOL dan 20 F-35 varian kapal induk untuk usaha pengembangan kapal induk.


United Kingdom

AL Kerajaan Inggris sedang membangun dua kapal induk STOVL, kelas Queen Elizabeth, untuk menggantikan kapal induk kelas Invincible. Kapal tersebut diberi nama HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales. Mereka akan dapat mengoperasikan hingga 40 pesawat dan akan memiliki bobot mati sekitar 65.000 ton. Kapal induk ini akan mulai beroperasi pada 2020. Pesawat utama yang akan menjadi pelengkapnya adalah F-35B Lightning II, dan dengan awak sekitar 1450. Kedua kapal induk tersebut menjadi yang terbesar dari semua kapal perang yang pernah dibuat oleh AL Kerjaan Inggris.


United States

Armada AS saat ini, kapal induk kelas Nimitz Takan diikuti (atau akan digantikan) dengan beroperasinya kapal induk kelas Gerald R. Ford. Kapal induk baru ini diharapkan akan lebih otomatis untuk penghematan biaya perawatan dan pengoperasian supercarrier ini. Fitur baru utamanya adalah implementasi Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS) (yang menggantikan sistem ketapel uap) dan pesawat tanpa awak (UAV).

Dengan penonaktifan USS Enterprise pada Desember 2012 (jadwal pensiun 2013), armada AS terdiri dari 10 supercarriers. Pada 24 Juli 2007 House Armed Services Seapower subcommittee merekomendasikan tujuh atau delapan kapal induk baru (satu setiap empat tahun). Akan tetapi, perdebatan semakin dalam pada anggaran sebesar 12-14,5 miliar dolar (ditambah 12 miliar dolar untuk pengembangan dan riset) untuk kapal induk kelas Gerald Ford berbobot 100.000 ton, dibandingkan dengan anggaran 2 miliar dolar amphibious assault ships kelas America berbobot 45.000 ton yang juga mampu meluncurkan skuadron F-35B. Dua amphibious assault ships kelas America saat ini dalam masa pembuatan dan 12 direncanakan.