Tampilkan postingan dengan label PT Dirgantara Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT Dirgantara Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Oktober 2011

EADS CASA C-295



Role: Pesawat Transport/Pesawat Patroli Maritim 
Manufacturer: EADS CASA dan PT DI (untuk wilayah Asia Pasifik)
Penerbangan Pertama: 28 November 1997 
Dikenalkan: 2001 
Status: Aktif 
Pemakai Primer: AU Spanyol, Brazil, Polandia dan Portugis 
Jumlah: 85 
Dikembangkan dari: CN-235 


EADS CASA C-295 adalah pesawat transport militer taktis bermesin turboprop kembar yang diproduksi oleh Airbus Military di Spanyol. C-295 dikembangkan dari pesawat CN-235 yang sudah teruji. Pesawat ini mempunyai badan pesawat yang lebih besar dan mesin baru (2xturboprop PW127G) yang meningkatkan jarak operasional dan payload dibandingkan dengan pesawat taktis CN-235. Pesawat ini dapat melakukan misi taktis dan transpor pendukung logistik, airdrop, evakuasi medis, patroli maritim dan misi kemanusiaan.

Pesawat C-295 operasional pertama dikirimkan ke AU Spanyol pada 2001. Hingga sekarang, Spanyol, Polandia, Brazil, Swiss, Yordania dan UAE telah memesan pesawat C-295. Pesawat transpor C-295 yang berukuran-kecil akan menjadi pelengkap pesawat transport C-130 berukuran-medium.

Empat pesawat C-295 yang dipesan oleh UAE akan melakukan misi patroli maritim. Pada akhir April 2005, EADS CASA dan pemerintah Brazil menandatangani pesanan pembelian untuk 12 C-295 senilai 238 juta Euro untuk menggantikan armada C-115 Buffalo Brazil dan sebagai back-up armada C-130 Hercules yang dioperasikan oleh AU Brazil. C-295 diproduksi untuk Brazil di bawah program CL-X dengan pengiriman pesawat pertama pada 23 Oktober 2006.

Pada 4 Mei 2006, AU Finlandia mengumumkan keputusan dipilihnya C-295 sebagai pesawat transport taktis generasi barunya. Kebutuhan awal Finlandia adalah dua C-295 ditambah kemungkinan penambahan lima unit lagi untuk menggantikan armada Fokker 27 milik mereka.

Pada 18 Oktober 2007, AL Chili membeli 3 pesawat survey maritim C-295 dengan opsi tambahan 5 unit lagi. Pesawat ini akan digunakan untuk melakukan survey area maritim nasional dan untuk penjaga keselamatan manusia di lautan.

13 Mei 2009, Republik Ceko memesan empat pesawat transport militer C-295 dari Airbus Military. Pengirimannya diharapkan mulai dilakukan pada akhir 2009 dan selesai sebelum akhir 2010.

29 Oktober 2010, AU Mesir memesan 3 pesawat C-295 dengan pengiriman paling lambat pada tahun 2011

Pada 4 Agustus 2011, Ghana memesan 2 pesawat transport taktis C-295 dengan pengiriman paling lambat awal 2012.

Pada 26 Oktober 2011, PT Dirgantara Indonesia (DI) menandatangani kerja sama dengan Airbus Military Industry (AMI) untuk memproduksi pesawat CN-295, di kompleks PTDI, Bandung. Penandatanganan nota kesepahaman yang disaksikan Presiden Yudhoyono adalah kerja sama produksi, operasional, dan pemasaran antara PT DI dan Airbus Military. PT DI menjadi satu-satunya produsen sekaligus agen tunggal pemasaran pesawat CN-295 di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan $325 juta untuk pengadaan pesawat transport bagi TNI Angkatan Udara dengan pilihan CN-295. Diharapkan, pada semester I tahun 2014, akan selesai paling sedikit sembilan buah CN-295.



Desain dan Pengembangan

C-295 adalah pengembangan lebih lanjut dari pesawat Spanyol-Indonesia CASA CN-235 yang sukses secara komersial dengan badan pesawat yang lebih le bar, payload dengan kapasitas 50% lebih banyak dan mesin turboprop baru PW127G. C-295 melakukan penerbangan pertama pada 1998. Pesanan pertama datang dari AU Spanyol.

Pesawat diproduksi dan dirakit di fasilitas Airbus Military, di Bandara Udara San Pablo, Sevilla, Spanyol. Khusu untuk wilayah Asia Pasifik, PT DI akan memproduksi dan merakitnya di kompleks PT DI, Bandung, Indonesia

Sebagai pesawat transport taktis, C-295 menawarkan manuverabilitas tinggi dan kualitas tinggi untuk penerbangan altitude rendah. Sebagai tambahan, pesawat ini telah teruji dalam berbagai macam deployment seperti peluncuran rakit SAR, peralatan darurat dan parasut.

C-295 dilengkapi dengan peralatan proteksi diri seperti kokpit berlapis baja, radar warning receiver (RWR), missile approach warning system (MAWS), laser warning receiver (LWR) and chaff/flares dispensers.

C-295 memiliki hingga enam underwing store stations untuk pemasangan torpedo, misil anti-permukaan, ranjau, depth charges, pod pengintaian/jamming dan search lights.

Pesawat Patroli Maritim C-295 termasuk Fully Integrated Tactical System (FITS) milik Airbus Military untuk kontrol misi yang mengintegrasi berbagai macam sensor dan menenyediakan interface dengan sistem navigasi dan komunikasi taktis.

Versi ASW dari FITS telah menyelesaikan evaluasi operasional ekstensif, termasuk berpatisipasi dalam misi anti-submarine dan anti-surface (ASW/ASuW) pada latihan NATO, membuktikan maturitas dan kapasitas sistem misi MPA/ASW milik C-295.

Dengan selesainya sistem misi (mission system), C-295 dapat melakukan berbagai variasi misi survey:
- Anti-submarine Warfare (ASW)
- Anti-surface Warfare (ASuW)
- Signals intelligence (SIGINT)
- Imagery intelligence (IMINT)
- Survey di ZEE, lalu lintas maritim dan imigrasi ilegal.
- Penegakan hukum di lautan
- Search and rescue (SAR)

Meningkatnya permintaan para operator akan common platform (commonalitas) yang dapat dipakai untuk berbagai versi, disebabkan pentingnya keuntungan dan penghematan. Keuntungannya adalah spare part dan peralatan support darat (ground support equipment (GSE) yang sama, awak dan personel perawatan dapat dipakai bersama, pelatihan yang sama dll.

AU Portugal memilih C-295 sebagai common platform untuk memperbarui pesawat transport dan surveynya. Total 12 C-295 dioperasikan untuk melakukan misi transport militer, survey maritim, SAR, kontrol polusi maritim, dan fotografi udara. Hal ini membuktikan kemampuan dan versatilitas C-295.

Ramp belakang milik C-295 dapat mengangkut palet 2,24 x 2,74m, dan juga beban lain tanpa harus melepas konsol-konsol operator. Hal ini memfasilitasi support untuk unit lain, dan pengangkutan spare part dan peralatan darat untuk deployment C-295.

Alternatif lain adalah dengan penggunaan palletised mission systems, seperti pada pesawat C-235 milik penjaga pantai AS dan C-295 milik AU Portugal. Solusi ini meningkatkan fleksibilitas operasional armada pesawat C-295.



Sejarah Operasional

C-295 saat ini sudah beroperasi dengan Angkatan Bersenjata dari 11 Negara. Pada 4 Agustus 2011, 85 C-295 sudah dikontrak, 75 diantaranya aktif, dan 1 unit hilang dalam kecelakaan.

C-295 menjadi kandidat untuk Joint Cargo Aircraft (JCA) AB AS/AU AS yang akhirnya dimenangkan oleh L-3 Communications/Alenia team pada 13 Juni 2007. C-295 dianggap mempunyai resiko yang lebih tinggi oleh AB AS, karena pemakaian mode operasional baru yang harus memenuhi kebutuhan altitude dan jarak jangkau.

C-295 juga merupakan kandidat untuk mengantikan armada DHC-5 Buffalo milik AB Kanada dan Antonov An-32 milik AU Peru.

Bersama C-27J Spartan, pesawat ini menjadi kandidat untuk menggantikan armada Fokker F27 milik TNI AU. Yang akhirnya pada 26 Oktober 2011 perjanjian pembelian sebanyak 9 pesawat ditandatangani oleh kedua belah pihak. Untuk produksinya sendiri akan dilaksanakan oleh PT DI di Bandung.



Kecelakaan

Mirosławiec air accident: pada 23 Januari 2008, sebuah pesawat C-295 milik AU Polandia terbang dari Warsawa melalui Powidz dan Krzesiny ke Miroslawiec, mengalami kecelakaan selama mendekati 12th Air Base di dekat Miroslawiec. Seluruh awak dan penumpang sebanyak 20 orang dinyatakan tewas. Setelah kecelakaan seluruh pesawat C-295 milik AU Polandia dilarang terbang (grounded). Menteri Pertahanan Polandia, Bogdan Klich, memecat lima personel AU setelah investigasi kecelakaan, yang menyimpulkan adanya beberapa kesalahan yang menyebabkan kecelakaan tersebut.

Setelah investigasi, penyebab utama kecelakaan adalah hilangnya kewaspadaan spatial dan situasional awak pesawat secara tidak sengaja selama proses pendaratan dengan kondisi cuaca buruk, dengan awan rendah dan visibilitas rendah. Beberapa penyebab sekunder juga ditemukan selama investigasi, termasuk kurangnya skil kontroler lalu lintas udara dan kesalahan dalam mengarahkan dan mengatur pendaratan.



Varian

AEW&C (foto: www.aviationnews.eu)

C-295M – Versi transport militer. Kapasitas 73 pasukan, 48 paratroop, 27 strechers, lima palet 2,24 x 2,74m atau tiga kendaraan ringan.

C-295MPA/Persuader – versi patroli maritim dan anti-submarine warfare. Memiliki hingga 6 hardpoint.

AEW&C – Prototype versi airborne early warning and control dengan radar dome 360 derajat. Radar AESA dikembangkan oleh IAI dan memiliki sistem IFF terintergasi.



Operator

Algeria – memiliki enam C-295 untuk transport dan patroli militer
Brazil – memiliki 12 pesawat, dan diberi nama sebagai C-105A Amazonas, untuk menggantikan DHC-5/C-115 Buffalo.
Chili – membeli 3 C-295 MPA untuk menggantikan P-3ACH Orion. Chili memiliki opsi untuk menambah 5 pesawat lagi untuk menggantikan armada yang berisi 8 EMB-111 Bandeirante dan 3 C-212A.
Kolombia – memesan 4 C-295, pengiriman terakhir telah dilakukan pada April 2009
Republik Ceko – memesan 4 C-295M untuk menggantikan Antonov An-26. Pengiriman terakhir dilakukan pada akhir 2010.
Mesir – memesan 3 pesawat untuk transport taktis dan logistik, pengirimannya dimulai pada 2011.
Finlandia mengoperasikan 2 C-295M dan telah memesan tambahan satu pesawat (pesawat ini akan dilengkai dengan sistem ESM/ELINT yang didesain oleh Lockheed Martin, pengirimannya dilakukan pada 2013. Finlandia memiliki opsi untuk penambahan 4 pesawat lagi.
Ghana – memesan 2 C-295 dengan pengiriman yang akan dimulai pada 2012 untuk menggantikan Fokker F-27.
Indonesia – telah memesain 9 pesawat untuk transport taktis dan logistik. Produksi dan perakitannya akan dilakukan di PT Dirgantara Indonesia, perusahaan yang sama yang telah membuat CN-235
Yordania – memiliki 2 pesawat
Meksiko – AL Meksiko mengoperasikan 2 C-295. Dua selanjutnya dikirim pada akhir 2010. AU Meksiko telah membeli 5 pesawat. Dua pesawat pertama dikirim pada musim panas 2010.
Polandia – memiliki 12 pesawat untuk menggantikan Antonov An-26. Satu di antaranya mengalami kecelakaan pada 23 januari 2008. 11 di antaranya masih beroperasi di Kraków-Balice Air Base.
Portugal – memiliki 12 C-295, termasuk 5 C-295MPA Persuader untuk menggantikan C-212 Aviocar.
Spanyol – memiliki 13 pesawat (diberi nama T.21)



Spesifikasi (C-295M)

Karakteristik Umum
Awak: dua
Kapasitas: 71 pasukan
Payload: 9.250 kg
Panjang: 24,5 m
Bentang Sayap: 25,81m
Tinggi: 8,60m
Wing area: 59 m²
Berat Maksimal Lepas Landas: 23.200 kg
Mesin: 2 mesin Pratt & Whitney Canada PW127G Hamilton Standard 586-F (berbilah enam), masing-masing menghasilkan 1.927 kW (2,645 tenaga kuda)
Biaya Program: US $1,2 Miliar
Harga per-unit: US $22 juta

Performa
Kecepatan Maksimum: 576 km/jam (311 knot)
Kecepatan Jelajah (Cruise Speed): 480 km/jam (260 knot)
Jarak Operasional: 4.300 km
Jarak dengan payload Penuh: 1.333 km
Jarak Ferry: 5.220 km
Ketinggian Maksimal: 7.620 m
Jarak Lepas Landas (take-off run): 670 m
Jarak Pendaratan (landing run): 320 m



Sumber:
en.wikipedia.org
www.airbusmilitary.com
www.deagel.com
www.antaranews.com
nasional.kontan.co.id
www.fajar.co.id

Kamis, 24 Desember 2009

N-250




Pesawat N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia. berbeda dengan pesawat sebelumnya seperti CN-235 dimana kode CN menunjukkan CASA-Nusantara atau CASA-Nurtanio, yang berarti pesawat itu dikerjakan secara patungan antara perusahaan CASA Spanyol dengan IPTN. Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).

Pesawat ini merupakan primadona IPTN dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Namun akhirnya pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis. Namun untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing harga di pasar internasional, beberapa performa yang dimilikinya dikurangi seperti penurunan kapasitas mesin,dan direncanakan dihilangkannya Sistem fly-by wire.

Pertimbangan B.J. Habibie untuk memproduksi pesawat itu (sekalipun sekarang dia bukan direktur IPTN) adalah diantaranya karena salah satu pesawat saingannya Fokker F-50 sudah tidak diproduksi lagi sejak keluaran perdananya 1985, karena perusahaan industrinya, Fokker Aviation di Belanda dinyatakan gulung tikar pada tahun 1996.



Performa Pesawat

Gambar tiga sisi N-250Pesawat ini menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison. Pesawat berbaling baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km. (Pada pesawat baru, kapasitas mesin akan diturunkan yang akan menurunkan performa).

Berat dan Dimensi
Rentang Sayap : 28 meter
Panjang badan pesawat : 26,30 meter
Tinggi : 8,37 meter
Berat kosong : 13.665 kg
Berat maksimum saat take-off (lepas landas) : 22.000 kg
(Meski mesin N 250 diturunkan kemampuannya, dimensi tidak akan diubah)

Sejarah
Rencana pengembangan N-250 pertama kali diungkap PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia, Indonesian Aerospace) pada Paris Air Show 1989. Pembuatan prototipe pesawat ini dengan teknologi fly by wire pertama di dunia dimulai pada tahun 1992. Pesawat pertama (PA 1, 50 penumpang) terbang selama 55 menit pada tanggal 10 Agustus 1995. Sedangkan PA2 (N250-100,68 penumpang) sedang dalam proses pembuatan.

Saingan pesawat ini adalah ATR 42-500, Fokker F-50 dan Dash 8-300.

Summary
Tipe: Transpor Sipil
Produsen: IPTN/PT Dirgantara Indonesia
Perancang: IPTN
Pertama terbang: 10-08-1995
Diperkenalkan: 1989
Status: prototipe
Jumlah: dibuat 2 (1 sudah terbang , 1 belum selesai)


Sumber: wikipedia

CN-235






CN-235 adalah sebuah pesawat angkut kelas menengah bermesin dua buah turboprop. Pesawat ini dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol. Pesawat ini saat ini menjadi pesawat paling sukses pemasarannya dikelasnya.


Sejarah
CN-235 adalah pesawat hasil kerja sama antara IPTN atau Industri Pesawat Terbang Indonesia (sekarang PT.DI) dengan CASA dari Spanyol. Kerja sama kedua negara dimulai sejak tahun 1980 dan prototip milik Spanyol pertama kali terbang pada tanggal 11 November 1983, sedangkan prototip milik Indonesia terbang pertama kali pada tanggal 30 Desember 1983. Produksi di kedua negara di mulai pada tanggal Desember 1986. Varian pertama adalah CN-235 Series 10 dan varian up-grade CN-235 Series 100/110 yang menggunakan dua mesin General Electric CT7-9C berdaya 1750 shp bukan jenis CT7-7A berdaya 1700 shp pada model sebelumnya.


Varian :

PT.Dirgantara Indonesia:
CN-235-10 : Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A
CN-235-110 : Secara umum sama dg seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nacel komposit baru ,mempunyai sistem elektrikal, peringatan and environmental yang lebih dikembangkan lagi dibanding seri 100 milik CASA.
CN-235-220 : Versi Pengembangan. Pembentukan kembali struktur untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada leading-edges sayap dan rudder, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan dan penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum (MTOW=Maximum Take Off Weight)
CN-235 MPA : Versi Patroli Maritim, dilengkapi dengan Navigation System, Comunication System, dan mission system ( mulai mendekati fase operasional dan hadir dalam singapore airshow 2008 ).
CN235-330 Phoenix : Modifikasi dari seri 220, ditawarkan IPTN ( dengan avionik Honeywell baru, EW system ARL-2002 dan 16.800 kg MTOW ) kepada Royal Australian Air Force untuk Project Air 5190 tactical airlift requirement, tapi dibatalkan karena masalah finansial pada tahun 1998

EADS CASA :
CN-235-10 : Versi produksi awal (diproduksi 15 buah oleh masing-masing perusahaan), menggunakan mesin GE CT7-7A
CN-235-100 : Secara umum sama dg seri 10 tetapi menggunakan mesin GE CT7-9C dalam nacel komposit baru
CN-235-200 : Versi Pengembangan dengan pembentukan kembali struktur pesawat untuk bobot operasi yang lebih tinggi , pengambangan aerodinamik pada leading-edges sayap dan rudder, pengurangan panjang landasan yang dibutuhkan serta penambahan jarak tempuh dengan beban maksimum
CN-235-300 : Modifikasi CASA pada seri 200,dengan avionik Honeywell. Kelebihan lain termasuk pengembangan sistem presurisasi dan fasilitas instalasi opsional twin nosewheel.
CN-235 ASW/ASuW/MPA : Versi Maritim
CN-295 : Versi dengan badan lebih panjang, beban 50% lebih banyak dan mesin baru PW127G.


Spesifikasi (CN-235-100/110):

Karakteristik Umum:
Kru: 2(dua) pilots
Kapasitas: sampai 45 penumpang
Panjang: 21.40 m (70 ft 3 in)
Bentang sayap: 25.81 m (84 ft 8 in)
Tinggi: 8.18 m (26 ft 10 in)
Area sayap: 59.1 m² (636 ft²)
Berat Kosong: 9,800 kg (21,605 lb)
Berat Isi: 15,500 kg (16,500 kg Military load) ( lb)
Maksimum takeoff: 15,100 kg (33,290 lb)
Tenaga Penggerak: 2× General Electric CT79C turboprops, 1,395 kW (1,850 bhp) each

Kemampuan:
Kecepatan Maksimum: 509 km/j (317 mpj)
Jarak: 796 km (496 mil)
Ketinggian Maks: m ( ft)
Daya Menanjak: 542 m/min (1,780 ft/min)
Beban Sayap Maks: kg/m² ( lb/ft²)
Power/berat: kW/kg ( hp/lb)


Operator Militer:
Botswana Air Force
Brunei Air Force (1)
Chilean Air Force
Colombian Air Force
Ecuadorian Air Force
French Air Force
Gabonese Air Force
Irish Air Corps (2 x CN235MP)
Royal Malaysian Air Force (8 x CN235-220)
Moroccan Air Force
Pakistan Air Force (4 x CN235-220)
Panama
Papua New Guinea
Royal Saudi Air Force
South African Air Force
South Korean Air Force (20)
Thai Air Force (10 dipesan dari IPTN/DI)
TNI AU
Turkish Air Force
UAE Navy
Amerika Serikat: Coast Guard sbg HC-144A utk program Medium Range Surveillance Maritime Patrol Aircraft (MRSMPA)




Sumber: wikipedia