Tampilkan postingan dengan label Mitsubishi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitsubishi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Mitsubishi F-2




Pesawat Mitsubishi F-2 direncanakan sebagai pengganti Mitsubishi F-1 yang menua. Pesawat tempur mesin-tunggal F-2 (FS-X) mempunyai performa yang dapat setara dengan F-16 tetapi biayanya lebih tiga kali lebih mahal dari pada F-16 atau sama dengan F-15.

Pada oktober 1985, Agen Pertahanan mulai mempertimbangkan tiga opsi pengembangan untuk FSX yaitu pengembangan domestik, adopsi dari model domestik yang sudah ada, atau adopsi dari model asing. Akan tetapi agen ini sebenarnya lebih tertarik untuk melakukan pengembangan domestik. Riset dan pengembangan Agen Pertahanan dan Technical Research and Development Institute Jepang mengumumkan bahwa selain mesin, Jepang akan mengembangkan pesawat tempur sendiri dengan biaya sekitar $1 miliar. Akan tetapi pada akhir 1986, setelah konsultasi dan besarnya tekanan dari AS, Jepang mempertimbangkan untuk melakukan perjanjian ko-produksi dengan AS. Dan pada Oktober 1987, Dewan Pertahanan Jepang dan AS melakukan pertemuan resmi di Washington untuk membahas rencana kerjasama proyek re-model F-15 atau F-16.

Pada November 1988, AS dan JEpang setuju untuk melakukan pengembangan bersama pesawat tempur FS-X berdasarkan pesawat F-16 Block 40.

Setelah perjanjian kerjasama terjadi, banyak kritik hebat dari anggota kongres AS yang mengkhawatirkan tentang hilangnya kunci teknologi dan kepemimpinan teknologi AS, resiko komersialisasi Jepang dan kurangnya share proyek untuk AS. Hasilnya, pada 1989 AS meminta pengkajian ulang terhadap perjanjian yang sudah disepakati, melarang transfer teknologi dan AS akan menerima 40% share keuntungan dari pengembangan pesawat ini.

Kontroversi ini meninggalkan ketidakpuasan pada kedua belah pihak dan pelaku industri Jepang, karena pesawat yang didesain secara domestik oleh Jepang (FSX) ini akan jauh lebih superior dari F-16 yang akan dire-desain secara bersama oleh Jepang dan AS, sehingga mempersulit AS untuk melakukan negosiasi ulang. Para pelaku industri mengingatkan AS bahwa perjanjian yang ada sudah menguntungkan bagi AS.

Berbeda dengan perkiraan AS pada awal program bahwa FS-X merupakan modifikasi kecil dari F-16 Block 40, FS-X ternyata menjadi pesawat yang merupakan modifikasi besar dari F-16. Walaupun terlihat sama, FS-X mempunyai ukuran dan berat yang lebih besar dari F-16. FS-X mempunyai sayap yang 25% lebih lebar, bodi pesawat yang lebih panjang, dan ekor vertikal-horizontal lepih panjang. FS-X akan mempunyai mesin yang sama (F110) dengan versi terakhir pesawat F-16. FS-X juga akan dilengkapi dengan lima teknologi yang didefinisikan dalam perjanjian yaitu radar active phased array fire control, sistem tempur elektronik terintegrasi, sistem navigasi/referensi inersial, perangkat komputer misi dan material penyerap gelombang radar. Jepang juga mengembangkan komposit untuk bagian sayap FS-X.Program pengembangan FS-X mencapai produksi purwarupa pada April 1993.




Program FS-X ternyata sangat membantu perkembangan industri aerospace Jepang. Para karyawan proyek ini mendapat pengalaman berharga yang nantinya dapat diaplikasikan pada program pengembangan lain. Dengan membuat perubahan besar dari model F-16, Jepang telah memaksimalkan konsep dan teknologi domestik yang dimiliki, sehingga industri Aerospace mendapatkan peran penting dalam proyek ini. Hasilnya, Jepang akan mengurangi ketergantungannya terhadap suplay dari AS untuk militer Jepang di masa yang akan datang.

Pada 1995, AS dan Pemerintah Jepang percaya bahwa Jepang dapat memproduksi sekitar 50-130 pesawat. Setelah adanya perdebatan untuk mengurangi produksi menjadi 70-80 pesawat, akhirnya kabinet pemerintah menyetujui 130 pesawat F-2 pada Desember 1995. Tetapi akhirnya sekitar akan 200 F-2 diproduksi dan akan dikirim mulai 2000 sampai 2010.

Penerbangan pertama F-2 dilakukan pada 7 Oktober 1995. Kemudian pada tahun yang sama, Pemerintah Jepang menyetujui pemesanan 141 pesawat, tetapi tidak lama kemudian dikurangi menjadi 130, dengan perkiraan waktu mulai beroperasi pada 1999. Akan tetapi karena masalah sruktur pesawat, waktu awal operasionalnya ditunda hingga 2000. Dan karena wacana efisiensi biaya, pesanan dikurangi lagi menjadi 98 pesawat pada 2004.

Pada Oktober 2007, sebuah pesawat F-2B mengalami kecelakaan saat lepas landas dan kemudian terbakar di Landasan Udara Nagoy, ketika sedang dulakukan uji terbang sebelum diserahkan ke JSDF. Kedua pilot uji selamat dari kecelakaan dengan hanya sedikit luka. Kemudian diketahui penyebab kecelakaan itu adalah kesalahan pada sistem kabel.

Pada 12 Maret 2011, 18 pesawat F2 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Matsushima, Prefektur Miyagi, tersapu gelombang tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 9 SR. 18 dari pesawat tersebut tidak diperbaiki dan kemungkinan akan musnahkan/dibuang. Selebihnya, 6 pesawat akan diperbaiki dengan estimasi biaya 80M Yen.

94 pesawat terakhir selesai dibuat dan dikirimkan ke Kementrian Pertahanan Jepang pada 27 September 2011. Selain dikirim ke Pangkalan Udara Matsushima, pesawat juga dikirim ke Lapangan Udara Tsuiki. Pada saat itu, Mitsubishi Heavy Industries (MHI) mengumumkan bahwa produksi F-2 berakhir dan tidak ada lagi F-2 yang akan dibuat oleh mereka.




General characteristics
Crew: 1 (or 2 for the F-2B)
Length: 15.52 m (50 ft 11 in)
Wingspan: 11.13 m (36 ft 6 in)
Height: 4.69 m (15 ft 5 in)
Wing area: 34.84 m² (375 ft²)
Empty weight: 9,527 kg (21,000 lb)
Loaded weight: 15,000 kg (33,000 lb)
Max takeoff weight: 22,100 kg (48,700 lb)
Powerplant: 1 × General Electric F110-GE-129 turbofan
Dry thrust: 76 kN (17,000 lbf)
Thrust with afterburner: 120-125 kN (29,500 lbf)

Performance
Maximum speed: Mach 2.0
Range: 834 km on anti-ship mission (520 miles)
Service ceiling: 18,000 m (59,000 ft)
Wing loading: 430 kg/m² at weight of 15,000 kg (88 lb/ft²)
Thrust/weight: 0.89

Armament
20 mm JM61A1 cannon, plus maximum weapon load of 8,085 kg:
AAMs: AIM-9 Sidewinder, AIM-7 Sparrow, Mitsubishi AAM-3, Mitsubishi AAM-4 (from FY2010)
air-to-ground weapons include: ASM-1 and ASM-2 anti-ship missiles, various free-fall bombs with GCS-1 IIR seeker heads, JDAM
others: J/AAQ-2 FLIR

Avionics
Mitsubishi Active Electronically Scanned Array radar system including J/APG-1


Sebelumnya diposting pada 13 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Mitsubishi F1




Pesawat tempur Mitsubishi F1, yang similar dengan pesawat Jaguar, adalah versi tempur dari pesawat T-2 trainer. Kokpit belakang T-2 diubah menjadi tempat bahan bakar. Modifikasi lain termasuk penambahan dua tiang sayap dan tiang bodi pesawat dan penambahan meriam Vulcan 20mm beserta sistem avionik baru. F-1 dapat menyerang pesawat lain dengan jarak yang relatif dekat dan dapat digunakan dalam misi intersepsi dengan membawa misil AIM-9. Total sebanyak 77 pesawat telah dibuat.





Specifications
Type: F-1
Function: attack
Year: 1977
Crew: 1
Engines: 2 * 3300kg Ishikawajima-Harime TF40-801A
Wing Span: 7.88m
Length: 17.66m
Height: 4.39m
Wing Area: 21.18m2
Empty Weight: 6358kg
Max.Weight: 13674kg
Speed: 1700km/h
Ceiling: 15250m
Range: 1130km
Internal Fuel: 3054 kg
Drop Tanks: 833 L drop tank with 659kg of fuel for 126nm range
In-Flight Refueling: No
Payload: 2722kg
Sensors: J/AWG-12 radar, RWR, basic bombsite
Armament:
• Cannon: 1 20mm Vulcan
• Type 80 ASM
• Mk82 500lb bombs
• M117 750lb bombs
• LAU-69 rocket pods
• AAM-1
• AIM-9L


Diposting sebelumnya pada 12 Agustus 2008 di www.bluefame.com

Kamis, 13 Oktober 2011

Kawasaki OH-1,1996





TIPE:
Helikopter observasi bersenjata


PROGRAM:

Helikopter ini dikembangkan untuk menggantikan OH-6D milik JGSDF. Japan Defence Agency (IDA) memberikan dana sebanyak 2,7 milyar yen (US$ 22,5 juta) pada tahun fiskal 1992 untuk fase desain dasar helikopter yang kemudian sementara diberi nama OH-X. Pengajuan dana dikeluarkan oleh Istitut Riset dan Pengembangan Teknis JDA pada 17 April 1992. Kawasaki terpilih sebagai kontraktor utama (60% program) pada 18 September 1992, dengan Fuji dan Mitsubishi (masing-masing 20%) sebagai partner. Team Engineering Helikopter Observasi (OHCET) dibentuk oleh ketiga perusahaan ini, dan memulai desain awal pada 1 Oktober 1992. Maket dibuat dan dipublikasikan pada 2 September 1994 dengan nama Jepang Kogata Kansoku yang berarti [helikopter] observasi kecil yang baru. 

Program helikopter ini membuat enam purwarupa (empat untuk uji terbang, dan dua untuk uji darat); helikopter purwarupa pertama (32001) selesai dibuat di Gifu pada 15 Maret 1996 dan terbang pertama kali pada 6 Agustus 1996, diikuti purwarupa kedua pada 12 November. Nama OH-1 kemudian diberikan pada akhir 1996 untuk helikopter ini. Dua purwarupa XOH-1 pertama ini kemudian diserah-terimakan ke JDA pada 26 Mei dan 6 Juni 1997.
Purwarupa ketiga terbang pada 9 Januari 1997, pada saat itu dua purwarupa pertama sudah membuat total sekitar 30 dan 20 jam terbang. Purwarupa ketiga ini kemudian diserahkan ke JDA pada 24 Juni 1997.
Purwarupa keempat terbang pada 12 februari 1997 dan diserahkan pada 29 Agustus 1997.
Keempat purwarupa tersebut kemudian diberi nomor ulang pada 1999 dari 32001-04 menjadi 32601-04.

Produksi tiga OH-1 pertama didanai pada tahun fiskal 1997 dan dipesan pada 1998. Purwarupa pertama terbang dengan mesin yang lebih efisien bahan bakar TS1-10QT (menggantikan XTS1-10), pada 30 Maret 1998. Pada awal 1999, empat purwarupa telah membuat total sebanyak 450 jam terbang dan kemudian membuat 450 jam terbang selanjutnya pada akhir 1999, termasuk evaluasi oerasional di markas JGSDF Akeno. Produksi pertama OH-1 (32605) terbang pada Juli 1999 dan diserahkan ke JGSDF pada 24 Januari 2000 di Gifu.
Nama “Ninja” dilaporkan diberkan pada helikpter ini di tahun 2002, tetapi tidak dikonfirmasi secara resmi.


VERSI MUTAKHIR:
OH-1; Versi produksi awal dasar, seperti dijelaskan di atas.
Perkembangan Versi: Sedang dalam pengujian untuk penggunaan mesin yang lebih baik (kemungkinan LHTEC T800 atau R-R/Turbomeca/MTU MTR 390). OH-1Kai merupakan kandidat yang mungkin sesuai dengan persyaratan program AH-X dan diberinama AH-2, dengan badan pesawat berlapis plat baja di bagian depan dan tengah, mesin dan transmisiyang lebih baik, serta pengangkut senjata tambahan.


KONSUMEN
Total 20 helikopter, termasuk purwarupa dipesan pada tahun fiskal 2002, dan paling sedikit 12 helikopter diserah-terimakan pada akhir 2002. Japan Ground Self-Defence menyatakan membutuhkan sebanyak 150 hingga 200 helikopter ini.
“Hiko Jikkentai” (Skuadron Uji Terbang) dibentuk dengan empat helikopter produksi pertama pada Maret 2001 di Akeno. Selanjutnya beberapa helikopter hasil produksi diserahkan pada akhir 2002 ke Kasumigaura Bunko, Utsunomiya Bunko dan Kyoiku Shien Hikotai (di Akeno) yang kesemuanya merupakan departemen dari Kuko Gako (Sekolah Penerbangan) Angkatan Bersenjata Jepang.


BIAYA:
Pendanaan untuk pengembangan, purwarupa dan uji terbangg meliputi 2,5M Yen pada tahun fiskal 1992; 10,2M Yen pada tahun fiskal 1993; 50,1M Yen pada tahun fiskal 1994 dan 23,3M Yen pada tahun fiskal 1995. Biaya per unit dari produksi empat pesawat pertama adalah 1,924M Yen pada tahun fiskal 1997; 2,018M Yen pada tahun fiskal 1998, 2,229M Yen pada tahun fiskal 1999 dan 2,075 M Yen pada tahun fiskal 2000.




FITUR DESAIN:
Rotor utama empat-bilah dan sistem transmisi Kawasaki yang tak berengsel, tak berbantalan dan toleran-balistik 20mm; rotor ekor tipe-Fenestron dengan delapan bilah bersudut gunting (35 dan 55°); sayap-pendek yang dipasangi pengangkut senjata dan sistem peredam getaran aktif.


KONTROL PENERBANGAN:
Sistem augmentasi kontrol AFCS dan stabilitas terintegrasi (SCAS)


STRUKTUR:
Bilah dan pusat rotor diproduksi dari komposit GFRP, badan pesawat bagian tengah dan mesin dibuat oleh mitsubisi. Unit ekor, kanopi, sayap-pendek dan penutup mesin (berbahan baja) dibuat oleh Fuji. Sisa bagiannya dikerjakan oleh Kawasaki. Sekitar 37% airframe menggunakan komposit GFRP/CFRP.


RODA PENDARATAN:
Tipe roda pendaratan bagian ekor tidak dapat dimasukkan. Tersedia tipe roda maupun papan untuk roda pendaratan utamanya.


MESIN:
Mesin FADEC662kW kembar-dilengkapi mesin tuboshaft TS1-10QT Mitsubishi (mesin XTS1-10 awalnya dipakai pada purwarupa). Kemungkinan penggunaan mesin lain tidak dibatasi.
Transmisi mempunyai kemampuan “run-dry” 30-menit.
Setiap sayap dapat membawa tangki bahan bakar tambahan sebanyak 235 liter.


AKOMODASI:
Awak helikopter ini dua orang, dengan tipe tempat duduk tandem dan posisi pilot di depan.




SISTEM AVIONIK:
Penerbangan: AFCS dengan fungsi augmentasi dan penahan stabilitas; kontrol HOCAS dual.
Instrumentasi: Dua MFD lebar Yokogawa di setiap kokpit, terhubung dengan databus MIL-STD-1553B. HUD Shimadzu di kokpit depan.
Misi: turet terpasang-di-atap Kawasaki yang dioperasikan secara elektrik dikombinasikan dengan pencitraan termal Fujitsu. Kamera TV warna real-time NEC dan pengukur/pelacak jarak laser NEC.
Pertahanan Diri: jammer IR yang dipasang di punggungan dengan sistem dasar BAE AN/ALQ-144


PERSENJATAAN:
Empat misil ringan jarak-dekat Toshiba Tipe 91, dan misil udara-ke-udara pada tiang di bawah sayap untuk pertahanan diri.


Diterjemahkan secara bebas dari: www.aviastar.org

Mitsubishi A6M Reisen / ZEKE





Mitsubishi A6M yang terkenal, secara popular disebut dengan "Zero", adalah pesawat tempur kapal induk pertama di dunia yang mampu mengalahkan pesawat tempur "land-based" (pesawat tempur biasa, bukan dari kapal induk) sejaman yang dia hadapi. Karena kecerobohan inteligen Sekutu, pesawat ini mampu meraih superioritas udara intermediet di atas Hindia Timur (Indonesia?) dan Asia Tenggara.

Didesain di bawah kepemimpinan Jiro Honkoshi pada 1937 sebagai pengganti A5M yang usang, purwarupa A6M1 diterbangkan pertama kali pada 1939 cengan sebuah mesin 582kW Mitsubishi Zuisei 13 radial; produksi pesawat tempur A6M2 dengan dua senapan 20mm yang terpasang pada sayap dan dua senapan 7,7mm yang terpasang pada hisungnya, dilengkapi dengan mesin 708kW Nakajima Sakae 12 radial, dan dengan versi inilah AL Jepang menyerang Pearl Harbor, dan mendapatkan superioritas udaranya di Malaya, Pilipina dan Burma. Pada musim semi 1942, A6M3 dengan mesin "two-stage supercharged Sakae 21" mulai beroperasi. Pesawat versi ini membuang lipatan pada ujung sayapnya dari versi terdahulunya. Pertempuran di Midway mewakili puncak kejayaan tempur Zero; selanjutnya pesawat lincah ini menemukan tandingannya yaitu F6F Hellcat dan P-38 Lightning milik Amerika. Untuk membalas pesawat baru milik Amerika ini, A6M5 diluncurkan yang dilengkapi dengan mesin Sakae 21 dan sistem exhaustnya dikembangkan, menghasilkan kecepatan maksimal 565 km/jam. Banyak pesawat A6M5 (dan subvariannya) diproduksi melebihi pesawat jepang lain. 5 Pesawat jenis inilah yang menenggelamkan kapal induk St Lo dan merusak 3 kapal lainnya pada 25 Oktober 1944. Versi lainnya adalah A6M6 dengan mesin "water-methanol boosted Sakae 31" dan A6M7 yang bertipe "fighter/dive-bomber". Total produksi A6M adalah 10.937. Nama Zeke ditujukan untuk A6M, tetapi Zuke adalah nama untuk versi "float" (pesawat yang dapat mendarat di air), A6M2-N.





Spesifikasi

MODEL: A6M2
CREW: 1
ENGINE: 1 x Nakajima NK1F "Sakae 12", 705kW
WEIGHTS:
 Take-off weight: 2410-2796 kg
 Empty weight: 1680 kg '
DIMENSIONS:
 Wingspan: 12.0 m
 Length: 9.06 m
 Height: 3.05 m
 Wing area: 22.44 m2
PERFORMANCE
 Max. speed: 525 km/h
 Cruise speed: 330 km/h
 Ceiling: 10000 m
 Range w/max.fuel: 3050 km
 Range w/max.payload: 1850 km
ARMAMENT: 2 x 20mm cannons, 2 x 7.7mm machine-guns, 60kg of bombs




Sebelumnya diposting pada 5 Juni 2008 di www.bluefame.com